Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Realitas Pendidikan Indonesia: Indonesia Harus Move On



Oleh: Muhammad Akbar
Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Makassar
Akbarusamahbinsaid.@gmail.com

Indonesia memang punya banyak cerita di dalamnya, pahit manis, menggembirakan sampai menyedihkan semuanya tersaji lengkap dengan bumbu-bumbu penyedapnya. Jumlah penduduk Indonesia yang memang tidak sedikit dan kemudahan dalam mendapatkan informasi terkini membuat berbagai fakta dari masyarakat dengan mudah tersebar. Entahlah apa itu sepenuhnya benar atau justru kebalikannya. Yang jelas, Indonesia bukan satu-satunya negara di dunia ini yang tidak punya banyak masalah, karena yang penting adalah bagaimana kita move on dari semua masalah itu, ya kan?.
Menyoroti beberapa isu yang menyeruak di media baru-baru ini, saya merasa ada beberapa hal yang penting untuk digarisbawahi. Agar Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dan bermoral ke depannya, kalau bukan kita yang mencintai negara kita sendiri siapa lagi, karena itu Indonesia move on adalah langkah tepat terbaik yang harus kita lakukan dalam menghadapi berbagai permasalahan-permasalahan berikut ini.
1. Indonesia Move on dari “Pembodohan dan kebodohan”
Kasus jual beli kunci jawaban saat UAN yang semakin marak terjadi baru-baru ini tentu sangat mengejutkan sekali. Hal itu memprihatinkan sekaligus membuat terjadinya pembodohan massal pada anak-anak yang akan mengikuti UAN yang justru bukannya menambah daftar panjang catatan prestasi di dunia melainkan mencoreng habis wajah pendidikan Indonesia.
Baik yang menjual dan yang membeli sama-sama terjatuh dalam unsur pembodohan dan kebodohan. Bagaimana tidak, anak-anak dengan mudahnya dapat membeli kunci jawaban sehingga merasa tidak perlu belajar bersusah payah sekaligus secara tidak sadar mereka telah menjadi korban pembodohan. Bagaimana jadinya generasi penerus bangsa kita jika ini terus dibiarkan. Setiap tahun hal ini terjadi, bahkan ini terjadi hampir di tiap daerah di Indonesia.
Mengerikan sekali, benar-benar memalukan. Terlepas benar atau tidaknya semua kunci jawaban itu, punya niatan untuk menjual dan membeli kunci jawaban saja sudah salah besar. Lah, koq tega membodohi diri sendiri dan orang lain. Yang menjual bukannya beruntung malah merugi dunia akhirat, dan yang menerima bukannya menjadi lebih pintar malah sebaliknya.
SOLUSI:
- Jangan ada lagi anak-anak yang mau menerima, meminta dan membeli kunci jawaban karena prinsipnya adalah supply-demand, dimana ada permintaan disitu ada penawaran. Stop rantai jual beli kunci jawaban UAN!
- Tumbuhkan rasa percaya diri pada anak, bahwa dia mampu menjawab soal-soal UAN dengan belajar dan kerja keras.
- Memberi motivasi khusus pada anak-anak agar mampu menjadi pribadi yang jujur.

2. Indonesia Move on dari “Perusakan Moral melalui Media Televisi”
Setiap saat kita terhubung dengan media, setiap informasi dan berita tersaji dengan paket komplit di media terutama televisi. Dua panca indera kita aktif ketika menonton televisi yaitu: mendengar dan melihat. Otak begitu cepat merekam semua jejak informasi dan gambar yang tampil di televisi. Bahkan, luar biasanya kita tidak cuma bisa melakukan itu saja, dunia imajinasi pun berkembang.
Bayangkan jika yang tersaji di televisi adalah berita yang negatif seperti: pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, pemerkosaan, pelecehan seksual dan masih banyak lagi. Belum lagi iklan di televisi yang sifatnya mengajak dan mengedukasi untuk mencontoh apa saja yang dilakukan figur yang menjadi bintang iklan. Sementara itu, siapapun dengan mudah dapat menerima informasi itu termasuk anak-anak dan remaja. Banyaknya masalah yang ada saat ini bukan tidak mungkin tidak ada pengaruhnya dari televisi. Moral anak bangsa menjadi taruhannya. Masa depan apa yang akan disajikan pada anak-anak kita, ini pertanyaan besar dan pekerjaan rumah yang tidak pernah akan berakhir.
SOLUSI:
- Sebaiknya televisi menyajikan sesuatu yang bermanfaat dan positif karena tayangan buruk akan mempengaruhi perilaku anak ke depannya.
- Komisi penyiaran perlu lebih tegas lagi dalam menyaring semua tayangan dan pemberitaan, kerja keraslah untuk membatasi tontonan yang tidak berbobot, karena anak bangsa yang jadi korbannya.
- Orangtua sebaiknya selalu mendampingi anak-anak ketika menonton agar anak tidak salah persepsi terhadap apa yang ditontonnya.
- Perlu adanya pendampingan, pendidikan, dorongan dan motivasi agar anak-anak mampu memilih mana tayangan yang baik untuknya dan mana yang dapat merugikan masa depannya.

3. Indonesia Move on dari “Penggunaan Internet yang Tidak Cerdas”
Pernah mendengar atau membaca berita bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah pengunduh video porno ke-3 terbesar di dunia? Itulah prestasi yang terburuk yang terjadi setelah internet bebas masuk ke Indonesia. Memang tidak ada salahnya internet ada karena jika dimanfaatkan dan jatuh pada tangan yang bermoral maka sudah pasti tidak akan ada prestasi semacam itu. Kebebasan mengunduh apapun dari internet menjadi hal yang positif sekaligus negatif karena ternyata bukannya mengunduh sesuatu yang bermanfaat dan edukatif justru hal negatif yang lagi-lagi merusak moral anak bangsa. Sulitnya mengawasi anak-anak dan remaja dari pengaruh buruk internet membuat masalah ini menjadi rumit dan tak terselesaikan. Dampak buruknya panjang, bukan hanya otak saja yang rusak tetapi seluruh jiwa dan raga pun ikut rusak.
SOLUSI:
- Indonesia harus berani membatasi diri dari kebebasan mengunduh apapun dari internet, ini demi masa depan bangsa, demi anak-anak calon penerus bangsa ini.
- Daripada sibuk mengunduh dan menggunakan internet untuk hal yang tidak bermanfaat lebih baik gunakan media blog untuk menyuarakan dan mendukung hal-hal positif.
- Orangtua dan keluarga sebaiknya selalu mendampingi dan mengawasi anak ketika menggunakan internet, bila perlu block semua website-website yang bersifat porno atau bahaya bagi perkembangan anak.

4. Indonesia Move on dari “Ketidakpedulian dan Ketidakmautahuan”
Kita patut bersyukur karena masih ada tempat dimana kita bisa memberi dan berbagi dengan siapapun yang membutuhkan di Indonesia ini. Kemiskinan memang menjadi musuh utama yang setiap saat harus kita berantas bersama-sama. Sebuah sumber informasi menyebutkan angka kemiskinan Indonesia pada tahun 2013 adalah 11,37 %, diharapkan pada tahun 2020 hanya sebesar 5%. Tentu saja dibutuhkan aksi nyata. Sebut saja, Dompet dhuafa yang menampung semua pemberian donatur termasuk zakat, infaq dan sedekah tepat sasaran hanya pada saudara-saudara kita yang membutuhkan yang akan disalurkan baik dalam bidang pendidikan, sosial dan kesehatan. Bahkan sekarang disediakan rekening ponsel bisa kirim bantuan atau donasi kapan saja. Hal ini membawa angin segar yang menyejukkan, namun masih harus terus kita tingkatkan bersama-sama.
SOLUSI:
Sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi untuk kita tidak tahu tentang potret kemiskinan di Indonesia. Masalah ini murni ada pada pribadi masing-masing peduli dan mau berbagi. Meski kehidupan selalu punya dua sisi berbanding terbalik kaya-miskin tetapi diam, membiarkan atau menunggu pemerintah bertindak bukanlah hal bijak. Indonesia harus move on dari ketidakpedulian dan ketidakmautahuan karena ini tanggungjawab kita bersama, bukan satu orang. Mulai dari diri sendiri, tingkatkan sensitifitas sosial kita pada sesama dan sekitar, misalnya:
- Bergabung menjadi relawan di organisasi non profit dan membantu secara langsung dalam program-program pengentasan kemiskinan.
- Menjadi donatur pada organisasi atau gerakan yang mendukung program pengentasan kemiskinan.
- Menjadi
blogger inspirator” yaitu agen perubahan melalui media blog, dengan menulis artikel positif yang dapat memberi inspirasi buat semua orang untuk menjadi pribadi yang bermanfaat buat siapapun termasuk dalam bidang sosial, pendidikan dan kesehatan.


5. Indonesia Move on dari “Ketergantungan pada orang lain”
Manusia memang makhkuk sosial tidak bisa lepas dari manusia yang lain. Tetapi bukan berarti justru 100 % tergantung pada orang lain termasuk masalah pekerjaan. Data menunjukkan pengangguran di Indonesia tahun 2013 mencapai 7,39 juta orang. Padahal sebenarnya pengangguran itu bisa diselesaikan dengan peningkatan kewirausahaan. Wirausaha yang memanfaatkan masyarakat sekitar sehingga turut menyejahterakan dan menciptakan lapangan pekerjaan. Disebutkan bahwa pendapatan perkapita Indonesia pada 2013 adalah USD 3650, diharapkan pendapatan perkapita pada 2020 adalah sebesar USD 8000. Dan untuk mewujudkannya tentu perlu usaha yang sungguh-sungguh yang bukan sekedar wacana semata.
SOLUSI:
- Mencetak wirausahawan/i sebanyak-banyaknya harusnya dapat diwujudkan, selama mind set atau pola pikir masyarakat dapat diubah serta didukung dengan perangkat kebijakan pemerintah yang memadai. Indonesia bisa, ini terbukti dari keberhasilan Indonesia terhindar dari dampak buruk krisis ekonomi yang beberapa tahun lalu terjadi di dunia. Bahkan perekonomian Indonesia justru bertumbuh positif padahal negara lain mengalami sebaliknya dan berita baiknya adalah peningkatan jumlah wirausaha atau entrepreneur menjadi faktor keberhasilan Indonesia melewatinya.
- Mendidik dan mengedukasi anak-anak sejak dini untuk berwirausaha dan menjadi young social entrepreneur adalah salah satu cara agar masyarakat Indonesia dapat mandiri.
- Memasukkan kewirausahaan dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah juga mempraktekkannya secara langsung merupakan cara yang dapat ditempuh agar anak-anak semakin akrab dengan kemandirian.
- Mengundang para wisausahawan muda untuk memberikan kuliah singkat di kampus-kampus, juga berbagi pengalaman di sekolah-sekolah menengah bahkan di sekolah dasar atau taman kanak-kanak.
Indonesia bukanlah satu orang, Indonesia terdiri dari ratusan juta jiwa, termasuk anak-anak, dimana masa depan bangsa ada di tangan mereka. Jika hanya memikirkan keuntungan semata dan kepentingan sepihak maka bukan tidak mungkin Indonesia jadi makanan dari bangsa lain yang dengan mudahnya mempengaruhi dan membuat rusak moral anak bangsa. Menjadi mandiri dan sejahtera bersama-sama, Indonesia bisa asal berani move on. Tuntaskan semua masalah yang ada, setidaknya ada upaya meminimalisasi sehingga kita selalu melangkah ke arah yang lebih baik, meski perlahan tapi pasti!


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Realitas Pendidikan Indonesia: Indonesia Harus Move On"