Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Mentadabburi Al-Quran Di Bulan Ramadhan


“Ketika mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Ath-Thur, seakan-akan hatiku terbang.” [HR. Ibnu Majah, shahih].
Itulah ungkapan salah seorang sahabat ketika mendengar ayat al-Quran, padahal saat itu ia belum memeluk Islam, namun keagungan dan kehebatan al-Quran mampu menundukkan hatinya yang bersih, sehingga mampu merespons pesan-pesan yang dikandungnya. Jangankan hati manusia, benda mati sekalipun seperti gunung, bila al-Quran diletakkan di atasnya, niscaya akan tunduk dan berguncang karena takut kepada Allah, sebagaimana Dia sinyalirkan dalam surat al-Hasyr ayat 21.
Pernahkah hati kita merasakan takut dan penyesalan yang amat sangat, ketika membaca ayat tentang ancaman dan siksa bagi para pelaku dosa dan maksiat? Atau merasakan kegembiraan dan ketenangan di saat membaca ayat-ayat tentang surga, pahala yang besar, serta luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya yang taat?
Dua keadaan di atas bila terjadi karena kejujuran, sering kali menjadikan mata berlinang tangisan, jiwa tenang serta hati tenteram. Inilah rahasia dan buah tadabbur al-Quran. Maha benar Allah yang telah memerintahkan tadabbur, karena hanya dengan tadabburlah segala kemuliaan, keagungan dan keberkahan alQuran bisa diraih.
Adalah kerugian yang sangat besar bagi orang yang sakit dan memiliki obat namun ia tidak bisa menggunakannya, atau orang yang sedang tersesat dan ia memiliki peta petunjuk namun ia tidak memahami penggunaannya, lebih-lebih orang yang sedang resah dan gundah, pergi kesana kemari untuk menghilangkan keresahan dan kegundahannya, padahal ia memiliki penawar namun ia tidak bisa memanfaatkannya.
Itulah gambaran orang yang membaca atau mendengarkan al-Quran namun tidak mentadabburi dan mengamalkannya, sehingga al-Quran tidak berfungsi sebagai petunjuk kehidupan, penasihat dalam kesalahan dan kelalaian, penawar segala penyakit, serta sumber ketenangan hati dan ketenteraman jiwa. Allah menyindir keadaan mereka seperti keledai yang membawa buku-buku, namun si keledai tidak mampu memanfaatkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Quran, dan Allah akan menghinakan selain mereka dengan Al-Quran(juga)." [HR. Muslim]
Mengangkat derajat sebuah kaum karena mereka memahami dan mengamalkan al-Quran, dan menghinakan kaum yang menyianyiakan al-Quran.
Pengertian tadabbur
Tadabbur al-Quran adalah usaha untuk memahami makna lafal-lafalnya, serta merenungkan kandungannya, agar hati menerima nasihat-nasihatnya, jiwa menjadi takut, dan dada menjadi lapang untuk beramal saleh.
Dari pengertian di atas bisa disimpulkan, bahwa tadabbur adalah segala kiat dan usaha yang bisa membantu dalam proses merespons setiap pesan yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran, sehingga al-Quran berpengaruh dalam kehidupan seseorang, dan ia terpengaruh oleh nasihatnya ketika lalai, mendapatkan petunjuknya di saat tersesat, meredam keresahan dan kegundahannya, serta penawar segala penyakit yang menimpanya.
Tadabbur al-Quran membutuhkan usaha dan kiat yang tepat agar proses tersebut berjalan dengan baik dan membuahkan hasil. Di antara kiat-kiat mudah dalam tadabbur al-Quran adalah:
1. Wajib meyakini bahwa dengan al-Quran kita akan hidup, mendapatkan bashirah (ilmu dan hikmah) serta petunjuk, tanpanya kita laksana mati, buta akan kebenaran, dan berada dalam kesesatan.
Seorang muslim yang membaca al-Quran hendaknya harus memiliki keyakinan seperti ini sebelum membaca ayat-ayat atau surat yang ada di dalamnya. Sebab itulah Allah Ta'ala berfirman dalam surat Thaha yang artinya:
"Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." [QS. Thaha: 123-124]
Untuk menjaga keyakinan di atas agar tetap ada setiap kali akan membaca al-Quran, dianjurkan untuk senantiasa mengingat keagungan al-Quran, misalnya dengan mengingat sifat-sifat dan fungsi al-Quran. Ia adalah alHaq (kebenaran), al-Huda (petunjuk), al-Quran merupakan suatu ilmu, al-Burhan (bukti kebenaran), al-Muhaimin (penjaga atas kitab-kitab sebelumnya), al-Barakah (suatu keberkahan), al-Mau'izhah (peringatan/pelajaran), asySyifa' (obat penyembuh), at-Tadzkirah (peringatan), an-Nuur (cahaya), ar-Rahmah (rahmat), ash-Shidq (kebenaran), al-Mushaddiq (yang membenarkan), al-'Aliy (yang tinggi), alKariim (yang mulia), al-'Aziz (yang agung), al-Majiid (yang agung), al-Furqan (pembeda antara yang haq dan yang batil), Bashaair (pedoman), al-Quran telah muhkam (dimudahkan pemahamannya), Mufashshal (diperjelas ayat-ayatnya), ayat-ayatnya menakjubkan, ia adalah al-Balaagh (petunjuk), Ia adalah al-Basyiir (pemberi kabar gembira), sekaligus sebagai an-Nadziir (suatu peringatan), ia adalah al-Bayaan (keterangan), dan at-Tibyaan (pemberi penjelasan).
Mengetahui dan mengingat sifat-sifat al-Quran di atas akan meningkatkan keyakinan akan kebutuhan kita terhadap alQuran dalam kehidupan ini, dan sungguh adalah kerugian yang sangat besar bagi siapa saja yang berpaling dari kitab suci yang mulia ini.
2. Memelihara dan memperbaiki hati
Antara tadabbur al-Quran dan hati memiliki hubungan yang sangat erat. Qalbun salim(hati yang selamat dan sehat) adalah syarat agar ayat-ayat yang dibaca atau didengar bisa ditadabburi. Lebih jauh dari itu, ternyata ada beberapa alasan yang sangat kuat, mengapa keberhasilan tadabbur sangat tergantung kepada hati, di antara alasan-alasan tersebut adalah:
a.      Semua perintah al-Quran, pada asalnya ditujukan kepada hati. Allah berfirman yang artinya:
“Dan sungguh (al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas." [QS. Asy-Syu'araa': 192-195]
Allah memilih kalimat"'ala qalbika/ke dalam hatimu", dan tidak berfirman bahwa al-Quran diturunkan kepada pendengaran, penglihatan, otak atau lainnya, akan tetapi ia diturunkan ke dalam hati, dan ini sangatlah jelas.
b.      Pengaruh terbesar dari al-Quran adanya di dalam hati
Kebaikan terbesar yang didapatkan oleh orang yang senantiasa memperhatikan dan menghayati al-Quran adalah kelembutan dan kesucian hati. Sebaliknya, penyakit terbesar yang menimpa orang yang berpaling dari al-Quran adalah kematian dan kerasnya hati.Sebab itu, nasihat qurani hanyalah bisa diterima dan dilakukan oleh orang yang memiliki hati yang menghayati al-Quran, atau orang yang berusaha memperbaiki keadaan hatinya dengan al-Quran, sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya:
“Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya." [QS. Qaaf: 37]
c.      Tujuan utama al-Quran: Tadabbur (penghayatan) hati terhadap ayat-ayatnya. Allah Ta'ala telah menjelaskan hikmah diturunkannya alQuran ini dalam firman-Nya yang artinya:
"Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." [QS. Shaad: 29] 
Huruf "lam" dalam lafaz "liyaddabbaruu" adalah "lam 'illah” (lam yang berfungsi sebagai penjelas sebab).Oleh karena itu, hal ini bermakna bahwa al-Quran tidak akan menjadi sumber keberkahan secara sempurna pada diri seseorang kecuali jika ia melakukan tadabbur ketika membacanya. Allah juga telah berfirman yang artinya:
"Maka tidakkah mereka menghayati al-Quran ataukah hati mereka sudah terkunci?" [QS. Muhammad: 24]
Ayat ini hanya memberikan dua pilihan, bisa menghayati al-Quran atau jika tidak, maka itu tanda banyaknya kunci yang telah menutup hati.
3. Mengetahui trik yang tepat untuk membaca al-Quran
Cara yang tepat dalam membaca al-Quran adalah tartiil yaitu secara perlahan-lahan dan tidak terburu-buru. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika menjelaskan makna tartil, beliau berkata: “Hendaknya membaca dua ayat, atau tiga ayat lalu berhenti (untuk menghayati maknanya –pent), dan tidak membacanya dengan cepat."
Cara yang demikian sangat dianjurkan dalam al-Quran, dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Ummu Salamah radhiyallahu 'anha menyifati bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Bahwa bacaan beliau adalah bacaan (yang bertujuan memberikan) penafsiran, membacanya perlahan kata demi kata.” [HR. Tirmidzi, lemah]
Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata: "Saya bepergian bersama Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dan ia selalu shalat malam selama setengah malam, dengan membaca al-Quran kata demi kata (perlahan-lahan), lalu ia menangis sehingga terdengar suara tangisannya.” [HR. Al-Marwazi dalm Mukhtashor Qiyamul Lail]
Wahai pembaca al-Quran, seharusnya seperti inilah bacaan al-Quran kita, bacaan yang mengharukan, sekaligus indah, pelan, dan tidak tergesa-gesa.
4. Mulai membaca dan tadabbur surat-surat Al-Mufashshal (bagian akhir al-Quran yang dimulai dari surat Qaaf sampai surat an-Naas)
Tentang metode ini, disampaikan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha dalam hadits sebelumnya ketika beliau berkata: "Sesungguhnya awal-awal yang diturunkan dari al-Quran adalah surat-surat dari Al-Mufashshal (dari surat Qaaf sampai an-Naas), sebab di dalamnya ada penjelasan tentang surga dan neraka…”. Juga ucapannya: ”Akan tetapi (di antara ayat yang awal-awal) diturunkan: "… Hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." [QS. Al-Qamar: 46], ayat ini diturunkan di Mekkah sedangkan saya waktu itu masih kecil yang suka bermain-main. Kemudian tidaklah surat al-Baqarah dan an-Nisa' (yang mengandung hukum halal haram –pent) diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecuali saya telah bersama beliau (di Madinah).” [HR. AnNasai dalam Sunan Kubra, shahih].
Adapun keistimewaan metode pembelajaran al-Quran yang diawali dengan surat-surat Al-Mufashshal ini adalah:
Pertama: Kandungan surat-surat al-Mufashshal inilah yang banyak mengokohkan keimanan dalam hati.
Sebab di dalamnya ada penjelasan tentang surga dan neraka, perkara tauhid/pengesaan Allah Ta'ala dalam Rububiyah maupun Uluhiyah-Nya, penetapan adanya Hari Kebangkitan dan hari kiamat, dan perintah untuk berakhlak mulia.
Jadi kandungan surat-surat inilah yang menjadikan hati teguh dan tenteram dengan keimanan, jika setelah ini mempelajari masalah hukum halal dan haram, maka yang ada hanyalah sikap mendengar dan taat terhadap perkara yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Tentunya keadaan para sahabat yang awal-awal masuk Islam bersama al-Mufashshal ini menjadi bukti nyata akan keabsahan metode ini, yaitu ketika kandungan makna suratsurat Al-Mufashshal ini memberikan tazkiyah (penyucian) terhadap jiwa mereka, sehingga keimanan yang sebelumnya ada dalam hati mereka semakin teguh laksana gunung yang kokoh.
Kedua: Surat-surat al-Mufashshal lebih mudah dan cepat dipahami karena ia adalah muhkam (mudah dipahami), dan tidak ada ayat-ayatnya yang mutasyaabih (sulit dipahami) kecuali sedikit.
Ini diisyaratkan juga oleh Umar radhiyallahu 'anhu dalam ucapannya sebelumnya: "Jika salah seorang di antara kalian ingin belajar al-Quran, maka hendaknya memulai dari alMufashshal karena ia lebih mudah."
Juga ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma sebelumnya: "Saya telah menghafal Al-Muhkam pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam," lalu ia pun ditanya: "Al-Muhkam itu apa?", beliau menjawab: "Ia adalah al-Mufashshal.” [HR. Bukhari]
Jadi al-Mufashshal adalah surat-surat yang muhkam, berbeda dengan bagian lainnya dari al-Quran yang memiliki banyak ayat yang mutasyaabih. Ad-Darimi dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki puncak, adapun puncak al-Quran adalah surat al-Baqarah, dan segala sesuatu memiliki dasar (lembah), dan adapun dasar dari al-Quran adalah surat-surat al-Mufashshal." [HR. Ad-Daarimi, sanadnya hasan].
Apakah mungkin seseorang bisa sampai ke puncak tanpa melewati dahulu suatu dasar (lembah) yang begitu mudah?! Tadabbur adalah suatu usaha. Ya, usaha yang perlu terus diusahakan, dan setiap muslim harus selalu berusaha dan berlatih hingga tadabbur menjadi kebiasaan, seperti membaca atau mendengar al-Quran.
Cukup dengan memohon pertolongan, diiringi keinginan yang kuat dan kesungguhan serta istiqamah dalam menerapkan kiat-kiat di atas, dengan izin Allah tadabbur adalah sesuatu yang mudah, sebagaimana janji Allah:
“Sungguh telah kami mudahkan al-Quran untuk (dijadikan) peringatan (dengan membacanya, atau mentadabburinya).”

Baca Juga: Bulan Ramadhan Adalah Nuzul Al-Qur’an

Terimah Kasih atas kunjungan Ta' semoga artikel ini bermamfaat... @Wassalam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mentadabburi Al-Quran Di Bulan Ramadhan"