Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Apakah Manusia Memiliki Kehendak Atau Semua Kehendak Allah?

Wahai Kaum Muslimin, Allah Tidak Pernah Memaksa seseorang. Allah Telah Menciptakan Kebaikan &  Keburukan, Serta Menggantungkan Balasan Pada Keduanya. Kita tidak Pernah dipaksa Untuk Berbuat Buruk dan Tidak Pernah dipaksa Berbuat Kebaikan. Allah Cuma Ingatkan, Bertakwalah Kamu,Amanah, Ibadah,Apa saja Kebaikan yang Allah Perintahkan, maka itu baik..Allah Sudah Suruh, Allah janjikan pahala. Allah Janjikan Surga. Selesai. Siapa yang Mau kerjakan silahkan.
Yang Mau sholat, Boleh. Adakah Saudaraku yang bisa Menahan kita saat Adzan Dikumandangkan kita tidak sholat, Tidak Ada. Adakah tangan Dari Langit Turun. yang menarik tangan Kita untuk Sholat,  Tidak ada. Kita Bebas Memilih.
Allah Larang Syirik,Zina,Riba,Musik,Khamr,Ini itu,Dilarang. Tapi Allah tidak pernah Tahan kita,dipegang tangan Kita, Tidak boleh zina. Dibiarin. Tapi ini Haram Hukumnya,Berdosa, Nanti Kamu masuk neraka kalau melakukannya. Allah berikan Kebebasan. Tidak ada paksaan disini..
Jadi Allah Hanya Memberikan Sinyal, Makanya Pada Hari kiamat,Hati-Hati Saudaraku Sekalian. Semua orang yang Masuk Neraka, Wa Na'udzubillah Akan Mengakui Keadilan Allah. Dia Bilang Pantas saya masuk karena Allah tidak Pernah Suruh Berzina,Tidak Pernah Suruh Minum Khamr. Dia yang Lakukan. Allah sudah Ingatkan Haram ini Hukumnya. Maka dia tahu sendiri Perilakunya.
Apakah Manusia Memiliki Kehendak Atau Semua Kehendak Allah?
Firman Allah:
“Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” [QS. Al-Kahfi: 29]
“Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” [QS. At-Takwir: 27-28]
Firman Allah:
“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” [QS. Al-Anfal: 17]
Firman Allah:
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” [QS. Yunus: 99]
Firman Allah:
“Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya." [QS. Al-An’am: 149]
Firman Allah:
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat.” [QS. Hud: 118]
Sesungguhnya setiap manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari takdir Allah azza wajalla yang telah Dia tuliskan dalam ketetapan-Nya.  Takdir itu telah tertulis dalam lauh al-Mahfuzh lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya dunia. Ini dari satu sisi. Akan tetapi dari sisi amalan-amalannya, sesungguhnya manusia bukanlah makhluk yang dipaksakan oleh Allah sesuai kehendak-Nya saja. Akan tetapi manusia adalah makhluk yang Allah berikan kepadanya kehendak dan keinginan untuk memilih jalan yang ingin dipijakinya. Sehingga semua peristiwa yang terjadi pada dirinya adalah atas kehendaknya sendiri yang Allah kehendaki terjadinya. Dalam kata lain, manusia memiliki kehendak namun kehendaknya di bawah kehendak Allah azza wajalla.
Pembahasan ini, hakikatnya hampir sama dengan pembahasan-pembahsan sebelumnya yang berbicara mengenai ilmu Allah. Namun semua ini bagai satu paket yang nampaknya harus di bahas satu persatu agar kita bisa lebih memahami dalil-dalil syar’i yang dianggap musykil atau kontradiktif ini. Untuk memahami dalil-dalil ini perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
Pertama: Ayat-ayat yang disebutkan pada dalil pertama sesungguhnya menunjukkan tidak adanya paksaan untuk memeluk agama islam. Allah tidak memaksa setiap manusia untuk meyakini kebenaran agama islam. Dari sini kita mengetahui adanya kehendak bagi manusia yang digunakannya untuk menentukan jalannya sendiri. Kemudian ayat-ayat ini hanya menjelaskan ancaman dan peringatan bagi yang memilih kekufuran. Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:
“Allah telah memberikan kehendak kepada manusia yang dengannya ia mampu untuk beriman atau menjadi seorang yang kufur, memilih kebaikan atau keburukan. Siapa saja yang beriman maka ia telah memilih yang benar, sedang siapa yang kafir maka telah sampai padanya hujjah. Dan ini menunjukkan tidak adanya pakasaan untuk beriman sebagaimana firman Allah, “Tidak ada paksaan dalam agama, telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat.”[7] Perlu diketahui bahwa ayat yang berbunyi, “Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” bukanlah merupakan izin untuk berbuat kekafiran. Akan tetapi ayat ini hanya menunjukkan ancaman bagi siapa saja yang memilih kekufuran setelah nampak kejelasan yang sempurna padanya.” [Tafsir al-Karim ar-Rahman: 552-553]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata:
“Ayat ini menunjukkan ancaman yang sangat keras. Sehingga maknanya; “Katakanlah wahai Muhammad suatu kebenaran dari Rabbmu. Setelah engkau menyampaikan perkataan ini, maka urusannya terserah pada mereka. Barangsiapa yang menghendaki keimanan kepada Allah dan membenarkan dirimu maka berarti dia telah beriman. Dan barangsiapa yang kufur terhadap Allah dan mendustaimu maka berarti dia telah memilih kekufuran. Lalu Allah menetapkan ancaman yang sangat keras kepada mereka lalu berfirman, “Sesungguhnya kami siapkan bagi orang-orang zhalim” maksudnya kami telah mempersiapkan untuk orang-orang yang zhalim yang memilih kekufuran kepada Allah dan mengingkari-Nya dan juga mengingkari para Nabi telah disediakan neraka yang sangat dahsyat, “yang gejolaknya mengepung mereka.” [Fath al-Qadir: 857]
Al-Imam al-Hafizh Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Abi Hatim ar-Razi* rahimahullah dalam tafsirnya menukil perkataan Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ia berkata: Firman Allah:
“Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” maksudnya adalah ancaman dan peringatan.” [Tafsir Ibnu Abi Hatim; Surah al-KAhfi (Maktabah Syamilah)]
Al-Imam al-Hafizh Abu al-Fida Isma’il Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Ini merupakan ancaman dan peringatan yang sangat keras. Oleh karena itu Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menyiapkan untuk orang-orang zhalim” yaitu orang-orang yang berbuat kafir terhadap Allah dan kitab-Nya “Neraka yang gejolaknya mengepung mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir: 3/74]
Al-Imam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata:

“Jika kalian mau, maka berimanlah dan jika kalian mau maka kufurlah. Akan tetapi ketahuilah telah disediakan bagi kalian atas kekufuran kalian neraka yang gejolaknya mengepung kalian. Dan jika kalian beriman dan taat kepada-Nya, maka sesungguhnya bagi kalian sesuatu yang telah Allah sebutkan bagi orang-orang yang taat kepada-Nya.” [Tafsir ath-Thabari: 18/9-10]
Kedua: Sesungguhnya hidayah itu ada dua macam, yaitu hidayah taufik yang merupakan kekhususan Allah untuk memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya  dan hidayah al-irsyad yang dimiliki oleh para Nabi, pengikut-pengikuntnya, ulama dan para da’i untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan.
Hidayah kedua ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya dimana Allah tidak menginginkan setiap hamba-Nya terjerumus dalam kesesatan. Sehingga Dia mengutus pada setiap umat Rasul yang dapat mengarahkan mereka pada hidayah Allah, lalu manusia yang menentukan pilihan mereka sendiri dan Allah menghendaki pilihan-Nya itu terjadi. Lalu dengan ilmu Allah yang luas, yang Maha Mengetahui segala yang akan terjadi, maka Dia menuliskan takdir itu berdasarkan pilihan manusia itu sendiri yang telah dikehendaki-Nya untuk terjadi. Namun perlu ditekankan sekali lagi sebagaimana perkataan al-Imam Ibnu Abi al-Izz rahimahullah bahwa:
“Adapun ahlu sunnah, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah walaupun ia menakdirkan adanya kemaksiatan, Dia tidak mencintainya, tidak meridhainya dan tidak pula memerintahkannya. Justru Allah sangat amat membencinya, memurkainya, tidak suka dengannya dan melarang melakukannya. Ini adalah perkataan seluruh kaum salaf. mereka berkata, jika Allah berkehendak sesuatu itu akan terjadi dan jika tidak maka ia juga tidak akan terjadi.” [Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 173 jilid 1 cetakan Dar ar-Risalah al-Ilmiyyah]
Karena itu Allah azza wajalla menjadikan hal ini sebagai sesuatu yang ghaib, agar setiap manusia tidak duduk berpangku tangan dan menunggu takdirnya. Karena jika ia melakukan itu, maka berarti itulah takdir yang ditetapkan untuknya atas pilihannya sendiri.
Ketiga: Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa iradah (keinginan) Allah ada dua. Iradah sebelum terjadi atau tidak terjadi yang tidak dibarengi masyiah-Nya (kehendak-Nya) dan iradah yang dibarengi masyiah-Nya sehingga hal itu terjadi (al-iradatu al-Muqaranatu bil fi’l). Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.” [QS. Yasin: 82]
Dari penjelasan ini dapat kita simpulkan bahwa kata-kata “kehendak” dalam dalil kedua menunjukkan hak perogratif Allah yang agung, dimana segala sesuatu yang terjadi di alam ini merupakan sesuatu yang sesuai dengan ketetapan-Nya. Sebab jika Allah tidak menghendaki sesutu maka hal itu tidak akan terjadi.
Keempat: Yang menunjukkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi berdasarkan kehendak manusia sendiri adalah Allah azza wajalla tidak menerima hujjah seorangpun yang berhujjah dengan menggunakan takdir mereka. Sebab semua manusia diberikan kehendak untuk memilih lalu Allah menghendaki semua kehendak mereka dan terjadilah peristiwa yang di inginkan manusia itu. Allah berfirman sebagai pendustaan terhadap orang-orang kafir:
“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?" kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” [QS al-An’am: 148]

Kelima: Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Hal ini menunjukkan bahwa Allah memiliki hikmah atas segala yang Dia lakukan. Oleh karena itu Allah subhanahu wata’ala berfirman:
"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” [QS. Hud: 118-119/Tafsir Ibnu Katsir: 2/391].
Dari sini kita dapat menyimpulkan tidak ada ayat-ayat yang musykil atau dianggap kontradiktif justru saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.
Wallahu a’lam bishshowab…

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apakah Manusia Memiliki Kehendak Atau Semua Kehendak Allah?"