Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Devinisi Filsafat Ilmu



Berbicara mengenai filsafat baru mulai merebak di abad awal 20, namun france bacon dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad 19 dapat dikatakan sebagai peletak dasar filsafat ilmu khasanah bidang filsafat secara umum. Sebagian ahli filsafat berpandangan bahwa perhatian yang besar terhadap peran dan fungsi filsafat ilmu mulai mengedepan tatkala ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dalam hal ini, ada semacam ke khawatiran yang muncul pada kalangan ilmuan dan filsuf, termasuk juga kalanagan agamawan, bahwa kemajuan iptek dapat mengancam eksistensi umat manusia, bahkan alam dan beserta isinya.
Para filsuf terutama melihat ancaman tersebut muncul lantaran pengembangan iptek berjalan terlepas dari asumsi-asumsi dasar filosofisnya seperti landasan ontology, epistemologis dan aksiologis yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. Untuk memahami gerak perkembangan iptek yang sedemikian itulah, maka kehadiran filsafat ilmu sebagai upaya meletakkan kembali peran dan fungsi iptek sesuai dengan tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan concern terhadap kebahagian umat manusia, sangat di perlukan, inilah beberapa pokok bahasan utama dalam pengenalan terhadap filsafat ilmu, disamping objek dan pengertian filsafat ilmu yang kan dijelaskan terlebih dahulu.
Filsafat berasal dari kata Yunani, yaitu Philosophia, kata berangkai dari kata Philein yang berarti mencintai, dan Sophia berarti kebijaksanaan. Philosophia berarti “cinta akan kebijaksanaan” [Inggris; love of wisdom, Belanda; wijsbegeerte, Arab; muhibbu al-hikmah].[1] Orang yang berfilsafat atau orang yang melakukan filsafat disebut “filusuf” atau “filosof”, artinya pencinta kebijaksanaan.
Filsuf Heroklaitos (540-480 SM) sudah memakai kata filsafat untuk menerangkan hanya Tuhan yang mengetahui hikmah dan pemilik hikmah. Manusia harus puas dengan tugasnya di dunia sebagai pencari dan pencinta hikmah.[2] Kemudian Sokrates (470-399 SM) memberi arti filsafat dengan tegas, yaitu pengetahuan sejati, terutama untuk menentang kaum Sofis yang menanamkan dirinya para bijaksana (sofos). Ia bersama pengikutnya menyadari bukan orang yang bijaksana, tetapi hanya mencintai kebijaksanaan dan berusaha mencarinya.
Dalam arti pengetahuan sejati (pengetahuan yang benar), kata Philosophia bertahan mulai Plato sampai Aristoteles, tetapi objeknya meliputi juga ilmu, yaitu usaha untuk mencari sebab yang universal.[3] Pembentukan kata filsafat menjadi kata Indonesia diambil dari kata Barat “fil” dan ”safat” dari kata Arab sehingga terjadilah gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata ”filsafat”.[4]
Kata Sophia dipindahkan oleh orang Arab kedalam bahasa mereka dengan kata hikmah. Hal ini berdasarkan pada QS. Al-Baqarah ; 269 ;
يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُوْلُوا الْأَلْباَبِ. (البقرة : 269)
Artinya ; “Allah menganugerahkan al-Hikamah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang dianugerahi al-Hikmah itu, ia telah benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang yang barakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al-Baqarah ; 269)
Tidak dapat diingkari bahwa “berfilsafat” sebagai manifestasi kegiatan intelektual yang telah meletakkan dasar-dasar paradigmatik bagi tradisi dalam kehidupan masyarakat ilmiah ala Barat yang diawali oleh orang-orang Yunani Kuno di Abad ke-6 SM. Bahwa kelahiran filsafat tidak dirintis oleh dunia Timur sudah ditegaskan oleh Diogenes Laertius di tahun 200. Apa yang datang dari dunia Timur bukanlah filsafat melainkan ajaran-ajaran praksis-terapan seperti ilmu perbintangan, ilmu pengobatan, ilmu hitung dan lain sebagainya.[5]
Penegasan tersebut dapat difahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran. pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, proses, dan produk. Kaidah-kaidah yang melandasinya, sebagaimana dikatakan oleh Robert Merton adalah universalisme, komunisme, dis-interestedness, dan skeptisisme yang terarah dan teratur. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktu atas komponen-komponen, objek sasaran yang hendak diteliti, yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan sistem.[6]
Dalam komponen diatas, dapat diambil sedikit kesimpulan, bahwa ilmu dan pengetahuan sangat erat kaitannya dengan konsep kajian kefilsafatan. Gambarkan dalam skema perkembangan kesadaran keberagamaan yang memfokuskan pada kajian tentang pengetahuan, ilmu dan filsafat. Hal ini penulis ringkas dalam skema berikut[7] ;
Jenis
Definisi
Fakta
Sifat
Cakupan
Analisis
Metode
Tujuan
Pengetahuan
Relasi antara subjek dan objek
subjektif
Empiris




Ilmu
Pengetahuan sistematis, empiris-rasional
Objektif
Empiris-Rasional
Inter-nasional
Factual
kultural
Rekon-struksi partial
Filsafat
Pemikiran radikal universal

Rasional




Skema diatas dapat dicontohkan dalam table dibawah ini ;

Pengetahuan
Ilmu
Filsafat
Agama
Apa itu Hujan?
Titik air yang jatuh dari arah langit Kecamatan Demak bumi setelah hari mendung dan awan menebal
-   Siklus air
-   Hukum alam
-   Ketentuan alam/ peristiwa alam yang serba tetap
Hukum materi/ zat yang merupakan hakikat, awal, dan akhir segala sesuatu (materialisme)
Ketentuan Tuhan (spiritualisme)
Sumber
Indera
Indera dan Akal
Akal dan Hati
Wahyu
Hasil
Pengetahuan Inderawi
Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan Falsafi
Pengetahuan Agamis
Dari paparan diatas, dapat diartikan bahwa korelasi pengetahuan, ilmu dan filsafat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal ini berkesinambungan dengan antara yang satu dengan yang lain, ilmu menggunakan sumber indera dan akal. Sedangkan indera dan akal merupakan salah satu sumber dari pengetahuan dan filsafat.
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat ilmu.[8]
  1. Robert Ackermann: Filsafat ilmu adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan dengan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan.
  2. Lewis White Beck: Filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai  dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
  3. Cornelius Benjamin: filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat ilmui yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.
  4. May Brodbeck: filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafat ilmui, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafat ilmuan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat ilmu pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
  • Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
  • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
  • Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).[9]
Menurut pemahaman kami filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan dari ilmu itu mencakup :
-          Konsep-konsep pangkal
-          Anggapan-anggapan dasar
-          Asas-asas pemulaan
-          Struktur-struktur teoritis
-          Ukuran-ukuran kebenaran ilmiah
Semoga Bermamfaat, Shukran Jazakallah Khairan@
[1] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama. 2002). 1
[2] Clement CJ. Webb, A History Of Philosophy. (London: Oxford University Press, 1949). 7
[3] Taufiq Thawil, Usus al-Falsafah. (Kairo: Dar al-Nahdasah al-Arabiyah, 1979). 45
[4] Harun Nasution, Filsafat Agama. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979). 9
[5] Amin Abdullah, “Kajian Filsafat Ilmu”,
[6] Koento Wibisono S. dkk., Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, (Klaten: Intan Pariwara, 1997). 5
[7] Sholeh, MH, dalam penyampaian Mata Kuliah Filsafat Ilmu, dalam kajian “Kronologis Ilmu Pengetahuan” (Selasa, 27 Oktober 2009)
[8] Abbas Hamami M. 1976. Filsafat (Suatu Pengantar Logika Formal-Filsafat Pengatahuan). Yogyakarta : Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM.
[9] Abbas Hamami M1982. Epistemologi Bagian I Teori Pengetahuan. Diktat. Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM..


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Devinisi Filsafat Ilmu"