Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Semangat Menuntut Ilmu Dan Mendalaminya



Kalimat tauhid adalah dasar agama dan asas segala kesempurnaan. Tanpa tauhid, seluruh amalan akan tertolak. Oleh sebab itu, terutama pada masa permulaan islam, para sahabat Rasulullah lebih banyak bersungguh-sungguh dalam mendakwahkan kalimat tauhid dan sibuk berjihad melawan orang kafir, sehingga mereka belum sempat mencurahkan perhatian khusus terhadap ilmu. Walaupun demikian, semangat, gairah, serta kesungguhan mereka telah menghasilkan inti-inti ilmu Al-Qur’an dan Hadits, yang masih terpelihara walaupun 1400 tahun berlalu. Ini merupakan bukti yang jelas, setelah zaman permulaan Islam berlalu, ketika datang kemudahan bagi mereka, dan jamaah-jamaah yang berdakwah semakin bertambah, maka turunlah ayat yang artinya :
“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS At-Taubah :122)
Abdullah bin Abbas berkata bahwa dalam QS At-Taubah : 39
“ jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” 
Telah diketahui dari ayat diatas, bahwa Allah mengaruniakan kepada para sahabat rasulullah bahwa kesatuan jamaah saat itu sangat penting. Selain itu, ada satu jamaah kecil yang mempelajari seluruh ajaran agama. Pada zaman tabi’in, islam telah tersebar luas dan menjadi sebuah jamaah besar dan merupakan kesatuan yang kokoh. Karena pada diri tabi’in, tidak terdapat kesatuan seperti pada diri sahabat, maka Allah telah menghidupkan orang-orang yang khusus mempelajari bidang agama. Maka muncullah muhadditsin, yaitu jamaah khusus yang menyusun hadits-hadits dan menyebarkannya. Lalu para fuqaha, yakni ahli fikih, ahli sufi, dan ahli Al-Qur’an dan para mujahidin.
Singkatnya, disetiap bidang Allah telah mewujudakan para ahli yang memeliharanya. Hal itu sangat sesuai dan penting pada masa itu. jika tidak, maka sangat sulit untuk mencapai kemajuan dan kesempurnaan dibidang agama karena sangat sulit bagi seseorang mencapai kesempurnaan dan kemuliaan dalam segala hal. Allah hanya mengaruniakan kesempurnaan tersebut hanya pada Nabi khususnya pada Rasulullah. Dalam kaitan ini, juga terdapat kisah sahabat dan tokoh-tokoh lainnya.

1. Kisah Para Sahabat Rasulullah Ahli Fatwa
Walaupun para sahabat sibuk berjihad demi menegakkan kalimatullah, semangat mereka dalam menuntut ilmu selalu ada. Setiap kali mereka mendapat suatu kebaikan, mereka akan segera menyebarkannya. Demikianlah kesibukan mereka setiap saat. Namun diantara mereka ada jamaah khusus yang berfatwa ketika Rasulullah masih hidup, diantaranya adalah Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Ammar bin Yasir, Salman Al Farisi, Zaid bin Tsabit, Hudzaifah, Abu Musa, Adu Darda’ radhiyallahu anhum. (Talqih)
Faedah : Mereka Telah mencapai kesempurnaan ilmu sehingga diizinkan berfatwa ketika Rasulullah sallahu a’laihi wasallam masih hidup.
2. Kisah Abu Bakar R.a. Membakar Kumpulan Hadits
Aisyah berkata “ayahku, Abu Bakar memiliki catatan berisi 500 hadits yang dikumpulkan. Pada suatu malam, aku melihatnya sangat gelisah dan berbaringmembolak-balikkan badannya. Aku bertanya “apakah engkau sakit, atau ada seuatu hal yang membebanimu pikiranmu ?” namun pada malam itu, ia tetap gelisah dan cemas. Keesokan harinya, ia bertanya padaku, “dimanakah catatan hadits ku yang pernah kuberikan padamu ?” aku pun mengambilnya dan memberikan padanya. Ternyata beliau membakar catatan itu. aku bertanya “mengapa dibakar?” ia menjawab “aku ragu jika ada kekhilafan lalu aku meninggal, sedangkan catatan ini masih ada padaku. Jika sampai ketangan orang lain, lalu mereka menganggapnya muktabar (dipercaya), padahal tidak dan ternyata dalam catatan ini ada kesalahan, tentu itu akan mencelakakanku. (Tadzkiratul Huffadz)
Faedah : Walaupun Abu Bakar r.a memiliki kedalamn dan semangat ilmu yang tinggi sehingga dapat mengumpulkan 500 hadits dalam catatannya, ia membakarnya karena kehati-hatiannya yang sempurna. Hal ini terjadi pula pada sahabat-sahabat yang lain, mereka sangat hati-hati dengan hadits Rasulullah. Oleh karena itu, sebagian besar sahabat rasulullah hanya meriwayatkan sedikit hadits. Ini pula yang menyebabkan mengapa Imam Abu Hunaifah rah.a, sangat sedikit meriwayatkan hadits.
3. Kisah Abdullah bin Abbas R.huma dalam Menuntut Ilmu
Abdullah bin Abbas bercerita “setelah wafat rasulullah, aku berkata kepada seorang Anshar, ‘Nabi telah meninggalkan kita, tetapi sahabat masih banyak yang hidup diantara kita. Mari kita temui mereka untuk bertanya dan menghafalkan kembali urusan agama.” Namun sahabat Anshar tidak bersedia atas ajakan Abdullah bin Abbas.
Lalu Abdullah bin Abbas berkata “dan kebanyakn ilmu yang aku dapatkan adalah darikaum Anshar, dan aku akan menjumpai beberapa orang sahabt dan menanyakannya. Jika ku dengar mereka sedang tidur di rumahnya maka, aku akan menghamparkan kain untuk duduk sambl menunggu di depan rumahnya, sehingga muka ku penuh dengan debu, dan tubuhku sangat kotor. Setelah ia bangun, aku bertanya kepadanya mengenai masalah yang terjadi dan mengenai maksud kedatanganku.” Namun sebagian besar berkata “Engkau adalah keponakan Rasulullah, mengapa engkau menyusahkan diri untuk datang kemari, mengapa engkau tidak memanggilku ?” Jawabku “Aku sedang menuntut ilmu, jadi akulah yang wajib mendatangimu.”
Faedah : Dari cerita diatas, selain dapat diketahui tentang ketawajuhan dan kerendahan hati Ibnu Abbas terhadap gurunya, juga dapat diketahui akan ketinggian semangat serta perhatiannya terhadap ilmu. Apabila ia, mendengar hadits yang tersimpan pada seseorang, ia akan langsung mendatanginya dan mempelajarinya, walaupun harus berusaha keras dan bersusah payah. Tanpa usaha dan susah payah, sesuatu yang sepele tidak akan didapat, apalagi ilmu yang tidak ternilai harganya.
                Barang siapa mencari derajat ketinggian
                   Hendaklah ia berjaga pada waktu malam..
            Semoga Bermamfaat, Shukran Jazakallah Khairan@

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Semangat Menuntut Ilmu Dan Mendalaminya"