Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Coretan Pena Aktivis Dakwah 03: Di Jalan Dakwah, Kita Bersama

Dia pernah berdakwah di tempat yang terpencil. Ditemani istri. Dakwah yang penuh dengan tantangan. Bayangkan saja, listrik tidak aktif jika sudah larut malam. Sinyal HP tidak terjamah.
Namun, bersama istrinya, ia tetap semangat menebarkan dakwah.
Suatu saat, pulang dari berdakwah, motornya mogok. Ia mendorong dengan jarak yang sangat jauuuh. Keringat mengucur. Letih membersamai.
Ketika itu, ia pun teringat kisah perjuangan nabi. "Ujian para nabi, merekalah yang paling berat," itulah pesan yang kerap ia ingat. Bahwa saat kesulitan itu datang, ingatlah, ujian para nabi dalam dakwah, lebih berat. Kita belum seberapa. Ia pun kembali tegar.
Sepulang dari itu semua, ia pun lebih tenang, karena ada istri yang mendekap.
Itulah dunia dakwah. Yang mana dakwah adalah sebaik-baik perkataan.
Allah azza wajalla befirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushshilat: 33).
Namun, jangan lupa, dakwah penuh tantangan. Ada ujian di sana, ada kesabaran yang harus diamalkan. Namun, di balik itu semua, kadang ada sosok berarti yang kerap alpa. Siapa lagi kalau bukan istri?
Dialah menjadi motivator bagi seorang suami. Untuk terus memberikan suntikan motivasi. Saat-saat lelah menyapa, datanglah istri memberikan kehatangan. Walaupun itu hanya segelas teh. 
Karena bukan santapan menjadi ukuran, tapi kebersamaan. Saling mendukung dalam dakwah dan saling mendoakan. Itulah keluarga yang elok.
Karena itulah, Nabi shallallolahu alayhi wasallam ditemani oleh Khadijah, Hafshoh, Zainab, Aisyah, Ummu Salamah,  dst. Mereka adalah Ummul Mukminin, yang kerap mendukung perjuangan nabi dalam tugas dakwah.
Olehnya itu, selaku keluarga muslim, hendaknya kita selalu bersama dalam kebaikan. Tidak saling membelakangi, tidak saling mencibir, atau berbagai perlakuan negatif.
Jangan ada ucapan saat suami berdakwah, "Nggak usah ke sana, amplopnya kecil." 
Astagfirulloh.
Namun, dalam dakwah, saling berjuang.
Bukan untuk mengayakan diri dalam dakwah, tapi mencapai visi-misi Islam. Sebagai rahmatallil 'alamin.
Elok, apa yang pernah dijawab oleh Najmuddin (asal Irak), saat ditanya, wanita yang bagaimana cocok baginya sebagai istri. Ia menjawab,
"Aku menginginkan wanita shalehah yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan akan melahirkan seorang anak yang ia didik dengan baik hingga menjadi seorang pemuda dan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”
Beberapa hari setelah itu, Najmuddin duduk bersama salah seorang syaikh di masjid di kota Tikrit berbincang-bincang. Lalu, datanglah seorang wanita memanggil syaikh tersebut dari balik tabir.
Najmuddin mendengar pembicaraan sang syaikh dengan si wanita. Syaikh itu berkata kepada si wanita, 
“Mengapa engkau menolak pemuda yang aku utus ke rumahmu untuk meminangmu?”
Wanita itu menjawab, “Wahai syaikh, ia adalah sebaik-baik pemuda yang memiliki ketampanan dan kedudukan, akan tetapi ia tidak cocok untukku.”
“Lalu apa yang kamu inginkan?” tanya syaikh.
Ia menjawab, “Tuanku asy-syaikh, aku menginginkan seorang pemuda yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan aku akan melahirkan seorang anak darinya yang akan menjadi seorang ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”
Allohu akbar.
Diksi Najmuddin dan si wanita itu, sama. Pilihan katanya sama. Visi-misi mereka berdua kembar.
Singkat cerita, akhirnya mereka pun menikah. Maka, Allah mengaruniakan seorang putera kepada Najmuddin yang akan menjadi sosok ksatria yang bakal mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin. Ketahuilah, ksatria itu adalah Shalahuddin al-Ayyubi.
Itulah semua barokah dari visi misi keluarga yang mengedepankan tegaknya kalimat tauhid dan tegaknya Islam di muka bumi.
Bagaimana? Sudah siap berjuang bersama keluarga?
🖊Akh Abu Abdirrahman

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Coretan Pena Aktivis Dakwah 03: Di Jalan Dakwah, Kita Bersama"