Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Realitas Pendidikan Indonesia: Kejahatan Yang Terjadi Pada Anak





Oleh: Muhammad Akbar
Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Makassar

Akbarusamahbinsaid.@gmail.com

Mengejutkan ! Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat, jenis kejahatan anak tertinggi sejak tahun 2007 adalah sodomi anak. Jauh melampaui jumlah kejahatan penculikan dan perdagangan anak. Ironisnya, para pelakunya adalah guru sekolah, guru privat termasuk guru ngaji, dan supir pribadi.
Demikian disampaikan Ketua umum Komnas Anak Seto Mulyadi yang dihubungi, Kamis (10/4) malam. Ia menyampaikan hal itu menanggapi penangkapan tersangka pelaku sodomi, Hendi Sunandar (42), dan Yusuf Kurniawan (25), Kamis siang. Hendi adalah supir pribadi, sedang Yusuf adalah guru ngaji.
“Tahun 2007, jumlah kasus sodomi anak, tertinggi di antara jumlah kasus kejahatan anak lainnya. Dari 1.992 kasus kejahatan anak yang masuk ke Komnas Anak tahun itu, sebanyak 1.160 kasus atau 61,8 persen, adalah kasus sodomi anak,” ungkapnya. Dari tahun 2007 sampai akhir Maret 2008, lanjutnya, jumlah kasus sodomi anak sendiri sudah naik 50 persen.
Ironisnya, lanjut Seto, para pelakunya adalah orang-orang dekat. “Yang paling banyak adalah guru les. Les musik, les pelajaran sekolah termasuk guru ngaji. Berikutnya adalah supir pribadi, dan terakhir adalah guru sekolah,”
paparnya.
Dengan pendekatan makro, penyebabnya adalah stres para pelaku karena kacaunya sistem nilai yang berkembang dalam masyarakat, serta merosotnya kondisi ekonomi. “Kekacauan sistem nilai sosial menyebabkan kekacauan komunikasi dan perilaku, sedang kekacauan sistem moral menyebabkan kemunafikan serta merosotnya nilai kemanusiaan. Kedua sistem nilai yang kacau ini menyebabkan krisis identitas, pemacu stres di tengah memburuknya kondisi ekonomi riil masyarakat. Jadi saling berkait rumit satu dengan yang lain,” jelas Seto.
Dengan pendekatan mikro, penyebabnya adalah merosotnya perhatian dan waktu orang tua terhadap anak. “Banyak orang tua yang berkilah, yang penting kualitas pertemuan dan perhatian anak, bukan kuantitasnya. Itu tidak benar. Saya menilai, itu cuma pembelaan ego orang tua saja,” tandas Seto.
Menurut dia, dalam sejumlah penelitian yang ia lakukan maupun orang atau lembaga lain lakukan terbukti, karena orang tua semakin tidak punya waktu banyak kepada anak-anaknya, orang tua semakin cenderung menjadi pembicara ketimbang menjadi pendengar. Setiap kali seorang anak bicara, orang tua sudah tujuh kali bicara. Akibatnya, anak lebih dekat dengan orang dewasa lainnya yang dianggap mau menjadi pendengar yang baik.
“Siapa orang-orang dewasa itu? Ya guru privat, ya supir pribadi, ya guru sekolah yang diam-diam memendam banyak persoalan pribadi, lalu stress,” ucap Seto.
Untuk menghindari kasus sodomi anak, Seto mengingatkan orang tua agar mau belajar menjadi pendengar yang baik ketimbang pembicara. “Itu artinya, dibutuhkan lebih banyak waktu. Jangan sekadar bicara lewat telepon, memberi nasihat dan perintah ringkas lalu, klik, tutup telepon,” tandasnya. Dengan lebih banyak mendengar, lanjut Seto, selain anak semakin dekat dengan orang tua, orang tua pun semakin mengenal kesulitan-kesulitan anak mereka termasuk peluang kejahatan yang mengepung anak.
“Secara makro saya mengimbau masyarakat membangun sistem nilai yang lebih terbuka, lebih pasti, lebih punya pijakan kuat, dan mempunyai dasar kemanusiaan yang universal. Sebenarnya bangsa ini sudah memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk membangun sistem nilai seperti itu. Sayang, kini hanya sebatas kulit, atribut, atau jargon saja,” tutur Seto.
            Semoga Bermamfaat, Syukran Jazakumullahu Khairan@

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Realitas Pendidikan Indonesia: Kejahatan Yang Terjadi Pada Anak"