Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

12 Masalah Seputar Shalat Gerhana

Oleh: Syaikh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin – Rahimahullah-.

Gerhana matahari atau bulan (kusuf/khusuf) adalah fenomena alam yang luar biasa, kejadian ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang harus menjadi perhatian apalagi jika dikaitkan dengan hari kiamat.
Salah satu amalan yang disunnahkan adalah melakukan sholat kusuf atau khusuf, yaitu sholat yang dilakukan pada saat terjadinya gerhana matahari dan bulan, bahkan sebagian ulama berpendapat hukum sholat ini wajib. Meskipun jumhur (mayoritas) ulama mengatakan hukumnya sunnah muakkadah. Maka sungguh sangat tidak pantas di saat terjadinya gerhana, kita malah sibuk melakukan aktivitas lain dan meninggalkan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ini.

Berikut ini kami nukilkan beberapa pertanyaan penting yang diajukan kepada syaikh Syaikh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin Rahimahullah seputar pelaksanaan sholat kusuf, semoga bermanfaat.

🍃 *1. Sebab Terjadinya Gerhana*
Pertanyaan: Apa penyebab terjadinya gerhana?

Jawab: Terjadinya gerhana disebabkan oleh dua sebab: Sebab yang dapat dicerna oleh indera, dan sebab yang ditetapkan oleh syariat. Adapun sebab yang pertama: gerhana matahari (Kusuuf) terjadi jika posisi bulan berada di antara matahari dan bumi, maka posisi bulan ini menghalangi terlihatnya matahari dari bumi baik secara keseluruhan ataupun sebagian. Adapun gerhana bulan terjadi dengan sebab posisi bumi yang berada di antara bulan dan matahari, dan sinar bulan berasal dari matahari, maka ketika ia terhalangi oleh bumi maka hilanglah cahaya bulan baik secara keseluruhan ataupun sebagiannya.

Sedangkan sebab yang disebutkan oleh syariat, terdapat dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam- :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لا ينكسفان لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَإنماْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهماِ عِبَادَهُ
“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, gerhana pada keduanya tidak disebabkan oleh kematian dan kelahiran seorang manusia, akan tetapi Allah menjadikannya agar hamba-hambanya merasa takut“. (HR. Muslim No. 915)

🍃 *2. Hikmah Shalat Gerhana*
Pertanyaan: Apa hikmah disyariatkannya sholat gerhana?

Jawab: Hikmahnya dapat dilihat dari berbagai sisi:
Pertama: Ketaatan kepada perintah Nabi Shalallahu’alaihiwasallam, beliau telah memerintahkan kita agar bersegera melaksanakan sholat.

Kedua: Mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, karena beliau melaksanakannya.

Ketiga: Penyerahan diri dan mengadu kepada Allah, karena Allah menjadikan gerhana ini agar hamba-hambanya merasa takut terhadap hukuman yang sebab-sebabnya telah terjadi. Maka ketika terjadi gerhana manusia mengadu dan berserah diri kepada Allah agar hukuman yang diperingatkan Allah tidak terjadi ketika gerhana matahari atau bulan.


🍃 *3. Bila Langit Mendung dan Gerhana Terhalang Awan*
Pertanyaan: Jika awan menghalangi matahari padahal sebelumnya koran (media) telah menginformasikan akan terjadinya gerhana dengan idzin Allah pada jam sekian, apakah dalam kondisi ini tetap diperintahkan sholat gerhana meskipun tidak terlihat?

Jawab: Sholat gerhana tidak boleh dilakukan berdasarkan berita yang tersebar di koran (media), atau apa yang disebutkan oleh ahli falak jika gerhana tidak nampak karena langit mendung. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengaitkan hukum (melakukan sholat) dengan adanya ru’yah (melihat secara langsung). Beliau bersabda:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إلى الصلاة
“Jika kalian melihatnya maka segeralah melakukan sholat“. (HR. Muslim No. 911)
Dan bisa saja Allah tidak memperlihatkan gerhana pada satu tempat sementara di tempat lain terlihat, karena adanya hikmah tertentu yang Allah inginkan.

🍃 *4. Waktu Shalat Gerhana*
Pertanyaan: Kapan disyariatkan sholat gerhana? Apakah dimulai jika telah tertutup sebagian atau jika telah tertutup seluruhnya?

Jawab: Jika gerhana terjadi maka segera melakukan sholat, baik itu tertutup sebagian atau seluruhnya, dan jangan sampai terlambat. Karena Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melakukan sholat ketika melihatnya. Dan tidak dipersyaratkan menunggu hingga sempurna (tertutup), karena hal ini tidak dapat dipastikan. Dan perintah beliau “Jika kalian melihatnya” mencakup gerhana total atau tidak. Maka jika terlihat segera dikumandangkan :“Assholah Jaamiah” (mari melaksanakan sholat berjamaah) agar orang-orang segera berkumpul.

Yang paling afdhal dilakukan di masjid-masjid yang didirikan sholat jumat. Karena dapat memuat jumlah yang lebih banyak, dan segera dapat dilaksanakan. Olehnya itu para ulama telah menyatakan sunnahnya melaksanakan sholat gerhana bulan atau matahari di masjid jami’. Akan tetapi tidak mengapa jika dilakukan di setiap masjid penduduk setempat, karena hal ini bersifat fleksibel.

🍃 *5. Shalat Gerhana Bagi Wanita*
Pertanyaan: Apakah wanita boleh melakukan sholat gerhana sendirian di kediamannya? Mana yang lebih utama buat wanita?

Jawab: Seorang wanita boleh melakukan sholat gerhana di kediamannya, karena perintahnya bersifat umum.
فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بكم
“Maka sholat dan berdoalah hingga ia mulai tersingkap (cahaya) yang menutupi kalian“.
Jika ia melaksanakannya di masjid sebagaimana sahabat sahabat wanita (di zaman Nabi), maka ini juga merupakan hal yang baik.

🍃 *6. Tempat Shalat Gerhana*
Pertanyaan: Manakah yang sunnah, melaksanakan sholat gerhana di masjid atau di mushollah? Apakah dipersyaratkan untuk dilakukan secara berjamaah?

Jawab: Sunnahnya sholat gerhana ini dilakukan berjamaah di Masjid Jami’, semakin banyak yang melakukan semakin baik, akan tetapi di masjid yang lain pun tidak masalah.

Sholat ini pun jika dilakukan sendirian sebagaimana para wanita di kediamannya, maka hal ini juga dibolehkan, karena perintahnya bersifat umum “sholat dan berdoalah kalian”.

🍃 *7. Tatacara Pelaksanaan Shalat Gerhana*
Pertanyaan: Manakah pendapat yang rajih (paling kuat) tentang tata cara pelaksanaan sholat kusuf dan khusuf?

Jawab: Tata cara yang rajih adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha: Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi ‘alaihi wasallam melakukan sholat ini dua rakaat, setiap rakat terdiri dari dua kali ruku’, dua sujud, memanjangkan bacaan di kedua rakaat, berdiri, ruku’, duduk (diantara dua sujud), dan sujud juga dalam waktu yang lama. Akan tetapi hendaknya rakaat yang pertama lebih panjang dibandingkan rakaat yang kedua.

🍃 *8. Bila Bacaan Yang Panjang dalam Shalat Gerhana Demi Memberatkan Jama’ah*
Pertanyaan: Sebagaimana telah diketahui bahwa sunnahnya sholat gerhana dipanjangkan, tapi jika itu memberatkan jamaah, maka apa yang perlu saya lakukan?

Jawab: Lakukanlah yang sunnah, karena yang lebih memiliki rasa sayang kepada ummat adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi rasa sayangmu. Belia memperpanjang sholat gerhana ini dengan bacaan yang panjang, hingga sebagian sahabat yang meskipun kuat ada yang terjatuh karena lamanya berdiri. Dalam hadits Jabir -Radhiyallahu’anhuma- beliau berkata:
كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم في يوم شديد الحر، فصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بأصحابه، فأطال القيام حتى جعلوا يخرون
“telah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- di saat cuaca sangat panas, maka Rasullah dan para sahabat melaksanakan sholat, beliau memperpanjang (bacaan) di saat berdiri, hingga ada diantara mereka ada yang terjatuh dan sempoyongan (saking lama dan panasnya cuaca saat itu)”. (HR. Muslim No. 904).

Olehnya itu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam selesai sholat dan matahari sudah kembali terang, padahal ahli sejarah mengatakan bahwa gerhana yang terjadi pada masa itu adalah gerhana total. Dan lamanya sholat yang beliau lakukan kurang lebih sekitar tiga jam dengan memanjangkan bacaan dan gerakan sholat lainnya. Beliau membaca sebelum ruku’ yang pertama (pada rakaat pertama) seperti panjangnya surah al-Baqarah, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ’anhuma (HR. Muslim No. 907). Hingga Aisyah Radhiyallahu ’anha berkata: “Aku belum pernah sujud sebelumnya seperti lamanya sujud ini”. (HR. Bukhari No. 1051). Dalam hadits Abu Musa Radhiyallahu ’anhu beliau berkata: “Maka beliau segera bangkit melaksanakan sholat karena khawatir terjadinya kiamat, beliau mendatangi masjid lalu sholat dengan berdiri, ruku dan sujud yang sangat lama yang belum pernah aku saksikan sebelumnya”. (HR. Bukhari No. 1059).

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam tidak mengatakan “Karena saya kasihan kepada ummatku, maka sholatnya aku pendekkan dan ringankan”.

Maka lakukanlah sesuai sunnah, siapa yang sanggup mengikuti maka ikutilah, yang tidak mampu maka ia boleh melakukannya dan menyempurnakan dalam posisi duduk. Jika ia tidak tahan karena adanya tekanan buang hajat maka ia boleh meninggalkan jamaah.

Dan jangan karena adanya anggapan bahwa sebagian jamaah tidak mampu, lalu sunnah ini ditinggalkan, sungguh hal ini tidak benar.

🍃 *9. Adakah Surat Khusus Yang Dianjurkan Untuk Dibaca?*
Pertanyaan: Surah apa yang disyariatkan dibaca pada sholat gerhana?

Jawab: Tidak disyariatkan surah tertentu dalam sholat gerhana, tetapi yang disyariatkan adalah panjangnya bacaan. Akan tetapi jika ia misalnya membaca surah-surah yang kandungannya terdapat banyak peringatan maka waktunya sangat sesuai. Sebagian guru kami memilih untuk membaca surah al-Isra, karena di dalamnya terdapat ayat:

وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
Artinya: “Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang terdahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya (unta betina itu). Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti”. (QS. Al-Isra: 59)
Tetapi pada prinsipnya, bacalah yang mudah tetapi dengan bacaan yang panjang sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.

🍃 *10. Rukun Shalat Gerhana*
Pertanyaan: manakah yang termasuk rukun sholat dalam sholat gerhana, ruku’ yang pertama atau yang kedua (pada rakaat pertama). Apa yang ia lakukan jika tidak mendapati ruku’ yang pertama? Apakah ia harus mengulangi satu rakaat tersebut secara keseluruhan?

Jawab: Yang rukun (dalam sholat kusuf) adalah ruku’ yang pertama, maka jika ia tidak mendapatinya maka ia dihukumi telah ketinggalan satu rakaat, maka ia harus menambahkan satu rakaat yang sama setelah imam salam, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam :
فما أدركتم فصلوا، وما فاتكم فأتموا
“Apa yang kalian dapati ikutilah, dan apa yang terlewat sempurnakanlah”. (HR. Bukhari No. 635 & Muslim No. 602).

🍃 *11. Bila Masbuk (Terlambat) Pada Shalat Gerhana*
Pertanyaan: Apa yang harus dilakukan jika ia tidak mendapati ruku’ yang pertama pada rakaat yang kedua?

Jawab: “Jika ia tidak mendapati ruku’ yang pertama dari rakaat yang kedua atau dari rakaat yang pertama, maka ia tidak lagi mendapatkan rakaat tersebut. Jadi jika ia tidak mendapati ruku’ yang pertama pada rakaat yang kedua, maka ia tidak lagi mendapatkan sholat ini bersama imam. Akan tetapi jika imam telah salam, ia bangkit lalu melakukan sholat dua rakaat, setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku’ dan sujud.

🍃 *12. Bila Menyempurnakan Hanya Dengan Sekali Ruku dan Dua Sujud*
Pertanyaan: jika pada saat menyempurnakan rakaat yang tertinggal setelah imam salam, ia hanya melakukan satu kali ruku’ dan dua kali sujud, apakah ia harus mengulangi rakaat tersebut atau apa yang ia harus lakukan?

Jawab: jika ia tidak mengerti maka ia tidak perlu mengulangi rakaat tersebut, akan tatapi jika ia mengerti dan tahu akan tetapi ia menganggap hal ini remeh maka sholatnya tidak sah.
Semoga bermanfaat. (Diterjemahkan oleh Ustad Ahmad Hanafi, Lc, MA)
➡ *Sumber* 👉🏼 http://wahdah.or.id/12-masalah-seputar-shalat-gerhana/

➡ Mohon ketika menyebarkan, harap sertakan sumbernya dan *jgn dihapus* 🙏🏼
💖 Silahkan SEBARKAN dan semoga Allah memberikan PAHALA atas berbagi ilmu ini
📖 Dapatkan artikel islami lainya di 👉 http://wahdah.or.id/

💖 Daftar Broadcast Wahdah.Or.Id
Ketik nama lengkap - daerah - wi
Contoh:
Irhamullah - Yogyakarta - WI
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +6281383787678

👍 Facebook s.id/FBWahdah
📲 Instagram s.id/InstagramWahdah
📩 Telegram s.id/TelegramWahdah
🐣 Twitter s.id/TwitterWahdah
🌐 www.wahdah.or.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "12 Masalah Seputar Shalat Gerhana"