Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Hamzah Bin Abdul Muthalib radhiallahu anhu.



Pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan panah untuk berburu binatang di padang pasir, hal itu telah menjadi hobi dan kegemarannya sejak masa muda. Siang itu hampir setengah harian ia habiskan waktunya di padang pasir yang luas dan tandus itu, akan tetapi ia tidak mendapatkan buruannya. Akhirnya ia beranjak pulang dan mampir di Ka'bah untuk melakukan thawaf sebelum kembali ke rumah.
Sesampainya di depan Ka'bah seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud'an At-Taimi menghampirinya seraya berkata, "Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kamu melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam-lah, musuh bebuyutannya telah memaki dan menyakiti keponakanmu itu, sampai akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya." kemudian diceritakannya peristiwa itu secara rinci.
Setelah mendengarkan panjang lebar peristiwa yang di alami oleh keponakannya tadi pagi, dia terdiam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Lalu ia membawa busur dan anak panah dan menyandangnya, Kemudian dengan langkah cepat dan tegap, ia pergi menuju Ka'bah dan berharap akan bertemu dengan Abu Jahal di sana. Namun belum sampai di Ka'bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. 
Maka dalam ketenangan yang mencekam, Hamzah mendekati Abu Jahal. Lalu dengan gerakan yang cepat ia lepaskan busur panahnya dan dihantam-kan ke kepala Abu Jahal berkali-kali hingga jatuh tersungkur dan mengucur-lah darah segar deras dari dahinya. "Mengapa kamu memaki dan menciderai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Nah sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaan mu itu kepadaku jika kamu berani!", Bentak Hamzah kepada Abu Jahal.
Akhirnya dalam beberapa saat orang-orang yang berada di sekitar Ka'bah lupa akan penghinaan yang baru saja menimpa pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah yang menyatakan bahwa ia telah menganut dan menjadi pengikut Muhammad.
Tiba-tiba beberapa orang dari Bani Makhzum bangkit untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. Tapi Abu Jahal melarang dan mencegahnya seraya berkata, "Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Karena tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca keponakannya dengan kata-kata yang tidak pantas." 
Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang memiliki otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ketika sampai di rumah, ia duduk terbaring sambil menghilangkan rasa lelahnya dan membawanya berpikir dan merenungkan peristiwa yang baru saja dialaminya.
Sementara itu Abu jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum muslimin berpendapat perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum muslimin sudah tidak terelakkan lagi. Oleh karena itu ia mulai menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Namun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung untuk kaum muslimin lainnya. Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama Islam lebih mendalam.
Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da'wah islam. Karena itu tidaklah mengherankan jika Rasulullah menjulukinya dengan sebutan " Asadullah "yang berarti singa Allah .
Pasukan kaum muslimin yang pertama kali dikirim oleh Rasulullah dalam perang Badar, dipimpin langsung oleh Sayyidina Hamzah, Si Singa Allah, dan  Ali bin Abu Thalib menunjukkan   keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama islam, sampai akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang. Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya.
Akhirnya tibalah saatnya perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah yaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan di ambil dan akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam sangat membara karena ayahnya terbunuh dalam perang Badar.
Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat yaitu membunuh Hamzah dan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan.
Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Sayyidina Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Setiap ada musuh yang bisa menghadangnya, pastilah kepalanya akan terpisah dari lehernya.
Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, sampai akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rasulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk mengambil harta rampasan yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.
Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh Islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari pada bukit tersebut.
Tentunya penyerangan yang mendadak ini membuat pasukan Islam terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy. Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah Hamzah menebas leher Siba' bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah sampai tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.
Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak ia berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, sampai dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.
Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata, "Tak pernah aku menderita seperti yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku dari suasana sekarang ini."
Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin men-shalat-kan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu per satu. Pertama Sayyidina Hamzah di-shalat-kan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk di-shalat-kan, sementara jasad Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya di situ. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya men-shalat-kan mayat itu. Demikianlah Rasulullah men-shalat-kan para syuhada Uhud satu persatu, sampai jika di hitung Maka Rasulullah dan para sahabat telah men-shalat-kan Sayyidina Hamzah sebanyak tujuh puluh kali. 
Hamzah bin Abdul Muthallib ra. merupakan pahlawan dalam perang Badar, hal itu terungkap dari beberapa keterangan dibawah ini  :
Diungkapkan oleh Al-Harits At-Taimi dia berkata: "Adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib ra. pada hari pertempuran di Badar membuat tanda dengan bulu burung Na'amah (Bangau)". Sesudah selesai perang, maka seorang dari kaum musyrik bertanya:  "Siapa orang yang ditandai dengan bulu burung Na'amah itu?"  Maka seseorang berkata: "Dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib.  Dialah orang yang banyak memalu kita di dalam peperangan itu". 
Abdurrahman bin Auf ra.  berkata : Bertanya Umayyah bin Khalaf kepadanya: "Hai Abdullah, Siapa orang yang memakai bulu burung Na'amah di dadanya pada perang Badar itu?"  jawabku: "Dia itu paman Muhammad, dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib ra."  Berkata lagi Umayyah bin Khalaf : "Dialah orang yang banyak memalu kita dengan senjatanya sehingga dia dapat membunuh banyak di antara kita".
Dan peristiwa syahidnya "Singa Allah" ini, diceritakan oleh Jabir bin Abdullah ra. berkata: "Rasulullah SAW mencari-cari Hamzah pada hari Uhud setelah selesai peperangan, dan setelah semua orang berkumpul di sisinya, "Di mana Hamzah?"  Maka salah seorang di situ menjawab: "Tadi saya lihat dia berperang dibawah pohon disana, dia terus menerus mengatakan: Aku singa Allah, dan singa Rasul-Nya. Ya Allah, ya Tuhanku, Aku mencuci tanganku dari apa yang dibawa oleh mereka itu, yakni Abu Sufyan bin Harb dan tentara Quraisy. Dan aku meminta uzur kepadamu dari apa yang dibuat oleh mereka itu dan kekalahan mereka, yakni tentara Islam yang melarikan diri." 
Lalu Rasulullah SAW pun menuju ke tempat itu, dan tersedia Hamzah telah gugur. Bila Beliau melihat dahinya, Beliau menangis, dan bila melihat mayatnya dicincang-cincang, Beliau menarik nafas panjang. Kemudian Beliau berkata: "Tidak ada kain kafan buatnya?" 
Maka segeralah seorang dari kaum Anshar membawakan kain kafan untuknya. Berkata Jabir berikutnya, bahwa Rasulullah SAW telah berkata: "Hamzah adalah penghulu semua orang syahid nanti di sisi Allah pada hari kiamat."
Ja'far bin Amr bin Umayyah Adh-Dhamiri, berkata: Aku keluar bersama Abdullah bin Adi bin Al-khiyar pada zaman Mu'awiyah ra. dan disebutkan ceritanya hingga kami duduk bersama Wahsyi (pembunuh Hamzah ra.), maka kami berkata: "Kami datang ini untuk mendengar sendiri darimu, bagaimana engkau membunuh Hamzah ra."  Wahsyi bercerita: "Aku akan memberitahu kamu berdua, sebagai mana aku sudah memberitahu dahulu kepada Rasulullah SAW ketika Beliau bertanya ceritanya dariku".
"Awalnya, aku ini adalah hamba kepada Jubair bin Muth'im, dan pamannya yang bernama Thu'aimah bin Adiy telah mati terbunuh di perang Badar. Ketika kaum Quraisy keluar untuk berperang di Uhud, Jubair berkata kepadaku: Jika engkau dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad untuk menuntut balas kematian pamanku di Badar, engkau akan aku merdekakan. Kapan tentara Quraisy keluar ke medan Uhud, aku turut keluar bersama mereka. Aku seorang Habsyi yang memang mahir untuk melempar pisau bengkok, dan sebagaimana biasanya orang Habsyi, jarang-jarang tidak mengenai sasaran apabila melempar. 
Ketika kedua belah pihak bertempur di medan Uhud itu, aku keluar mencari-cari Hamzah untuk kujadikan sasaranku, sehingga aku melihatnya di antara orang yang bertarung, terlihat dia unta yang mengamuk, terus memukul dengan pedangnya segala apa yang datang menyerangnya, tidak seorang pun yang dapat melawannya. Aku pun bersiap untuk menjadikannya sasaranku. Aku lalu bersembunyi di balik batu terdekat dengan pohon yang dia sedang bertarung, sehingga ketika dia datang terdekat denganku, mudahlahlah aku melemparkan pisau racunku itu."
Tatkala dia dalam kondisi begitu, tiba-tiba datang menyerangnya Siba' bin Abdul Uzza. Ketikaa Hamzah melihat Siba' datang kepadanya, dia berteriak: "Mari ke sini, siapa yang ingin mencari maut"  Dipukulnya dengan sekali pukulan kepalanya terus berguling di tanah. "Maka pada ketika itulah, aku terus mengacung-acungkan pisau bengkokku itu, dan apabila aku rasa sudah tepat sasaranku, aku pun melemparnya kepada Hamzah mengenai bawah perutnya terus menembusi bawah selangkangnya.Dia mencoba hendak menerkamku, tetapi dia sudah tidak berdaya lagi, aku lalu meninggalkannya di situ sehinggalah dia mati. Kemudian aku kembali lagi untuk mengambil pisau bengkokku itu, dan aku membawanya ke perkemahan kami. Aku duduk di situ menunggu, dan aku tidak punya hajat yang lain, selain dari hendak membunuh Hamzah agar aku dapat dimerdekakan oleh tuanku."
"Ketika kami kembali ke Makkah, seperti yang dijanjikan oleh tuanku, aku dimerdekakan. Aku terus tinggal di Makkah. Dan ketika kota Makkah dikalahkan oleh Rasulullah aku pun melarikan diri ke Tha'if dan menetap di sana. Ketika rombongan orang-orang Tha'if bersiap-siap hendak menemui Rasulullah SAW untuk memeluk Islam, aku merasa serba salah tidak tahu ke mana harus melarikan diri. Aku berpikir, apakah aku harus melarikan diri ke Syam, atau ke Yaman, atau ke negeri-negeri lainnya, sampai kapan aku akan menjadi orang buruan?! Demi Allah, aku merasakan diriku susah sekali. 
Tiba-tiba ada orang yang datang kepadaku memberi nasehat: Apa yang engkau susahkan? Muhammad tidak membunuh orang yang masuk ke dalam agamanya, dan menyaksikan syahadat kebenaran! Aku tidak ada jalan melainkan menerima nasehat itu. Aku pun menuju ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW Memang tidak disangka-sangkanya melainkan dengan tiba-tiba ia melihatku berdiri di hadapannya menyaksikan syahadat kebenaran itu." Beliau lalu menoleh kepadaku seraya berkata: "Apakah engkau ini Wahsyi?"  Jawabku: "Saya, wahai Rasulullah"  Beliau berkata lagi: "Duduklah! Ceritakanlah bagaimana engkau membunuh Hamzah?" Aku lalu menceritakan kepadanya seperti aku menceritakan sekarang kepada kamu berdua."
Setelah aku selesai bercerita, Beliau berkata kepadaku: "Awas! Jangan lagi engkau datang menunjukkan wajahmu kepadaku". "Karena itu aku terus-menerus menjauhkan diri dari Rasulullah SAW supaya Beliau tidak melihat wajahku lagi, sehinggalah Beliau wafat meninggalkan dunia ini. 
Kemudian ketika kaum muslimin keluar untuk berperang dengan Musailimah Al-Kazzab, pemimpin kaum murtad di Yamamah, aku juga keluar untuk berperang dengannya. Aku bawa pisau bengkok yang membunuh Hamzah itu. Ketika orang sedang gawat bertempur, aku mencuri-curi masuk dan aku lihat Musailimah sedang berdiri dan di tangannya pedang yang terhunus, maka aku pun membuat persiapan untuk melemparnya dan di sebelahku ada seorang dari kaum Anshar yang sama tujuan denganku. Aku terus mengacung-acungkan pisau itu ke arahnya, dan apabila aku rasa sudah bisa mengenai sasarannya, aku pun melemparkannya, dan mengenainya, lalu orang Anshar itu menghabiskan hidupnya dengan pedangnya. 
Aku sendiri tidak memastikan siapa yang membunuh Musailimah itu, apakah pisau bengkokku itu, atau pedang orang Anshar tadi, hanya Tuhan sajalah yang lebih mengetahui. Jika aku yang membunuhnya, maka aku telah membunuh orang yang terbaik pada masa hidup Rasulullah SAW dan aku juga sudah membunuh orang yang paling jahat sesudah hidup Beliau". 


Sumber: Buku Sahabat-Sahabat Rasulullah Sallallahu alai’hi wasallam
Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Singkat Para Sahabat Rasulullah: Hamzah Bin Abdul Muthalib radhiallahu anhu."