Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Coretan Pena Aktivis Dakwah 11: Jalan Dakwah Penuh Dengan Ujian



Oleh: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis & Guru SMP IT Wahdah Islamiyah) 

Ujian dalam dakwah adalah sebuah kepastian yang akan terjadi, barangsiapa yang kemudian ingin bergabung dengan para pejuang dakwah lantas takut dan tidak mau menghadapi ujian dakwah. Maka lebih baik menarik langkahnya untuk maju dan mundur saja kebelakang.
Karena jalan dakwah bukanlah jalan yang bertaburan bunga-bunga dan kesenangan dunia.
Karena jalan dakwah dipenuhi dengan tantangan dan duri-duri yang siap menghadang kita.
Karena jalan dakwah di penuhi pengorbanan, tetesan keringat dan air mata
Karena jalan dakwah dipenuhi dengan tinkungan dan tanjakan yang siap membuat kita terjatuh dan mundur
Karena jalan dakwah membutuhkan kesabaran atas ocehan dan ejekan orang lain
Karena jalan dakwah ratusan ribu nyawa telah syahid dijalan Allah
Karena jalan dakwah engkau harus relah meninggalkan istrimu, harta dan pekerjaanmu.
Yakinlah, ujian dakwah itu akan menimpa siapa saja. Jangankan kita yang belum memiliki posisi yang jelas disisi Allah. Lihatlah Para Nabi dan Rasul,  merekapun yang telah mendapatkan kemuliaan dan posisi yang terbaik disisi Allah masih mendapatkan ujian. Nestapa Adam dan Hawa, Targedi Nuh dan Anaknya, Derita Ayyub, Fitnah yang menimpa Yuzuf hingga dipenjara, diusirnya Musa dari negerinya, begitupun Muhammad yang mengalami ulah kejahilan kaumnnya (diusir, difitna, dilempar dll). Yakinlah ujian itu pasti akan datang.
Ketika ikar itu telah tertancap dalam diri kita untuk menjadi pejuang dakwah. Maka bersiaplah untuk menghadapi ujian dalam dakwah. Maka sungguh aneh ketika para aktivis dakwah yang mendapatkan ujian lantas mereka mengambil langkah mundur, patah semangat dan tidak mau lagi berdakwah.
Ujian dakwah adalah bumbu-bumbu penikmat dalam perjuangan dakwah, adakalanya sebuah masakan akan terasa enak dan lezat jika ditaburi dengan berbagai macam bumbu. Sayur itu tidak akan enak jikalau diberi garam saja tanpa diberi bumbu yang lainnya. Begitupulah dalam perjuangan dakwah, akan di isi dengan kesenangan, kesedihan, pengorbanan dll.
Jalan dakwah memang merupakan jalan yang penuh ujian, rintangan dan tantangan. Betapa tidak. Sebagai manusia saja, tanpa dikaitkan dengan urusan keimanan tidak pula dengan urusan dakwah, seseorang pasti berhadapan dengan ujian dan tantangan, apalagi sebagai manusia mukmin.
Allah ta'ala berfirman: "Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "kami telah beriman", dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta" (QS. Al-Ankanbut: 2-3).
Seorang aktivis dakwah tidak hanya mengatakan dirinya telah beriman dengan perjuangan dakwahnya melaingkan Allah akan mengujinya. Dengan adanya ujian dari Allah, keimanan seseorang akan diketahui siapa yang berjuang, berdakwah di atas kebenaran dan siapa yang dusta dalam perjungannya.
Secara garis besar ujian dakwah dapat dibagi dua: ujian berupa kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan serta ujian dalam bentuk penderitaan, kenestapaan, dan kesulitan. Allah azza wajalla telah mengingatkan hal ini dalam ayat-Nya,
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. 21:35)
Salah satu contoh konkrit kedua bentuk ujian ini tertera dalam firman-Nya,
“Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. 8:26)
Pada ayat ini Allah azza wajalla, menggambarkan bahwa kaum Muslimin semula diuji dengan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Lalu, Allah menolong dan memberikan kemenangan kepada mereka. Allah juga memberi mereka rezeki. Kemenangan dan rezeki itu adalah ujian untuk menakar kemampuan syukur kaum Muslimin. Banyak bentuk rintangan dan ujian yang di hadapi seorang pejuang dakwah diantaranya adalah:
1. Rongrongan Keluarga
Anak, isteri, suami, ayah atau ibu bisa menjadi aspirasi atau penambah semangat berdakwah. Tetapi di saat yang sama mereka juga dapat menjadi batu sandungan bagi seorang da’i. Mereka berpotensi memalingkan garis dakwah, mengurangi intensitas interaksi seseorang dengan dakwah atau bahkan menghentikan sama sekali gerak dakwah seorang da’i. 
Bisikan, tuntutan, atau ambisi-ambisi keluarga boleh jadi menyebabkan seseorang berat kaki untuk melangkah kaki untuk melaksanakan program-program dakwah. Begitu juga keadaan keluarga baik dalam sisi ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dapat juga menjadi faktor penghambat keterlibatan seseorang dalam aktifitas dakwah. 
Pada saat perang Tabuk, ada sahabat yang nyaris tidak turut serta dalam jihad karena ingin menikmati kehangatan bersama isterinya. Akan tetapi ia kemudian tersadar akan kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya dalam perjuangan. Allah azza wajalla mengingatkan kita:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 64:14-15)
2. Kedengkian Sesama Muslim
“Batu sandungan” juga bisa datang dari sesama Muslim atau bahkan da’i. Bentuknya, semisal sikap iri dan dengki atas keberhasilan yang dicapai oleh seorang da’i. Kata ‘batu sandungan’ sengaja saya beri tanda kutip karena hal itu tidak selalu berakibat buruk bagi orang yang didengki. Sebaliknya bagi si pendengki belum tentu menjadi hal yang produktif dan mengantarkan kepada apa yang menjadi keinginannya. 
Hadangan, kekejian, dan makar orang-orang Kafir. Sejak awal sejarah dakwah yang digulirkan oleh nabi-nabi sebelum Rasulullah, orang-orang kafir selalu berdiri sebagai penghadang dakwah. Untuk menghentikan laju dakwah, mereka melakukan berbagai upaya dari mulai rayuan hingga pembunuhan. Dalam Quran Allah banyak mengingatkan kita, para da’i tentang makar orang-orang kafir ini. Salah satu hikmahnya adalah agar kita senantiasa memiliki kesiapan mental saat menghadapinya. Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:
"Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya". (QS. 34:34)
Di ayat yang lain dinyatakan, Mereka menjawab:
"Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami" (QS. 36:18)

Allah juga menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti memusuhi dakwah. Sebagaimana Firman-Nya:
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. 2:217)
3. Kekejaman Penguasa Zalim
Penguasa zalim juga memiliki andil dalam merintangi dakwah. Baik dia penguasa kafir maupun penguasa yang mengaku Muslim. Dalam sejarah tercatat para ulama yang menjadi korban kekejaman penguasa zalim. Sekedar menyebut contoh, Sa’id Bin Zubair sang ulama tabi’in, Imam Ahmad, Imam Ibnu Taimiyyah. Dan tidak perlu jauh-jauh, di negeri kita sendiri hal itu dapat kita saksikan dan rasakan. Di tahun 80-an tidak sedikit para da’i yang dijebloskan ke bui dan diintimidasi saat mengingatkan khalayak terhadap bahaya kristenisasi atau saat menentang cara-cara paksa program Keluarga Berencana. Bahkan hingga hari ini, masih terjadi penangkapan terhadap da’i yang oleh sebagian kalangan dinamakan aksi pemberantasan terorisme.
Tentu saja masih banyak jenis dan bentuk rintangan dan ujian di jalan dakwah. Karenanya, ingin berdakwah tapi tidak mau berhadapan dengan kesulitan? Maka silahkan memilih jalan yang lain. Karena jalan yang merupakan jalan menuju syurga-Nya Allah adalah jalan yang dipenuhi ujian. Maka bersiaplah dengan dengan datangnya ujian dakwah kepada kita.
Allahu a’lam
Akhukum,
Muhammad Akbar bin Zaid
Makassar, 26 Oktober 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Coretan Pena Aktivis Dakwah 11: Jalan Dakwah Penuh Dengan Ujian"