Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Penggunaan Diuretik Sebagai Doping Olahraga (Pendididkan Kepelatihan Olahraga FIK UNM)

Oleh: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis & Guru SMP IT Wahdah Islamiyah, Serta
Alumni Pendididkan Kepelatihan Olahraga
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Makassar)
Diuretik merupakan zat yang meningkatkan produksi urine oleh ginjal (misalnya, kafein dalam teh, kopi, “kola”, dan minuman lain). Kafein digolongkan sebagai stimulan, diklaim dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan daya tahan. Efek samping yang sering timbul adalah kecemasan dan gangguan tidur. Efek diuretiknya berpotensi menimbulkan dehidrasi. Dosis yang diperbolehkan tidak lebih dr 12 mcg/ml dalam urin atau 8 cangkir kopi.
Zat-zat terlarang pada kompetisi olahraga, yaitu anabolik agent, hormon dan zat terkait, beta-2 agonist, antagonis dan modulator hormon, diuretik dan masking agent lainnya. Masking merupakan penggunaan zat atau metode spesifik untuk mencegah atau mengelabui badan anti-doping dalam mendeteksi doping. Sebagai contoh penggunaan diuretik sebagai penurun berat badan, melarutkan urin, dan mengaburkan zat-zat lain, serta penggunaan probenesid untuk menghambat pengeluaran urin.
Zat terlarang dalam kompetisi lainnya yaitu stimulan, narkotika, cannabinoid, glucocorticosteroid, alkohol dan beta blocker. Selain golongan narkotika, seperti kokain dan ganja, ada zat lain yang tergolong doping, yaitu anabolik dan turunannya, beta blocker, hormon, bahan dengan aktivitas antiestrogenik, dan diuretik. Komisi medik FIFA juga melarang metode yang memperkaya transfer oksigen darah secara buatan, manipulasi kimia dan fisika, serta penggunaan gen .
Penggunaan deuretika terlalu banyak dapat berakibat pengeluaran garam mineral yang berlebihan. Akibatnya timbul kejang otot, mual, sakit kepala, dan pingsan. Pemakaian yang terlalu sering mungkin akan menyebabkan gangguan ginjal dan jantung. Dapat dikatakan bahwa diuretik bisa digunakan sebagai obat doping dalam olahraga dikarenakan diuretik dalam kadar tertentu dapat digolongkan sebagai stimulan, diklaim dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan daya tahan.  
Diuretik dapat meningkatkan eliminasi cairan dari tubuh sebagai urin. Mereka kadang-kadang disalahgunakan oleh atlet untuk mengurangi berat badan dengan cepat dalam olahraga seperti gulat di mana berat badan klasifikasi yang ketat yang terlibat; diuretik juga telah digunakan secara ilegal untuk mengurangi konsentrasi obat dalam urin sehingga obat-obatan terlarang lain tidak terdeteksi. Penggunaan diuretik dapat mempengaruhi keseimbangan mineral seperti kalium dan natrium dalam tubuh dan dapat menyebabkan, antara lain, di aritmia jantung dan bahkan kematian.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penggunaan Diuretik Sebagai Doping Olahraga (Pendididkan Kepelatihan Olahraga FIK UNM) "