Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Lomba Menulis FSI RI UNM Pra Muktamar XVIII Tema (Aku dan Tarbiyah): Alhamdulillah Juara Tiga. Judul: ( “Tarbiyah Mengubah Hidup-Ku”)

 “Tarbiyah Mengubah Hidup-Ku”
BISMILLAH……
Ini adalah kisah perjalanan hidupku hingga bisa mengenal dunia tarbiyah. Hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang, penuh dengan ujian cobaan, tantangan dan lika liku yang akan membelokkan kita dari target dan tujuan perjalanan kita berjumpa dengan Sang Pencipta. Dalam ayunan langkah kaki menyusuri jalan berliku dan berkelok adakalanya tiba-tiba kaki ini terhenti dan menemukan sesuatu yang menginspirasi dan menguatkan iman.
        Dari sinilah munculnya proses kedewasaan diri, pondasi kokoh tentang Islam rahmatal lil’alamin dan kasih sayang antar saudara seiman, melahirkan sebuah ukhwah yang mengalahkan persaudaraan sekandung. Proses yang menurutku sangat luar biasa yang mampu merubah sedikit demi sedikit sikap, tingkah laku, pemikiran dan penampilan. Nikmat yang begitu besar bagiku bisa bergabung dengan dunia tarbiyah. Tarbiyah bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya adalah tarbiyah.
Dengan tarbiyahlah akan mengubah hidupmu yang kelam menjadi lebih baik. Kala itu saya belum mengenal tarbiyah tepatnya empat tahun lalu ketika masih duduk di bangku sekolah.  Ucapan yang begitu indah terlontar dari mulut ini tanpa mengetahui makna dan hakikatnya ‘Aku Ingin Berubah’ entahlah waktu itu saya sadar mengatakannya ataukah hanya sebuah kalimat yang keluar begitu saja. Beberapa hari melakukan sebuah perenungan tentang hidup ini. Empat tahun telah berlalu kalimat ini terlontar dari mulut saya. Ketika waktu itu telah selesai dan tamat di SMA N 1 Rilau Ale Kab. Bulukumba, dengan predikat siswa yang paling nakal, paling sering bolos, paling malas belajar. Tentu ini bukan sebuah kebanggaan.
Deraian air mata yang tak mampu terbendung, mengalir begitu kerasnya. Bagaikan sebuah bendungan dengan tembok yang kokoh, tiba-tiba retak dan menghempaskan air yang begitu deras, yang tidak memiliki arah dan tujuan. Merusak segala apa yang menjadi penghalang didepannya. Seakan-akan perjalanan hidup saya berakhir sampai disini dengan prestasi yang saya dapatkan.
Ketika mata-ku mulai terbuka, menarik sebuah nafas dengan sedalam-dalamnya, menatapi diri yang penuh dengan dosa dan kesalahan. Bermain-main dengan amanah yang diberikan oleh kedua orang tua, untuk belajar dengan baik disekolah. Membuat saya jijik dengan diri saya sendiri dengan perbuatan yang telah saya kerjakan. Beberapa lama hidup ini berjalan seolah tidak memiliki arah dan tujuan.
Singkat cerita, setelah selesai dari SMA ada beberapa pilihan yang membuat saya kembali pusing untuk memilih. Apakah  hidup kita ingin sama dengan kehidupan orang tua menjadi seorang petani, ini bukan tentang meremehkan pekerjaan seorang petani. Akan tetapi sanggupkah kita bekerja seperti orang tua kita bekerja dikebun, disawah dari pagi sampai sore hari.
Sanggupkah kita dengan usia yang masih muda penuh dengan kegensian, takut kotor bertahan ditengah teriknya matahari sambil mencangkul? Maka jawabannya adalah tidak. Sangat minim pemuda saat ini baik siswa ataupun mahasiswa yang ketika liburan mereka membantu orang tuanya, apatah lagi dengan pekerjaan berat. Lantas jikalau kita tidak apa yang harus saya kerjakan, saya mau kemana?
Menjadi pengangguran sejati, menjadi penghuni kampung yang kerjanya tidur, begadang, minum-minuman keras dll. Apakah kita mengingingkan hidup seperti ini? Tentu tidak. Lantas keputusan apa yang harus kita ambil? Maka jawabanku pada saat itu adalah sekolah dengan sebaik-baiknya.
Cukuplah yang berlalu menjadi sebuah pengalaman yang menjadi bumbu-bumbu dalam kehidupan ini. Terkadang sebuah masakan akan terasa nikmat dan enak ketika diberi bumbu-bumbu yang berbeda rasanya. Itulah alur kehidupan kita, terkadang kita dibawah dan terkadang kita diatas, terkadang kita merasa sedih dan merasa bahagia. Tak lama kemudian nama saya tersangkut di pengumuman kelulusan mahasisiwa baru jalur SBMPTN Universitas Negeri Makassar tahun 2013.
Sejak itu kubulatkan tekadku untuk kuliah, meninggalkan kampung halaman untuk mencapai sebuah perubahan dalam diri ini, jangan biarkan diri kita ditenggelamkan karena pengalaman buruk yang telah lalu. Masa depan kita tidak selebar dengan daun kelor, tidak sependek dengan mata memandang. Hingga saat itu terlontar sebuah kata “Hari ini memang saya gagal, saya nakal, akan tetapi dimasa yang akan datang akan mengubah semua itu dengan keberhasilan”. Namun, terkadang kita memang sering putus asa terhadap perbuatan yang telah kita lakukan, namun Allah  berfirman didalam Al-Qur’an:
Artinya:  “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,  janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa (kecuali dosa syirik). Sungguh Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53).
            Cukuplah ayat ini menjadi motivasi kepada kita semua untuk tidak berputus asa atas segala kesalahan dosa yang telah kita perbuat. Hingga waktu itu perkataan itupun terlontar ‘Aku Harus Berubah’  Namun yang jadi pertanyaan adalah Kita Ingin Berubah Menjadi Apa? Tentu berubah menjadi orang yang lebih baik Taat kepada Allah  dan Rasul-Nya. Maka tidak ada perubahan yang lebih baik selain dari ketaatan kita beribadah kepada Allah, yang sebelumnya kita jauh dari ketaatan kepada Allah, jauh mengenal sunnah-sunnah Rasulullah.
          Hidup tanpa sebuah perubahan itu adalah sebuah kerugian, perubahan yang kita maksud adalah bukan dari masa kecil keremaja bahkan sampai dewasa. Akan tetapi perubahan yang sifatnya batiniyah, perubahan akhlak’ Maka bertambahnya umur maka seharusnya semakin baik akhlak dan perilakunya, ketaantanya kepada Allah  semakin besar.
Seorang penuntut ilmu yang sering diibaratkan sebuah padi yang ditanam disebuah persawahan. Padi itu tumbuh dengan perjuangan, kesabaran untuk bertahan dibawa teriknya matahari dan derasnya hujan. Akan tetapi, apakah padi ini tidak berbuah. Padi itu tetap berbuah, bahkan memberikan contoh dan teladan yang baik. Menandakan bertambahnya umur, ilmu pengetahuan, sekolah yang tinggi seharusya bisa menjadi padi tersebut, semakin berisi maka semakin menunduk, tidak menyombongkan diri atas apa yang dimilikinya.
Tahun pertama di kampus tepatnya desember 2013, salah seorang senior yang tinggal di Mesjid Kampus FIK UNM. Mendapati saya tertidur pulas ba’da sholat di masjid dan ketika bangun senior tersebut kemudian menyapa saya, mengajak saya bercerita. Nama Anttum siapa? Pada kala itu panggilan kata anttum bagi kami orang awwan tidak terlalu paham. Hingga beliau mengulang pertanyaanya, Nama ta Siapa?, saya pun menjawab dan memperkenalkan diri; Nama saya: Muhammad Akbar, jurusan pend. Kepelatihan, dari kab. Bulukumba.
Singkat cerita, setelah ngobrol lama saya pun meranjak pulan ke kos. Dan waktu itu kos saya dekat dengan kampus, setiap hari jalan kaki ke kampus. Ketika saya mau pamit, senior ini bertanya pada saya. Apa kita kerja kalau malam kamis? Jawab saya: Tidak ada kak. Kemudian beliau lanjutkan, kalau tidak ada nanti saya jemput ki pergi pengajian. Waktu itu sebenarnya saya ingin menolak, tetapi dengan akhlak beliau yang membuat hati saya terasa terikat untuk ikut dengan beliau.
Jujur, ini adalah pertama kali saya ta’lin dan tempatnya yaitu di masjid Ar-Rahmah BTN Tabariyah, pusat ta’lim untuk kader lembaga dakwah se-UNM. Pada waktu itu sosok pemateri adalah Ustadz yang saat ini tak ada lagi yang tidak mengenalnya Ustadz Harman Tajang hafizahullah. Dengan kelebihan beliau membawakan materi yang disampaikannya membuat hati kami jatuh cinta dan terus mengikuti ta’lim beliau. Yang kemudian hari saya baru mengetahuinya bahwa beliau adalah satu kampung kami, bulukumba. 
Semakin berjalanya waktu dan mulai akrab dengan senior-senior yang ada di masjid kampus. Tepatnya 2014 saya mulai diajak untuk ikut tarbiyah, gabung dengan senior angkatan 2012 tempatnya di masjid Nurul Ilmu UNM. Murobbi kami adalah Ustadz Suradi hafizahullah. Pada waktu itu saya masih sendiri 2013 dari olahraga yang ikut tarbiyah. Ketika tarbiyah telah dimulai, kami semua di perintahkan untuk mengeluarkan Al-Qur’an dan kita membacanya kemudian di koreksi satu persatu. Tiba giliran saya membaca Al-Qur’an, ketika itu saya baru membaca Ta’udzuh sudah salah, masuk lagi ke Basmalah juga salah, sampai akhir surah Al-Fatihah terasa apa yang saya baca tidak ada yang benar tentan penyebutan hurufnya yang benar.
Sempat waktu itu syetan mulai datang dan mengoda agar saya tidak ikut lagi tarbiyah karena bacaan yang tersangkut-sangkut. Namun, kesadaran akan pentingnya memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Singkat cerita, pada suatu hari saya termenung melihat diri saya yang saat ini sudah kuliah, sudah lulus SD, SMP, SMA. Akan tetapi memiliki bacaan Al-Qur’an yang tidak beres. Disinilah kembali saya mengingat akan perkataan saya ketika lolos SMA dahulu “Saya Harus Berubah”.
Ketika waktu itu perubahan yang saya fikirkan hanya ingin berubah untuk sukses, dari nakal, malas menjadi lebih baik. Maka tak kala saya mengenal tarbiyah, ada sesuatu hal yang harus menghentikan satu langkah perubahan itu yang sifatnya sementara kehidupan dunia, dan beralih pada perubahan yang sifatnya hakiki kehidupan akhirat.
Ingatlah wahai saudaraku…
Kapan kita akan tersadarkan untuk kembali memprioritaskan kehidupan akhirat kita dibanding dengan kehidupan dunia. Dengan tarbiyahlah Engkau akan lebih mengenal mana yang harus menjadi bab utama untuk kita perjuangkan. Dengan tarbiyahlah Anda akan mengenal akan kehidpan yang sebenarnya. Dengan tarbiyalah Engkau akan lebih dekat dengan Sang Pencipta. Dengan tarbiyalah akan membentuk jiwa yang besar, akhlak dan moral yang baik. Dengan tarbiyalah kita akan mengambil hikmah dari perjalanan hidup yang kita miliki.
Dulu, Aku sangat kagum pada orang cerdas, kaya, dan yang berhasil dalam karir. Hidup sukses dan hebat dalam dunianya terlebih lagi cerdas dunia pendidikan nya. Sekarang, Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku. Aku kagum dengan orang yang hebat di mata Allah. Sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan bersahaja.
Dulu, Aku memilih marah ketika merasa harga diriku dijatuhkan oleh orang lain yang berlaku kasar padaku dan menyakitiku dengan kalimat-kalimat sindiran. Sekarang, Aku memilih untuk banyak bersabar & memaafkan. Karena Aku yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu memaafkan dan bersabar.
Dulu, Aku berfikir bahwa aku bisa membahagiakan orang tua, saudara dan teman-temanku jika aku berhasil dengan duniaku. Ternyata yang membuat mereka bahagia bukan itu, melainkan ucapan, sikap, tingkah dan sapaanku kepada mereka. Sekarang aku memilih untk membuat mereka bahagia dengan apa yang ada padaku.
Dulu, fokus pikiranku adalah membuat rencana-rencana dahsyat untuk duniaku. Ternyata aku menjumpai teman-teman dan saudaraku begitu cepat menghadap kepada-Nya. Sekarang, yang menjadi fokus pikiran dan rencanaku adalah bagaimana agar hidupku dapat diridhai oleh Allah dan sesama. Jika suatu saat diriku dipanggil oleh-Nya. Tak ada yang bisa memberikan JAMINAN bahwa aku bisa MENGHIRUP NAFAS ESOK hari. Jadi apabila hari ini dan hari esok aku masih hidup, itu adalah karena kehendak-NYA semata.
Apa yang Anda tunggu wahai saudaraku…. Untuk bermalas-malas tarbiyah. Tidak ada jalan yang akan mebuatmu menjadi pribadi muslim yang sejati melaingkan dengan tarbiyah. Tarbiyah adalah rup perjuangan bagi setiap Da’I, Aktifis Dakwah. Dalam meneggakan syariat Allah di muka bumi ini.
Setelah bergabung dengan lembaga dakwah fakultas SC Ar-Riyadhoh FIK UNM, kini pengaruh tarbiyah dalam kehidupan akan semakin terasa. Tiga tahun kami bersama para Ikhwah di fakultas menyusung rencana, Bagaimana menjebak seseorang dalam kebaikan utamanya tarbiyah. Banyaknya aktifitas dakwah seakan melupakan kebutuhan diri kita sendiri, dengan adanya tarbiyah akan menjadi menjadi pengontrol bagi diri kita. Dengannya pula akan meningkatkan azzam yang kuat dan lebih semangat mengajak seserang pada kebenaran. Disini aku menemukan banyak orang-orang yang menginspirasi. Disinilah aku akan mengetahui pentingnya tarbiyah, belajar lebih dalam lagi tentang Islam, dan mendekatkan diri dan menigkatkan ketakwaan kepada Allah.
Wahai para Aktifis dakwah…
Hari demi hari tantangan kita akan semakin berat, begitu besarnya amanah yang Allah berikan kepada kita, memikul risalah Para Nabi. Tetapi ingatlah bahwa tidak ada sebuah perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia disisi Allah. Melaingkan akan dibalas dengan Syurga yang mulia, tempat yang menjadi impian bagi orang-orang yang beriman.
Kisah kami pribadi tentu tidak bisa tertulisakan secara keseluruhan akan proses perjalanan kami mengenal Allah dan Rasul-Nya. Namun, perjalanan ini cukup memberikan pelajaran yang begitu berharga akan pentingnya Niat yang tulus untuk berubah menjadi lebih baik. Karena dengan niat itulah bisa jadi Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita untuk taat dan Itiqomah dijalan-Nya. Untuk para Ustadz yang telah menjadi wasilah bagi kami sehingga mendapatkan hidayah dari Allah. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memasukkan kita kedalam syurga-Nya kelak. Semoga kisah ini bisa memberikan motivasi & inspirasi bagi diri kami dan kita semua. 
Yuk Sholat! Yuk Ngaji! Yuk Tarbiyah!
Ilmu...
Itulah bekal menuju akhirat
agar hidup tak berkarat
Masuk surga tanpa bersyarat...
Amal...
Itulah jalan menuju surga
lewati hidup terjaga
hingga ibadah terasa lega.
Dakwah....
Itulah bekal sang syuhada
Meraih surga sang pencipta
dengan kesenangan yang tertata
Tarbiyah,...
Itulah jalan meraih ilmu, amal dan dakwah
Meraih surga nan megah

Tanpa harus merasa resah.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lomba Menulis FSI RI UNM Pra Muktamar XVIII Tema (Aku dan Tarbiyah): Alhamdulillah Juara Tiga. Judul: ( “Tarbiyah Mengubah Hidup-Ku”)"