Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Asma' binti Abu Bakar as-Shidiq radhiallahu anha



Ibunya bernama Qutayrah binti Abu Uzza dari Banu Amir bin Lu'ai. Dia adalah saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar. Asma' telah lahir 27 tahun sebelum Hijrah. Usianya lanjut, sehingga dia wafat pada tahun ke-73 sesudah Hijrah. Berarti usianya genap satu abad. 
Dari masa jahiliyyah hingga ke masa pemerintahan Bani Umayyah. Sejak awal Islam, Asma' telah banyak membantu perjuangan Nabi SAW beserta ayahnya. Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar. dikejar-kejar oleh kafir-kafir Quraisy, keduanya bersembunyi di gua Tsur, maka setiap harinya, Asma' binti Abu Bakar seorang diri telah datang ke tempat persembunyian itu untuk membawa makanan dan minuman untuk Nabi SAW dan ayahnya. Pada malam ketiga, Asma' juga telah datang ke tempat persembunyian Rasulullah SAW dengan membawa seorang penunjuk jalan, yaitu Abdullah bin Uraiqith. 
Kemudian Nabi SAW bersama Abu Bakar ra. meninggalkan gua itu untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Asma' membawakan bungkusan makanan untuk mereka. Dan karena dia tidak menemukan tali untuk mengikat makanan itu pada unta, maka ia membuka tali ikat pinggangnya, lalu disobeknya menjadi dua utas tali, yang satu dijadikan ikat makanan kepada unta, dan yang lainnya diikatkan pada pinggangnya. Dan sejak itulah dia telah dikenal dengan panggilan "Wanita yang memiliki dua ikat pinggang"
Setelah melayani dan membantu perjuangan Nabi SAW Ketika hijrah ke Madinah, Asma' segera kembali ke rumahnya. Namun, belum sempat Asma' tiba di rumahnya, beberapa orang kaum Quraisy dengan dipimpin oleh Abu jahal, sudah berada di belakangnya. Asma' ditanya dengan berbagai pertanyaan, tetapi dia tetap menjawab, "Saya tidak tahu". Hal itu telah membuat Abu Jahal marah, lalu dia menampar Asma' dengan tangannya yang kasar itu. karena tamparan itu terialu kuat, sehingga anting-anting Asma' tercabut dari telinganya. Rasa sakit dari tamparan Abu jahal itu terus terasa oleh Asma' sampai beberapa hari, bahkan dia tidak dapat melupakannya seumur hidupnya. 
Asma' telah memeluk Islam bersama-sama orang yang pertama memeluk Islam. Dia adalah orang yang kedelapan belas dalam urutan orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Usia Asma' delapan tahun lebih tua dari 'Aisyah ra. Asma' telah menikah dengan Zubair bin Awwam ra. Dan darinya memiliki anak, Abdullah, Urwah, Mundzir, Asim, Muhajir, Khadijah, Ummul Hasan dan 'Aisyah. Suaminya, Zubair telah syahid dalam pertempuran jamal. Asma' binti Abu Bakar berkata, "Ketika aku menikah dengan Zubair, dia belum memiliki rumah, juga tidak memiliki budak. Dia tidak memiliki apa-apa di muka bumi ini selain kudanya. Akulah yang biasanya menggembalakan kudanya, memberinya makan, dan merawatnya. Selain itu aku juga yang menggiling bibit kurma, menggembalakan unta, memberinya minum, menambal ember, dan membuat roti. Sebenarnya aku tidak begitu pandai membuat roti, maka tetanggaku orang Anshar yang biasanya membuatkan roti untukku. Mereka adalah wanita-wanita yang ramah".
Asma' sering menjujung bibit kurma di kepalanya dari hasil tanah milik Zubair yang telah dihadiahkan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Tanah itu jauhnya sekitar 2 mil. Suatu hari, Asma' sedang membawa biji-biji kurma itu di atas kepalanya, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan sekelompok sahabat, lalu Beliau SAW memanggil Asma', "Ayo! Ikutlah !" , Beliau mengajaknya agar ikut di belakang beliau. Asma' merasa malu sekali berjalan bersama para laki-laki. Dan ia teringat akan Zubair dan kecemburuannya. Karena Zubair termasuk orang yang paling pencemburu. Dan ketika Rasulullah SAW melihat bahwa Asma' malu, lalu beliau pergi. Setelah itu, Asma' menemui Zubair dan menceritakan kejadian tadi, "Tadi Rasulullah SAW bertemu denganku ketika aku sedang menjunjung biji kurma di kepalaku. Ada sekelompok sahabat bersama beliau. Beliau merundukkan untanya supaya aku bisa ikut menunggang unta itu bersama beliau, tetapi aku sangat malu dan aku tahu rasa cemburumu". Zubair berkata, "Demi Allah, memikirkanmu menjunjung biji kurma adalah lebih berat bagiku daripada kamu berkendaraan bersama beliau"
Pada suatu ketika Asma' merasa Zubair terjadi keras terhadapnya. Lalu Asma' menemui ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mengeluhkan tentangnya, ayahnya berkata, "Putriku, Sabarlah. jika seorang wanita memiliki suami yang shaleh dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di surga". 
Asma' binti Abu bakar pernah datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Nabi Allah, tidak ada apa-apa di rumahku kecuali apa yang dibawakan Zubair untukku, Salahkah bila aku menginfakkan sebagian dari yang dibawakannya itu?", Beliau menjawab, "Infakkanlah yang kamu bisa, Jangan menimbun harta, atau Allah akan menahannya darimu"
Kedermawanannya tidak diragukan lagi. Prinsip hidupnya adalah menyedekahkan apa yang ada, tanpa menyimpannya. la sangat menyakini, bahwa dengan memperbanyak sedekah akan menambah rezeki dan menyelesaikan masalah. 
Diriwayatkan bahwa Asma' binti Abu Bakar jika merasa tidak enak badan, maka dia akan membebaskan semua budak miliknya. jika ia merasa sakit kepala, maka ia akan meletakkan tangannya di kepalanya, seraya berkata, "Tubuhku, dan yang diampuni Allah sudah cukup! " Asma'pun sering menasehati putra-putri dan keluarganya, "Berinfaklah dan memberilah dan jangan menanti agar uangmu berlebih. jika engkau mengharapkan uangmu berlebih, engkau tidak akan mendapatkannya, jika engkau bersedekah, engkau tidak akan menderita kerugian".
Demikian Islam melekat pada dirinya, sehingga kepada ibu kandungnya pun ia sangat berhati-hati, mengingat ibu kandungnya sendiri belum memeluk Islam. Diriwayatkan bahwa Qutayrah binti Abdul Uzza, yaitu istri Abu Bakar yang telah diceraikan pada zaman jahiliyah karena masih kufur, mengunjungi putrinya Asma' binti Abu Bakar ra. ia membawa kurma, mentega cair dan daun mimosa. Tetapi Asma' menolak tidak mau menerima pemberiannya itu, bahkan Asma' telah melarang ibunya itu memasuki rumahnya. Kemudian Asma' menemui 'Aisyah rha, "Tanyakanlah kepada Rasulullah SAW." Beliau menjawab, "Sebaiknya kamu izinkan ibumu masuk dan menerima pemberiannya."
Kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya, 
Artinya : "Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik, dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.  "Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusirmu dari negerimu, dan membantu orang lain dari mengusirmu. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim". (QS. Al-Mumtahanah: 8-9). 
Ketika usianya bertambah tua, Allah telah memberinya cobaan, yaitu kedua belah matanya menjadi buta. Dan kezuhudan dan kecintaannya kepada akherat, telah banyak menjauhkan dirinya dari tipu daya duniawi. Pernah pada suatu ketika, putranya yaitu Mundzir bin Zubair telah datang dari lrak. Dan ia mengirimi Asma' setelan baju yang terbuat dari kain halus yang sangat lembut. Ketika baju itu sampai, Asma' menyentuh kain itu dengan tangannya, lalu ia berkata, "Hussh, Kembalikan pakaian ini kepadanya! " Terlihat Asma' sangat gusar dengan hadiah itu. Melihat hal ini Mundzir berkata, "Wahai Ibu, (baju) ini tidak tembus pandang! " Asma' menjawab, "Jika tidak tembus pandang, ia tembus cahaya". Kemudian Mundzir memberikan kepada Asma' sebuah pakaian biasa dan Asma' menerimanya, Asma'berkata, "Aku akan memakai pakaian seperti ini".
Pada suatu ketika, pada masa pemerintahan Bani Umayyah, ketika Asma' telah berusia 100 tahun dan matanya telah menjadi buta, datanglah Abdullah bin Zubair menemui ibunya Asma', Abdullah berkata, "Wahai ibuku, orang-orang telah mengecewakanku, Aku tidak memiliki pendukung, kecuali beberapa orang saja".
Menanggapi kesedihan anaknya ini, Asma' memberikan nasehat dan dorongan untuk membangkitkan lagi semangat anaknya, ia berkata, : "Wahai anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu sendiri. jika kamu yakin, bahwa engkau pada kebenaran, dan kepada kebenaran engkau menyerukan orang, maka teruskanlah!  sahabat-sahabatmu juga telah terbunuh pada kebenaran ini, jangan engkau jadikan batang lehermu dipermainkan oleh anak-anak bani Umayyah, tetapi, jika engkau hanya menginginkan dunia semata, maka seburuk-buruk hamba adalah engkau! Engkau telah membinasakan dirimu sendiri, dan engkau telah membinasakan orang-orang yang telah terbunuh bersama-sama denganmu, dan jika engkau berada di atas kebenaran, lalu sahabat-sahabatmu menghadapi kesulitan, apakah engkau akan menjadi lemah ?. Demi Allah, ini bukanlah sikap orang-orang yang merdeka dan bukan pula sikap ahli agama, berapa lama engkau akan tinggal di dunia ini ? Mati adalah lebih baik ! " 
Mendengar nasehat dan dorongan dari Asma' ini, maka Abdullah bin Zubair merasa tenang dan bersemangat. Lalu ia datang kepada Asma' dan mencium kepalanya, sambil berkata, "Demi Allah, inilah pendapatku! Akan tetapi aku ingin mengambil pikiran darimu, dan kini engkau telah menambahkan kepadaku keteguhan hati di atas keteguhan yang telah ada padaku. ingatlah, wahai ibuku, Anggaplah aku ini sudah mati dari hari ini, dan aku harap engkau tidak terlalu sedih jika mendengar beritaku kelak, dan serahkanlah masalah ini kepada Allah", Kemudian Abdullah memberikan kata selamat tinggal kepada ibunya. 
Dalam riwayat lain disebutkan, pernah Abdullah mengadu kepada ibunya tentang kekhawatiran hatinya, jika ia mati, tentu mayatnya akan dipotong-potong oleh Al-Hajjaj. Maka Asma' menentramkannya dengan berkata, "Apakah orang yang sudah mati, akan merasakan siksa atau aniaya, yang dibuat oleh orang yang hidup? tentu tidak bukan? "
Ketika Abdullah terbunuh di tangan Al-Hajjaj. Hajjaj telah meletakkan mayatnya tersalib di atas batu. Dan dia bersumpah tidak akan menurunkannya dari atas salib itu, sehingga ibunya sendiri datang memohon kepadanya untuk menurunkan mayat itu. Akan tetapi, Asma' sangat enggan untuk menundukan kepalanya kepada Al-Hajjaj. Maka mayat itu terus bergantung di situ, sehingga genap setahun lamanya di atas salib. Dan ketika pada suatu hari Asma' lewat di situ, ia berkata, "Apakah masih belum sampai waktunya untuk sang pahlawan ini menapakkan kakinya di atas bumi! " Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang bani Umayyah telah menganggap kata-kata Asma' itu sebagai permintaan belas kasihan kepada anaknya, maka mereka pun menurunkannya dari atas salib. 
Al-Hajjaj pernah datang kepada Asma' dengan penuh keangkuhan dan berkata kepadanya, "Apa pendapatmu tentang apa yang telah kulakukan terhadap anakmu? " Asma' menjawab dengan tegas, "Engkau telah membinasakan dunianya, ketika dia telah berhasil menghancurkan akhiratmu". Sebelumnya Asma' telah berdoa, "Ya Allah! Janganlah Engkau ambil nyawaku sebelum mataku merasa bahagia dengan mayat anak-ku!".  Dan seminggu setelah mayat Abdullah diturunkan dari salib itu, barulah Asma' meninggal dunia. 
Diriwayatkan bahwa Asma' binti Abu Bakar rha. ini termasuk golongan wanita-wanita pemberani. Dia selalu menyimpan sebuah belati di bawah bantalnya untuk melawan para pencuri yang merajalela di Madinah. Keberanian Asma' bukan sekedar itu, bahkan ia berani berkata hak (kebenaran) di hadapan seorang penguasa walaupun terasa pahit. Ia pernah pergi menemui Hajjaj dalam kondisi buta. Dia bertanya, "Di mana Hajjaj? "  Mereka menjawab, "Ia tidak di sini". Dia berkata, "Katakanlah kepadanya bahwa aku mendengar Rasulullah SAW berkata, "Ada dua orang laki-laki di Tsaqif, yang seorang adalah pendusta dan yang seorang lagi adalah perusak", yang dimaksud perusak adalah Hajjaj itu sendiri. Ketika pesan itu disampaikan kepada Hajjaj, Hajjaj berbalik mengunjungi Asma' binti Abu Bakar rha. Dan berkata kepadanya, "putramu telah menumpang di rumah ini dan Allah telah membuatnya merasakan siksaan yang pedih yang telah dilakukan atasnya". Asma' menjawab, "Engkau berdusta. Dia berbakti kepada kedua orang tuanya, berpuasa dan shalat, tetapi demi Allah, Rasulullah SAW memberitahu kami bahwa seorang pendusta akan muncul dari Tsaqif, yang satu lebih buruk dari yang pertama, yaitu ia seorang perusak".
Asma' binti Abu Bakar rha. Mewasiatkan sebelum wafatnya, "Jika aku meninggal dunia, mandikaniah aku dan kafanilah, serta berilah wewangian, tetapi jangan tinggalkan parfum di kain kafanku dan jangan mengikutiku dengan api". Asma' binti Abu Bakar rha, Meninggal dunia beberapa malam setelah putranya Abdullah bin Zubair diturunkan dari salib. Abdullah bin Zubair telah terbunuh pada hari Selasa, 17 Jumadil-Ula tahun 73 Hijrah.


Sumber: Buku Sahabat-Sahabat Rasulullah Sallallahu alai’hi wasallam
Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Asma' binti Abu Bakar as-Shidiq radhiallahu anha"