Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Realitas Pendidikan Indonesia: Pendidikan Seks Terhadap Anak



Oleh: Muhammad Akbar
Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Makassar

Akbarusamahbinsaid.@gmail.com

Abstrak
Anak adalah wujud dari kepolosan dunia. Ketidak tauan anak tentang seks sering kali menjadi alasan pelecehan oleh orang dewasa. Anak memandang seks sebagai sesuatu yang tabu atau vulgar. Berdasar fakta kasus semakin meningkat karena anak tidak mendapat pendidikan seks dengan jelas. Pendidikan seks pada anak usia dini mungkin merupakan solusi. Akan tetapi anak mungkin belum bisa menerima secara mental. Tak jarang anak lebih condong ke pikira joroknya dari pada efek yang dia dapat ketika dia mengerti apa itu seks.
Dalam perkembangan bahasapun kata seks malah disalah artikan menjadi hal yang tabu. Anak harus mendapatkan pendidikan seks yang sesuai dengan umurnya. Secara psikologi anak sangat membutuhkan bimbingan orang dewasa untuk mengerti definisi seks secara layak, karena anak masih belum bisa selektif kepada setiap informasi yang didapat. Pengajar maupun orang tua mampu mengikuti langkah proses konsuling ketika menerangkan kepada anak. Ada banyak hal yang harus dihindari ketikan menerangkan kepada anak. Itu dikarenakan anak masih awam dalam hal itu. Keterbukaan orang tua sangat penting demi kemajuan dan keselamatan anak dari gagap seks.
Kata kunci : bimbingan, anak, seks

Pendahuluan
Dewasa ini sering sekali terjadi pelecehan seksual oleh orang dewasa terhadap anak anak. Anak anak lebih menjadi sasaran orang dewasa karena anak anak dianggap sebagai makhluk yang polos. Kepolosan anak ini dimanfaatkan beberapa oknum untuk melakukan tindak asusila terhadap anak dibawah umur. tidak banyak pelaku dari tindak asusila itu adalah kerabat atau bahkan keluarga korban.  Anak memang kurang mengerti dalam hal pendidikan seks. Mereka menganggap segala sesuatu yang berkaitan dengan seks itu adalah menyimpang. Bukan tanpa alasan mereka seperti itu, banyak factor yang mempengaruhi seperti : (1) Keluarga (2) lingkungan masyarakat (3) pendidikan (Syamsul Yusuf, 2009).
Menurut saya factor yang paling berpengaruh dalam masalah ini adalah faktor pendidikan, karena pendidikan adalah hal utama yang membentuk kepribadian seseorang. Pendidikan adalah landasan atau pondasi bagi setiap bangunan kehidupan. Jika pendidikan rapuh, maka kehidupan akan lebih mudah dirobohkan oleh faktor dari luar.
“Kasus kekerasan, utamanya kekerasan seksual pada anak, meningkat pesat tahun 2013 ini. Dari sekitar 30-an kasus tahun 2012, baru pertengahan 2013 sudah meningkat menjadi 535 kasus. Jumlah kekerasan itu, menurut Ketua Komnas Arist Merdeka Sirait, meningkat pesat sejak 2010 yang tercatat ada 42% dari 246 kasus kekerasan pada anak adalah kekerasan seksual, pada 2011 ada 50%dari 259 kasus kekerasan pada anak adalah kekerasan seksual, dan 2012 ada 62% dari 47 kasus kekerasan pada anak adalah kekerasan seksual.” (detik.com, Kamis, 18/07/2013 16:57 WIB)
Sebuah realita yang mengejutkan, mengingat bahwa pendidikan di Negara ini telah mengalami kemajuan. Pendidikan memang dapat menjadi faktor utama kandasnya moralitas bangsa, tetapi itu semua masih sebatas argument semata. Kejadian kejadian diatas merupakan dampak dari kurangnya pendidikan seks sejak dini. Memang pada dasarnya itu adalah hal yang tabu, tetapi sekali lagi itu tergantung dari bagaimana pengajar menyampaikannya.
Sedangkan untuk kekerasan seksual 535 kasus menurut:
·                 Bentuk: sodomi 52 kasus, perkosaan 280 kasus, pencabulan 182 kasus, dan inses 21 kasus.
·                 Modus: obat penenang 15 kasus, diculik lebih dulu 14 kasus, disekap 45 kasus, bujuk rayu dan tipuan: 139 kasus, iming-iming: 131 kasus.
·                 Dampak: meninggal 9 kasus, trauma: 345 kasus. (detik.com, Kamis, 18/07/2013 16:57 WIB).
Dilihat dari modus tersangka, penggunaan cara bujuk rayu dan tipuan adalah yang paling ampuh. Oleh karenanya, perlu adanya sosialisasi dari pihak pengajar agar tidak mudah terkena bujuk rayu pelaku. Sekali lagi pendidikan harus bisa menyampaikan pentingnya seks sedari dini.
Dengan tidak mengertinya nak tentang seks, maka itu akan menyudutkan anak sebagai korban pelecehan seksual. Anak memiliki rasa ingin tahu yang amat tinggi, hal ini sering dimanfaatkan oleh beberapa orang dewasa untuk melakukan pelecahan seksual. Maka dari itu, kita harus melakukan pendidikan seks ketika usia anak dirasa sudah mampu mengerti arti seks secara harfiah. Ini memang bukan merupakan porsi anak, tapi pada kenyataannya anak mutlak memerlukan pendidikan seks sejak dini.
Memang anak pasti mengatakan bahwa hal itu tabu, tapi sebagai orang dewasa kita wajib memperkenalkannya secara terperinci. Pendidikan seks memang telah dicantumkan dalam mapel penjas pada tiap semesternya. Namun, itu sangat kurang bahkan tidak sedikit guru yang tak mengajarkannya. Meraka hanya mengajarkan sebatas penyakit menular seksual. Padahal selain itu masih banyak hal tentang seks yang harus diketahui. Memang sangat terasa janggal ketika seorang guru menerangkan tentang seks kepada anak anak usia sekolah dasar. Lebih dari setengahnya asti akan merasa jijik, dan sisanya akan memikirkan yg bukan bukan. Disini hal yang perlu diperhatikan. Kita harus mengurangi kata kata yang dapat dianggap anak sebagai sesuatu yang tabu atau jorok.
 
Pendidikan Seks
Dalam bahasa, seks memilik arti jenis kelamin. Namun setelah mengalami pergeseran makna, kata seks sering dianggap hubungan intim. Ini adalah salah satu faktor yang dapat mengakibatkan pendidikan seks menjadi sesuatu yang tabu. Banyak orang menganggap bahwa pendidikan seks adalah cara – cara berhubungan intim, tapi kenyataannya pendidikan seks adalah pendidikan tentang kesehatan serta fungsional alat kelamin manusia. Seks merupakan bagian dari pendidikan yang harus ditanamkan sejak dini pada anak.
Pendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi (kespro) atau istilah kerennya sex education sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya pendidikan seks maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan anak anak. Materi pendidikan seks bagi para anak ini terutama ditekankan tentang upaya untuk mengusahakan dan merumuskan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi serta menyediakan informasi yang komprehensif termasuk bagi para anak anak. Berikut adalah tahapan pendidikan seks berdasarkan perkembangan anak.
Pada usia 0-2 tahun anak sudah memiliki kemampuan mengenali kelamin dan membedakan antara pria dan wanita dari karakteristik fisik.
Pada usia 2-5 tahun anak sudah seharusnya memahami konsep reproduksi paling sederhana bahwa jika seorang pria dan wanita bersama, maka mereka dapat “menciptakan” bayi.
Pada usia 6-8 tahun anak sudah sewajarnya memahami bahwa akan terjadi perubahan bada fisik mereka menginjak usia pubertas.
Menginjak usia pubertas yaitu usia 9-12 tahun, anak harus mulai memahami konsep hubungan antar lawan jenis yang baik dan tepat. Mereka harus paham tentang konsekuensi dari tindakan mereka.
Menginjak usia dewasa yaitu usia 13-18 tahun, anak cenderung tertutup perihal perbincangan yang menyangkut seks, namun jika orang tua telah membiasakan pembicaraan ini dari awal, anak akan lebih nyaman dan terbuka. (lihat : http://www.vemale.com 14/10/2013 )
Seks adalah sebuah masalah. Pernyataan tersebut memiliki makna ganda, tapi memang benar adanya. Sekks memanglah sebuah masalah ketika kita tidak dapat memilih atau menyeleksinya. Seks bukan lah sebuah masalah ketika kita melakukan pembahasan tentang kajian seks.
Istilah diatas sangatlah menggambarkan betapa sulit dan rumitnya seks. Akan tetapi seseulit apapun itu, seks dapat disosialisakan sesuai dengan umur dan karakteristik  anak itu sendiri. Kita ambil contohketika anak berusia 2-5 tahun, missal seorang anak bertanya kepada ibunya, maka ibu harus mampu menjelaskan arti darseks secara mendalam menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak tersebut.
Metode pengajaran seks kepada anak meliputi 3 aspek, yaitu pertama, Eliminasi Bahasa, Adalah cara menyampaikan informasi dengan menggunakan kata kata secukupnya. Dalam hal ini, kita harus pandai dalam mengubah kata yang kurang senonoh menjadi kata yang mudah didengar. Ini akan menyebabkan anak lebih mudah menerimanya dan mencernanya dengan pemikiran mereka sendiri. Penggunaan kata seperti “penis” mungkinbisa diganti dengan “burung” karena kata ini lebih mudah dimengerti maknannya oleh anak anak.
Pertama, kita harus mempermudah anak dalam mengerti dan memahami makna dari tiap kata yang berhubungan dengan seks. Tapi yang sering menjadi fatal, pendidik pasti ingin menjadi orang intelek yang mengajarkan seks kepada anak dengan takaran dari anak remaja. Hal itu sangatlah tidak dibenarkan, karena hal itu hanya akan menimbulka rasa penasaran dan dapat mengarahkan ke hal yang tak diinginkan.metode ini hanya akan efektif pada anak usia 5 – 12 tahun karena mereka masih dalam tahap pencarian dan pemahaman. Hal itu bukan merupakan suatu acuan tetap, karena perkembangan pemikiran seorang anak juga dipengaruhi oleh factor lingkungan dan faktor gaya belajar anak dapat mempercepat pemikiran anak.
Kedua, Toleransi dalam seks, kita harus dapat menjadikan seks sebagai sebuah pandangan tentang gaya pendidikan. Yang perlu diubah pertama adalah anggapan dari pendidik bahwa seks itu memang bagian dari pendidikan wajib bagi anak. Pendidikan merupakan awal dari pendidikan yang akan terjadi, jadi pendidik harus mampu enyampaikan kebenaran tentang seks pada anak didiknya. Toleransi seks juga harus mengajarkan tentang saling menghargai perbedaan antara gender. Dalam hal ini, laki laki juga akan mempelajari system seks perrempuan dan begitupun sebaliknya.
Menurut saya cara ini akan menjadi sangat efektif ketika pengajar mampu menyajikan seks dalm bentuk yang menarik. Mungkin guru bisa menggunakan alat peraga guna memperjelas gambarang anak tentang alat kelamin lawan jenis mereka. Cara ini dapat mengurangi rasa penasaran dari peserta didik karena mereka sudah mengetahui bagaimana bentuknya. Toleransi seks juga harus mengajarkan tentang perbedaan adatdan kebudayaan dengan keperluan pendidikan. Contoh sederhana adalah dengan menimbulkan anggapan pada anak bahwa pakaian adat daerah papua itu merupakan warisan berharga bagi bangsa ini dan bukan salah satu bentuk dari penyelewengan seks. Ketika anak mampu melakukan toleransi seks tidak menutup kemungkinan kalo dia akan menganggap seks itu sebagai pendidikan wajib dan bukan suatu hal yang tabu.
Ketiga, Penumbuhan pengetahuan tentang seks, ini adalah apa yang kita bahas sejauh ini. Ketika muncul pertanyaan “bagaimana”, maka akan timbul jawaban “lakukanlah”. Lakukan disini bermakna untuk menyuruh agar mengajarkannya. Pengajar harus lebih dulu belajar tentang seks sebelum mengajarkannya. Ketika pengajar lebih mendalami materi maka peserta didik akan merasa lebih nyaman dan menjadi yakin akan apa yang disampaikan oleh guru. Dengan adanya metode ini maka diharapkan jika pendidikan seks menjadi materi wajib yang harus dikuasai oleh setiap guru di Negara ini.
Pendidikan seks menjadi sangat sacral ketika kita menengok kebelakang dan melihat fakta tentang kejahatan seksual di Indonesia. Rendahnya latar belakang pendidikan seks hanya akan mengakibatkan tingginya angka kejahatan seksual. “Ketika sesorang mendapat ilmu secara kurang mendalam, secara akan secara alami mencari, menggali, atau mungkin mengembangkan sendiri ilmu itu.” ,  seperti halnya anak anak yang masih terdapat dalam masa perkembangan. Berkembangnya anak adalah sesuatu yang sangat krusial, perlu dampingan orang dewasa guna mengarahkan kehal yang positif dan bermanfaat bagi apa yang ia perlukan bagi dia kedepannya. Pendidikan seks sangat bermanfaat bagi masa depannya maka dari itu pendidikan seks menjadi sesuatu yang penting bagi anak anak.
Pendidikan seks menjadi sangat penting sekaligus menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Penting karena dapat menghindarkan dari hal hal yang buruk, dan berbahaya karena dapat menjerumuskan pada hal yang negative seperti seks bebas dan sejenisnya. Kemana arah pendidikan seks sendiri tergantung pada pribadi masing masing dan peran pengajar sebagai pembimbing atau pengahar pada hal hal positif. Meski pendidikan seks merupakan bagian dari mapel penjasorkes, semua guru terutama guru SD mutlak memerlukan ini karena pendidikan seks merupakan dasar dari penyelamatan anak dari peecehan seksual.

Konseling
Menurut C. G. Wrenn, konseling adalah relasi pribadi yang dinamik antara dua orang yang berusaha memecahkan masalah dengan mempertimbangkannya bersama – sama. (Wrenn, 1951:59)
Jadi bisa disimpulkan bawha konseling seks merupakan proses diskusi yang akan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan seks. Anak usia dini membutuhkan ini karena ini akan berguna bagi perkembangan psikologinya ketika memasuki masa remaja. Ketika anak tidak mendapatkan konseling ini, maka anak akan mengeksplorasinya sendiri dengan cara mereka. Bisa dibayangkan, anak akan mencari menggunakan media yang sekiranya dapat menyajikan informasi tentang seks.
Mengingat kondisi anak yang belum bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, anak akan melihat apa yang pertama ia temukan. Bayangkan saja jika anak menemukan sebuah situs yang merupakan situs porno, maka anak akan memperhatikan dan menelaah apa yang ada didalamnya. Kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah anak akan memperaktekan apa yang dia lihat dalam tayangan itu. Anak memang cepat memahami suatu informasi melalui visual lebih cepat daripada melalui audio. Jadi pada dasarnya anak memang harus mendapat bimbingan pendidikan seks yang sesuai dengan umurnya.
Langkah – langkah dalam melakukan konseling yaitu,
(1)Analisis, dalam tahap ini kita harus menemukan suatu rumusan dari masalah itu dan pengumpulan data. Dalm tahap ini akan diketahui asal usul masalah dan harus dengan cepat menentukan hipotesis dalm masalah tersebut.
(2) Sintesis, merupakan langkah merangkum atau mngurutkan data data dari proses Analisis tadi. Data yang dirangkum haruslah mempermudah pemahaman dan bukan mempersulit proses. Langkah ini penting karena merupakan langkah awal dari proses konseling itu sendiri.
(3) Diagnosis, ini merupakan langkah utama. Dalm langkah ini pembahasan akan lebih menjorok pada permasalahan, sebab-akibat, dan hasil analisa. Dalam langkah ini akan kita dapatkan metode yang dapat kita gunakan dalm proses konseling nantinya. Pemilihan metode penyuluhan akan sangat penting mengingat latar belakang psikologis dari tiap orang itu berbeda beda.
(4) Konseling, ini adalah proses dimana kita harus menyampaikan solusi atau arahan yang telah didapatkan lewat proses sebelumnya. Langkah ini merupakan tindakan nyata yang berupa sosialisasi. Konseling dapat dikatakan sukses apa bila sudah tidak ada pertentangan dalam suatu pemikiran.
(5) Tindak Lanjut, ini hanyalah langkah optional yang akan ditempuh oleh pengajar ketika peserta didik belum mengerti mengenai pentingnya pendidikan seks. Mengingat bahwa target pendidikan ini adalah anak SD, maka guru pasti akan melakukan langka ini (Muhammad Surya, 1998).

Psikologi
Pertambahan usia menyebabkan perubahan hormon dan psikologis anak yang berubah, dimana masa anak-anak ke masa remaja, anak-anak yang berada pada masa peralihan cenderung berupaya untuk mencari jati dirinya, memberontak, dan bertindak semaunya. Psikologis anak juga harus diperhatikan, agar sang anak tidak melakukan tindakan yang salah, peran orang tua sangat penting untuk mendekatkan dengan sang anak, agar sang anak lebih terbuka kepada orang tuanya. Dengan demikian orang tua dapat memberikan nasehat kepada sang anak tentang apa yang boleh dilakukan dan yang dilarang untuk dilakukan. Akan tetapi nasehat hanya akan membuat anak merasa terkekang dan menjadi bersikap lebih tertutup kepada orang tua mereka.
Dalam hal ini peran orang tua sebagai pengarah dan pedoman sangat dibutuhkan untuk mendampingi setiaplangkah anak. Yang terpenting bagi orang tua adalah meinimalisir perkataan yang membuat anak merasa tersudut. “Jadi apakah seks perlu didalami anak menurut psikologi anak?” jawabnya iya, karena anak akan terganggu ketika rasa penasarannya tak terjawab. Dan ketika rasa penasaran tak terjawab, anakakan berusaha mencari tau itu karena rasa ingin tau adalah sifat alami anak. Jadi jangan pernah menutupi arti seks kepada anak karena hanya akan menumbuhkan rasa penasaran di pikiran anak.

Simpulan
Dari analisis diatas, dapat kita simpulkan kalau pendidikan seks amat penting bagi anak dalam segi social, psikologi, dan perkembangannya. Pendidikan seks akan menjadi lebih penting ketika kita melihat sisi positif yang akan didapat dengan memperhitungkan sisi negative yang akan didapat. Dan sangat disarankan agar pengajar terutama pengajar SD menguasaindan mampu menyampaikannya kepada anak didiknya.
Tidak ada jaminan kalau kasus pelecehan seksual pada anak akan berkurang, tapi akan lebih baik jika kita mapu mencegah hal tersebut. Anak sudah mulai mengerti tentang seks pada usia 2 tahun. Cara penyampaiannyapun berbeda tergantung kepada siapa dia menyampaikannya. Ada tiga metode yaitu: (1) eliminasi kata (2) toleransi bahasa seks (3) penumbuhan definisi seks sedari dini. Dari segi konseling, dapat menggunakan lima tahapan konseling yaitu: (1) analisis (2) sintesis (3) diagnosis (4) konseling (5) tindakan lanjut.
Oleh karena itu pendidikan seks sangat penting bagi anak. Dengan bantuan dari pengajar, diharapkan peserta didik dapat mengerti definisi seks secara utuh.


Daftar Pustaka
             
Warren R. Johnson, winifred Kempton. SEX EDUCATION AND COUNSELING OF SPECIAL GROUPS. United States of America: Charles C Thomas, 1981.
LN, Syamsul Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, ROSDA, Bandung, 2009
Surya, Muhammad , Dasar – Dasar Penyuluhan, DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, Jakarta, 1988

Referensi Media Masa

Siti Aisyah (2013). “Komnas Anak: Kasus Kekerasan Seksual pada Anak Meningkat Pesat Tahun Ini” diunduh dari (http://news.detik.com/read/2013/07/18/165714/2307281/10/komnas-anak-kasus-kekerasan-seksual-pada-anak-meningkat-pesat-tahun-ini?n992204fksberita) pada 2 november 2013
Anonim. (2013). “Ajak Anak Bicara tentang Seks” diunduh dari (http://www.vemale.com/topik/menyusui/35362-ajak-anak-bicara-tentang-seks.html) pada 3 november 2013

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Realitas Pendidikan Indonesia: Pendidikan Seks Terhadap Anak"