Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Kumpulan Makalah Olahraga: Makalah Sejarah Olahraga Di Indonesia



MAKALAH  SEJARAH OLAHRAGA DI INDONESIA
Oleh: Muhammad Akbar
Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Makassar

Akbarusamahbinsaid.@gmail.com

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolon-gan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejelekan amal-amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang menyesatkannya,. Dan barangsiapa disesatkan, maka tidak ada pemberi petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tidak tuhan yang patut disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
            Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah subhanaahu wata’ala. memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

A. SEJARAH OLAHRAGA DI INDONESIA 
Indonesia beriklim tropis yang tidak mengenal empat musim, dan terdiri dari puluhan ribu pulau-pulau besar dan kecil . Garis pantai sangat panjang dan sungai pun banyak jumlahnya. Hutan lebat sebagian besar menutupi pulau-pulau, kecuali di Nusa Tenggara Timur yang kurang hujannya.
Dalam alam yang kaya raya itu hidup manusia Indonesia primitif secara berkelompok-kelompok. Mereka mencari makan di hutan dan binatang buas adalah musuh utamanya. Dengan majunya peradaban manusia Indonesia mampu membuat sumpitan, busur dan anak panah, tombak. Kemudian juga mampu membuat alat dari besi.
1. Zaman Primitif.
Tidak mengherankan bahwa anak Indonesia dididik sesuai dengan keperluan hidup primitif waktu itu. Ikut ayah menangkap ikan, berburu, dan sebagainya merupakan persiapan langsung kepada tugas-tugasnya nanti kalau sudah dewasa. Jadi menirukan serta mencoba merupakan metoda yang dipakai.
Meniti, mengayun, menggantung, mendayung, melompat, berenang, lari, menyelinap, dan sebagainya merupakan perbuatan sehar-hari sehingga pembentukan dan perkembangan fisik berlangsung baik dan sekaligus bersatu dengan pembentukan watak, kecerdasan, ketrampilan, bersiasat, dan sebagainya, sehingga boleh disebut pendidikan yang bulat dan menyeluruh.
Seperti pada bangsa-bangsa primitif lainnya suku-suku di Indonrsia juga mengenal upacara inisiasi, misalnya pada perubahan dari situs pemuda menjadi dewasa, atau dari bujangan menjadi berkeluarga. 
2. Zaman Kerajaan – Kerajaan.
Kehidupan di zaman kerajaan-kerajaan besar di Indonesia separti zaman Sriwijaya, Mojopahit, Mataram ditandai oleh tata feodal yang memisahkan jauh antara rakyat dan raja dengan adanya pegawai, prajurit dan kebangsawanan yang memisahkan raja dari rakyat.
Drai tulisan-tulisan kuno dapat dibaca bahwa mengabdi kepada raja adalah kehormatan dan utnuk itu diadakan persyaratan-persyaratan atau ujian-ujian. Dari naskah-naskah itu tidak terbaca adanya usaha-usaha peningkatan kemampuan fisik, walaupun itu dianggap harus dimiliki. Ynag ditinjolkan adalah sifat-sifat kejiwaan dan intelek serta kemampuan yang melebihi manusia biasa, misalnya tidak nampak oleh musuh, mampu membuiat tidur lawan, kebal terhadap senjata tajam dan mantra-mantra, dan sebagainya.
Dalam hubungan ini patut disebut pencak silat yang juga merupakan kemampuan yany perlu untuk melindungi kelompok, maka pendidikan pencak silat tidak berlangsung secara terbuka, tetapi rahasia. Para murid juga diharuskan merahasiakan kemampuannya demi keselamatan kelompok.
Karena manusia kuno sangat hormat atau segan terhadap binatang buas maka tidak mengherankan kalau beberapa cara membela diri dihubungkan dengan kemampuan atau cara menyerang/ bertahan binatang-binatang seperti kera, burung elang dan sebagainya.
Zaman kerajaan juga mengenal pendidikan prajurit melalui perintah ngurung atau mengepung harimau oleh barisan prajurit bersenjatakan tombak. Perintah langsung semacam itu tentu saja memerlukan ketabahan yang besar. Pemberani sajalah yang tinggal dan dengan begitu terkumpullah prajurit yang tangguh.
Di abad ke 18 dan 19 di mana raja-raja sudah banyak ditundukan oelh penjajah, pendidikan cinta tanah air melalui pencak silat semakin dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi.
Yang di Jawa dilaksanakan agak terbuka adalah latihan-latihan pencak silat yang dikaitkan dengan pekajaran tari-tarian. Walaupun hanya bentuk luar saja yang tampak , pada kenyataannya telah membuat anak-anak menjadi berminat untuk mendalami pencak silat lebih jauh, dan berhasil membuat anak menjadi lebih tergembleng jiwa raganya.
Permainan yang bnayak digemari dan terdapat secara luas di Indonesia adalah sepak raga, suatu permainan bola dengan bola terbuat dari anyaman rotan. Ketangkasan mempertahankan bola di udara diiringi dengan bunyi-bunyian gendang atau gamelan, rebana, dansebagainya. Permainan dapat dilakukan sendirian atau oleh tiga orang sekaligus dengan menggunakan satu bola saja.
Keberanian dan ketabahan diuji dalam permainan ujungan, yaitu di mana dua pemuda sambil menggunakan tongkat rotan mencoba mengenai kaki atau punggung lawannya. Permainan ini tersebar di Jawa dan Nusa Tenggara.
Juga terdapat sejenis tinju yang terkenal dengan nama okol. Ini terdapat di Jawa Timur. Di Nias pemuda-pemuda diukur ketangkasannya dengan kemampuannya melompati tembok setelah mengawali pada batu besar di depan tembok itu. Permainan di mana seorang anak, sambil mengawasi penglakannya harus menemukan teman-teman yang bersembunyi sangat baik untuk menguji keberanian dan akal anak.
3. Zaman Penjajah Belanda.
Pengaruh Swedia masuk di Nusantara melalui perwira-perwira angkatan laut kerajaan Belanda, antara lain Dr. Mikema yang ditempatkan di Malang. Di kota itu ia juga mengajar gymnastik kepada perwira bintara A.D. dan guru-guru sekolah. Pada tahun 1920 ia dibantu oleh Classen yang berijazah guru latihan jasmani untuk sekolah menengah.
Dr. Minkema dapat mempengaruhi pejabat-pejabat pusat Jakarta sehingga pada Departemen Pertahanan dibentuk biro “ Pengembangan dan Hiburan “. Pada tahun1922 di di Bandung dibuka Sekolah Olahraga dan Gymnastik Militer, di mana telah ada Perkumpulan Latihan Jasmani. Di situ dididik guru –guru gymnastik selama 1 ½ tahun.
Di sekolah Normal dan Kweekschool juga diajarkan latihan jasmani. Mereka yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh akta ( hak ) mengajar olahraga, yang disebut akta J ( pemula ) dan akta S ( lanjutan ).
Sebelum Perang Dunia ke II di Surabaya ada GIVIO, suatu Lembaga Pemerintah tempat mendidik guru-guru olahraga.
Setelah Perang Dunia ke II dan Bandung yang diduduki oleh tentara Belanda didirikan Akademi Pendidikan Jasmani. Olahraga di sekolah berupa permainan, atletik dan senam. Di luar jam-jam sekolah ada kesempatan untuk belajar renang dan latihan atletik, sepakbola, basket dan sebagainya (di sekolah menengah).
Cabang-cabang olahraga dalam zaman penjajahan Belanda belum banyak yang digemari. Yang ada hanya sepakbola, atletik, renang, tennis dan horfbal.
Sesuai dengan taraf perjuangan bangsa Indonesia terbentuklah perkumpulan-perkumpulan olahraga yang bersifat nasionalis. Misalnya PSSI didirikan untuk menandingi NIVU yang didirikan oleh orang-orang Belanda. Juga Indonesia Muda sebagai perkumpulan-perkumpulan putra-putri Indonesia telah memiliki bagian olahraga sepakbola dan atletik. Pola ini kemudian berjangkit pula ke dalam perkumpulan-perkumpulan pemuda lainnya.
Berbagai pertandingan dan perlombaan besar penyelenggaraanya dikaitkan dengan pasar malam, misalnya di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, yang diadakan sekali setahun. Suatu fenomena yang khas adalah adanya bagian sepakbola dari sandiwara keliling. Di suatu kota di mana perkumpulan sandiwara itu mengadakan pertunjukan, mereka juga mengadakan acara memperebutkan piala melawan perkumpulan-perkumpulan sepakbola setempat.

4. Zaman Jepang
Indonesia diduduki Jepang selama tiga setengah tahun. Di sekolah-sekolah suatu pelajaran olahraga diisi dengan senam pagi yang disebut Taisho, dan dilakukan sebelum mulai belajar. Jam olahraga diisi secara bergiliran dengan baris-baris, sumo (gulat cara Jepang), lari sambung membawa pasir dalam karung, rebutan bendera yang dilaksanakan oleh antara-regu-regu yang terdiri dari dari tiga orang. Permainan dan atletik semakin terdesak oleh olahraga Jepang, antara Kendo yang dilakukan dengan tongkat bambu. Pelajaran olahraga di sekolah terkenal dengan sebutan gerak badan.
5. Zaman Merdeka
Walaupun baru saja merdeka, dan sibuk menghadapi serangan-serangan balatentara Belanda yang bersembunyi di bawah selimut sekutu masuk Indonesia, pemerintah RI telah memberi perhatian kepada olahraga yang waktu itu masih dikenal dengan istilah gerak badan. Ini terbukti dengan adanya saran tertulis dari Panitia Penyelidik Pengajaran (Desember 1945) mengenai pendidikan dan pengajaran, diantaranya mengenai gerak badan. Panitia menyatakan bahwa pendidikan baru lengkap kalau ada pendidikan jasmani (istilah baru bagi gerak badan), sehingga tercapai suatu harmoni (keselarasan).
Mereka juga menyarankan adanya latihan militer untuk murid-murid SMT (SMA) dan pelajar puteri melaksanakan pendidikan jasmani perlu diperhatikan nasehat dokter. Bahan pelajaran sedapat-dapatnya di ambil dari khazanah permainan dan kesenian nasional. Dalam pelaksanaan pendidikan jasmani perlu pula memanfaatkan musik (irama). Kepanduan dianggap perlu untuk dimasukkan ke dalam kurikulum. Perlombaan perlu, tetapi perlu di cegah terjadinya alses-akses. Biaya pelaksanaan pendidikan jasmani diberi oleh Pemerintah. Setiap sekolah perlu dilengkapi dengan lapangan olahraga. Untuk secepatnya mampu melaksanakan idea-idea diatas, perlu mengadakan kersus-kersus kilat untuk para guru.
Dari apa yang telah terbaca di atas itu terlihat bahwa pemerintah RI zaman itu sudah cukup luas pandangannya dan mendukung penuh pelaksanaan olahraga di sekolah.
Dalam Undang-Undang nomor 12 tahun 1954 yang menyatakan berlakunya Undang-Undang No. 4 tahun 1950 (RI) untuk seluruh wilayah Nusantara, maka peraturan lain menjadi hapus. Undang-undang No. 4 tahun 1950 memuat tentang pendidikan jasmani dalam Bab VI sebagai berikut : Pasal 9 : Pendidikan jasmani yang menuju kepada keselarasan antara tumbuhnya badan dan perkembangan jiwa, dan merupakan suatu usaha untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat dan kuat lahir dan batin, diberikan pada segala jenis sekolah. Penjelasannya Pasal 9 itu adalah sebagai berikut : “Untuk melaksanakan maksud daripada Bab II Pasal 3 tentang tujuan pendidikan dan pengajaran, maka pendidikan dan pengajaran harus meliputi kesatuan rohani-jasmani.
Pertumbuhan jiwa dan raga harus mendapat tuntunan yang menuju ke arah keselarasan, agar tidak timbul penyebelahan ke arah intelektualisme atau ke arah perkuatan badan saja. Perkataan keselarasan menjadi pedoman pula untuk menjaga agar pendidikan jasmani tidak mengasingkan diri daripada pendidikan keseluruhan.
Pendidikan jasmani merupakan usaha pula untuk membuat bangsa Indonesia sehat dan kuat lahir batin. Oleh karena itu pendidikan jasmani berkewajiban juga memajukan dan memelihara kesehatan badan, terutama dalam arti preventif, tapi juga secara korektif.
Pendidikan jasmani sebagai bagian daripada tuntunan terhadap pertumbuhan rohani-jasmani dengan demikian tidak terbatas pada jam pelajaran yang diperuntukkan baginya saja”. Sebagai perencana dan pengatur pendidikan jasmani di sekolah pada struktur jawatan Pengajaran (salah satu dan 4 jawatan dalam Kementerian Pendidikan dan Pengajaran) ada Inspeksi Pusat Pendidikan Jasmani. Untuk olahraga di masyarakat (luar sekolah jawatan pendidika masyarakat ada urusan pendidikan jasmani).
Sekolah-sekolah untuk mendidik guru pendidikan jasmani adalah SGPD dan akademi PD, di samping itu ada kursus-kursus BI, kursus instruktur PD, kursus ulang PD. Di propinsi-propinsi/daerah-daerah ada Inspeksi PD Daerah yang membina dan mengawasi pelaksanaan PD di sekolah-sekolah. Pada tahun 1952 di Semarang dan tahun 1953 di Surabaya telah dapat di selenggarakan perlombaan pelajar seluruh Indonesia. Sayang bahwa hanya dapat berlangsung dua kali. Konon uang untuk penyelenggaraan itu telah dialihkan ke pendirian sekolah-sekolah SGPD di berbagai tempat di Indonesia.
Pada tahun 1961 dibentuklah Departemen Olahraga karena diperlukan badan yang lebih tinggi kedudukannya untuk mengelola pendidikan jasmani dan olahraga yang sejak saat itu dinyatakan menjadi satu dalam istilah olahraga. Jadi sejak saat itu tidak ada lagi pembedaan di antara keduanya karena olahraga adalah istilah Indonesia asli dan bukan terjemahan dari sport dan physical education. Sikap dan sifat mendidik sudah otomatis tercakup dalam istilah olahraga.
Olahraga menjadi sarana “nation building” dan kususnya untuk dipakai menggembleng para pemuda untuk menjadi manusia-manusia Indonesia baru yang “berani melihat dunia ini dengan muka yang terbuka, tegak, fisik kuat, mental kuat, rohani kuat, jasmani kuat”. Menjadi olahragawan yang berprestasi tinggi sama harganya dengan di bidang manapun di mana seseorang telah berprestasi tinggi pula : ilmu, keprajuritan, keguruan dan sebagainya. Dedikasi, mempersembahkan hidup untuk Indonesia, menjadi pendorong kuat untuk berprestasi tinggi sehingga menjujung tinggi nama baik Indonesia.
Ini seirama dengan persiapan-persiapan Asia Games IV yang akan diselenggarakan di Indonesia. Olahraga di luar sekolah dipergiat melalui BATIDA-BATIDA dan kemudian KOGOR-KOGOR untuk menyiapkan olahragawan-olahragawan yang diperlombakan antar daerah untuk mampu membentuk team Indonesia yang tangguh dalam Asia Games IV 1962. dan memang hasilnya sangat memuaskan. Belum pernah Indonesia menggondol medali emas, perak dan perunggu sebanyak tahun 1962 itu.
Dalam masa setelah peristiwa berdarah coup G 30 S/PKI Indonesia perlu memulihkan diri secara total dari luka-luka yang telah di deritanya. Ekonomi dan pangan menduduki prioritas tertinggi dalam program Pemerintah Orde Baru. Dengan demikian olahraga yang telah menurun prioritasnya itu semakin parah keadaanya dan prestasi yang tinggi hanya dicapai oleh olahragawan bekas TC Asian Games/GANEFO saja. Peningkatan gairah dan sarana olahraga baru kelihatan setelah lewat satu PELITA.
Masyarakat disadarkan bahwa Pemerintah tidak mungkin ditambah bebannya dengan pengurusan olahraga secara sendirian, dan perlu adanya gerakan dalam masyarakat itu sendiri yang kuat untuk memajukan olahraga. Maka timbullah sistem sponsor yang sedikit-sedikit mulai mendorong kegiatan-kegiatan baru dalam olahraga. Nasib yang sama di alami oleh olahraga di dalam sekolah. Direktorat Jenderal Olahraga dan Pemuda tidak lagi mempunyai pengaruh di dalam sekolah-sekolah dan guru-guru olahraga keadaanya seperti ayam kehilangan induknya. Di sekolah yang semakin padat diisi dengan program-program pendidikan hal-hal baru, seperti kependudukan, kesejateraan keluarga, masalah lingkungan, dan sebagainya. Semakin memojokkan olahraga.
6. Gerakan Olahraga
Kongres olahraga yang pertama kali berlangsung dalam suasana Indonesia merdeka adalah pada bulan Januari 1947 di Solo. Dalam kongres itu diputuskan untuk membentuk satu wadah yang mengurusi olahraga, dan Pemerintah diminta untuk meresmikannya. Wadah itu mendapat nama PORI, singkatan dari Persatuan Olahraga Republik Indonesia. Pada malam peresmian PORI oleh Presiden Soekarno dilantik pula suatu panitia yang akan menangani masalah hubungan Olimpiade, bernama KORI : Komite Olimpiade Republik Indonesia, dan diketuai oleh Sultan Hamengkubuwono IX.
Pembagian kerja dalam PORI semua adalah sebagai berikut : Ada bagian-bagian sepakbola, bola basket dan renang, atletik, bola keranjang penahan, tennis, bulutangkis, pencak silat, serta gerak jalan. Keuangan PORI dan KORI di dapat dari subsidi Pemerintahan yang disalurkan melalui Kementerian Pembangunan dan Pemuda.
Sewaktu di Tokyo diselenggarakan Asian Games ke 3 (1958) Indonesia telah menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah Asian Games ke 4. Tawaran itu diterima sehingga segala sesuatu perlu dipersiapkan dengan baik agar tidak membuat malu bangsa dan negara. Ada tiga hal yang perlu ditangani yaitu penyediaan fasilitas utntuk pertandingan dan perkampungan olahragawan. Kedua adalah penyiapan team nasional yang tangguh, dan ketiga panitia penyelenggara yang bijaksana serta memahami seluk-beluk peraturan dan pengaturan yang bermutu Internasional.
Untuk itu dibentuk Dewan Asia Games Indonesia (DAGI). Semua kegiatan organisasi olahraga ditempatkan di bawah pimpinan dan pengawasan DAGI, sedangkan KOI (Komite Olimpiade Indonesia, nama baru bagi KORI). Merupakan badan pembantu Dewan, terutama dalam masalah organisasi dan administrasi. Sebagai tindak lanjut DAGI menetapkan bahwa pimpinan sentral dilakukan oleh Komando Gerakan Olahraga (KOGOR), dan di tiap propinsi dibangun Kantor Gerakan Olahraga yang selain mencakup Badan Persiapan Team Indonesia Daerah (BATIDA) juga mencakup KOI Daerah dan organisasi-organisasi olahraga lainnya. Keadaan diatas itu tidak berlangsung lama, karena terus disusul oleh terbitnya Keputusan Presiden No. 496/1961 yang memberi wewenang penuh untuk mengatur, mengawasi, memimpin atau menyelenggarakan segala ketentuan dalam Keputusan Presiden nomor 79/1961, sehingga KOGOR kedudukannya semakin kokoh dalam pengelolaan dan pembinaan olahraga.
Karena olahraga oleh Pemerintah diberi arti yang luas dan dinyatakan sangat penting untuk pembangunan bangsa, maka dengan Keputusan Presiden No. 131/1962 dibentuklah Departemen Olahraga. Selama ada Departemen yang mengelola Olahraga, baik organisasi maupun prestasi olahraga terus meningkat. Ini terbukti dari hasil yang dicapai dalam Asian Games ke 4 dan Games of the New Emerging Foeces (GANEFO) yang pertama.
Setelah usaha terkutuk G 30 S/PKI gagal untuk menguasai RI dan pemerintah Orde Baru memegang tampuk pimpinan negara diadakan kriteria untuk menentukan prioritas dalam segala hal yang perlu ditangani oleh Pemerintah, dan ekonomilah yang mendapat priorutas tertinggi. Tidak berhubungan bahwa olahraga mengalami kemunduran. Ini tidak berlangsung lama karena kalangan olahraga menyadari sepenuhnya tugas berat Pemerintah untuk membangun negara dan bangsa, dan tidak mungkin hanya mau menggantungkan diri kepada Pemerintah. Lalu diadakan musyawarah antara induk-induk cabang olahraga (MUSORNAS), dan berhasil dibentuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang dengan Keputusan Presiden No. 57/1967 ditetapkan sebagai satu-satunya pembina gerakan olahraga. KONI tunduk kepada kebijaksanaan umum Pemerintah dan wajib membantu Pemerintah dalam perencanaan kebijaksanaan umum di bidang olahraga. Dalam badan baru (KONI) ini KOI merupakan bagian yang khusus menangani hubungan dengan IOC dan gerakan Olimpik. Ini sangat pragmatis, karena KOI sudah menjadi anggota IOC sejak 1952.
Di tahun 1970 dalam masyarakat timbul masalah profesionalisme, khususnya dalam tinju. Pemerintah melalui PP no. 63/1971 mengatur pembinaan olahraga profesional secara menyeluruh, tetapi pada waktu itu baru tinju yang menonjol permasalahannya. Enam tahun kemudian masalah sepakbola profesional menjadi perhatian khalayak ramai. Badan yang membina profesionalisme menjadi perhatian khalayak ramai. Badan yang membina profesionalisme adalah BAPOPI (Badan Pembina Olahraga Profesional Indonesia) sebagai pembantu Menteri P dan K.



Terimah Kasih atas kunjungan Ta' semoga artikel ini bermamfaat... @Wassalam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kumpulan Makalah Olahraga: Makalah Sejarah Olahraga Di Indonesia"