Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Khalid bin Sa'id bin Ash radhiallahu anhu.



Khalid bin Sa'id bin Ash dilahirkan di sebuah keluarga kaya dan mewah, dan termasuk kepala-kepala suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan. Khalid adalah seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara. Tapi yang sebenarnya, pada batinnya dan dalam lubuk hatinya, bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegembiraan. Suatu hari, Khalid yang sudah bangun itu masih berada di tempat tidurnya, baru saja mengalami suatu mimpi yang sangat dahsyat. Bahwa ia berdiri di bibir nyala api yang besar, sedang ayahnya dari belakang akan mendorongnya dengan kedua tangannya ke arah api itu dan bermaksud hendak melemparkannya ke dalamnya. 
Kemudian dilihatnya Rasulullah datang ke arahnya, lalu menariknya dari belakang dengan tangan kanannya yang penuh berkah hingga tersingkirlah ia dari bahaya jilatan api. Ia tersadar dari mimpinya dengan memperoleh bekal langkah perjuangan menghadapi masa depannya. Ia segera pergi ke rumah Abu Bakar lalu menceritakan mimpinya itu. Dan mimpi seperti itu sebetulnya tidak membutuhkan ta'bir lagi. Kata Abu Bakar kepadanya, "Sesungguhnya tak ada yang kuinginkan untukmu selain dari kebaikan. Nah, dialah Rasulullah SAW. Ikutilah dia !, karena sesungguhnya Islam akan menghindarkanmu dari api neraka!" 
Khalid pun pergilah menemui Rasulullah SAW, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang dakwahnya. Kata Nabi, "Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Dan engkau beriman kepada Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nya. Dan engkau tinggalkan penyembahan berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudharat dan tidak pula manfaat. " 
Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan Rasulullah dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun berucap, "Aku bersaksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah."
Pada waktu Khalid masuk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya kecuali empat atau lima orang, sampai dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari agama ini adalah salah seorang di antaranya putra Sa'id bin Ash, maka untuk Sa'id, peristiwa itu akan menyebabkannya menjadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy dan akan menggoncangkan posisinya sebagai pemimpin.
Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya, Khalid, lalu bertanya, "Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan membiarkannya mencaci tuhan-tuhan kita?" Jawab Khalid, "Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguhnya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya." Ketika itulah pukulan ayahnya secara bertubi-tubi menimpa dirinya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga.
Namun Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci, "Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman kepadanya!" Jelaslah sekarang untuk Sa'id, bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu, dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Makkah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panas menyengat. Sa'id memperlakukan putranya sedemikian rupa selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan, tanpa setetes air pun yang membasahi bibirnya. 
Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumahnya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara, baik dengan membujuk atau mengancamnya. Tetapi Khalid mematuhi kebenaran, "Aku tak ingin meninggalkan Islam karena suatu apa pun, aku akan hidup dan mati bersamanya!" katanya pada sang ayah. Maka berteriaklah Sa'id, "Kalau begitu enyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat. Demi Lata, kau tak bisa makan di sini!" "Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki," jawab Khalid. 
Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan dan kesenangan itu. Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pengorbanan dan mengatasi segala rintangan demi keimanan. Dan sewaktu Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya hijrah yang kedua ke Habasyah, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama teman-temannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ke-7 kenabian.
Mereka dapatkan kaum Muslimin telah membebaskan Khaibar. Khalid kemudian bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru. Di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membangun bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau pertempuran. Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini dan keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia fokus peliharaan dan penghormatan. 
Sebelum wafatnya, Rasulullah mengangkat Khalid menjadi gubernur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah. Ia kenal benar kelebihan Abu Bakar yang tak tertandingi oleh siapa pun. Tetapi ia berpendirian bahwa di antara kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan khalifah itu adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, misalnya Abbas atau Ali bin Abi Thalib. 
Pendiriannya ini dipegangnya teguh, sampai ia tidak berbaiat kepada Abu Bakar. Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat baiat dan tidak pula membencinya. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya. Belakangan pendirian Khalid bin Sa'id ini berubah. 
Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di masjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka ia pun membaiatnya dengan tulus dan hati yang teguh. Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria (Suriah), dan menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa'id, sampai dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara. Tetapi sebelum tentara itu bergerak meninggalkan Madinah, namun Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa'id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, sampai akhirnya Abu Bakar merubah keputusannya dalam pengangkatan ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq meringankan langkah ke rumah Khalid meminta maaf padanya dan menjelaskan pendiriannya yang baru. 
Abu Bakar menanyakan Sa'id ke kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah? Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjukkan kebesaran jiwa dan ketakwaannya. "Anak pamanku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya." 
Kemudian ia memilih sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah. Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Suriah, yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, ada seorang syahid yang mulia. Ketika kaum Muslimin mencari-cari para syuhada sebagai korban pertempuran, mereka menemukan jasad Khalid dalam kondisi tenang, diam, dengan seulas senyum tipis.


Sumber: Buku Sahabat-Sahabat Rasulullah Sallallahu alai’hi wasallam
Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Khalid bin Sa'id bin Ash radhiallahu anhu."