Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Mengapa Kampus Umum (UNM, UNHAS, POLTEK DLL) Menjadi Pencetak Dai?



Dulu, senior-senior sekaligus murabbi kami di Fakultas teknik UNM sering mengisi khutbah atau pun ceramah di masjid sekitar kampus. Mendengarnya berceramah dan melafadzkan dalil-dalil kita akan mengira dia adalah alumni pesantren, tapi ternyata rata-rata mereka adalah alumni SMK/SMA!
Mahasiswa dan orang2 sekitar kampus mengenal mereka sebagai ustadz. Sering juga ada warga sekitar kampus atau teman2 dari UKM datang malam-2 ke sekret minta tolong, “ustadz, ada yg mau diruqyah!”
Karena merekalah kampus serasa pesantren bagi kami. Mereka dengan sabar mendidik kami, mendengarkan bacaan al-Qur’an kami yang belepotan dan memperbaikinya, memotivasi kami utk hafal al-Qur’an, tidak hanya puas dengan hafalan qur’an sejak SD tidak nambah2. Darinyalah kami mengerti bahwa dalam berpakaian pun kita harus menunjukkan izzah, menampilkan sunnah. Mereka mencuci otak kami, dari kepercayaan syirik, tahayul, khurafat, jimat2 kepercayaan syirik lainnya .
Mereka mendoktrin kami bahwa potensi-potensi kami harus dimanfaatkan untuk Islam dan kaum muslimin.
Mereka mengajarkan kepada kami adab2 dan akhlak yg baik. Mereka menanamkan keberanian kepada kami namun bukan untuk pabbambangan na tolo, tapi keberanian untuk membela agama. Mereka mengajar kami akan arti ukhuwah, persaudaraan karena akidah, bukan karena suku, fakultas dan sebagainya. Makanya dulu ketika terjadi ‘perang’ antar fakultas –semoga ini tdk terjadi lagi-, kami adem-adem saja, kami tetap berangkulan dengan ikhwah dari fakultas lain, kajian antar fakultas juga tetap jalan.
Mereka melakukan semua tanpa mengharap balasan, kami juga tak punya apa2 untuk membalas mereka selain mendoakan semoga cepat dipertemukan dengan akhwat yg shalehah :-).
Setelah menyelesaikan kuliah, mereka menjalani berbagai pekerjaan, ada yg jadi guru, pengusaha, buat bengkel, dsb, tapi profesi mereka tetap adalah dai. Membina halaqah-halaqah tarbiyah, mengisi khutbah-khutbah Jumat, dan ceramah2 tarwih dsb.
Bahkan ada yg memfokuskan diri untuk menjadi dai, bersedia dikirim tugas dakwah ke daerah2. Halaqah-halaqah tarbiyah telah menjadikan kampus2 umum di Makassar semisal UNM, Unhas, PNUP dll, tidak hanya sebagai penghasil sarjana tapi juga penghasil dai.
Namun tentu saja mereka bukan ustadz2 karbitan, sebab mereka telah digembleng dalam halaqah tarbiyah dan aktif menghadiri berbagai majelis ilmu. Mereka juga tidak kan berbicara tanpa ilmu, mereka hanya menyampaikan apa yg mereka ketahui dan telah dipelajari. “Sampaikan DARIKU meski SATU AYAT” ini prinsipnya.
Mereka sadar, dengan segala kekurangan ilmu syar’i yg mereka miliki namun mereka tidak boleh berhenti untuk sekedar mesholehkan diri (sholih linafshih ), tapi ada kewajiban di pundak mereka untuk turut memperbaiki umat, mengajak orang lain kepada kebaikan (mushlih lighairih).
Umat terbaik akan diraih jika kaum muslimin menyadari akan hal ini, mereka semua harus berperan dalam perbaikan ummat apapun profesi mereka. (Lihat surah Ali Imran ayat 110). Dakwah terlalu berat jika dibebankan hanya kepada segelintir ustadz lulusan Perguruan Tinggi Islam.
Makanya sungguh naif jika ada yang merasa bahwa yg paling berhak berdakwah adalah kelompoknya saja, yg patut diundang ceramah hanya ustadz afiliasinya saja. Kita berlindung kepada Allah dari perilaku hizbiyah seperti ini. Allahu Musta’an.
Sumber: Grub Whatsapp FSI RI UNM 18 Oktober 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengapa Kampus Umum (UNM, UNHAS, POLTEK DLL) Menjadi Pencetak Dai?"