Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Model Persiapan Mengajar



       Persiapan mengajar pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, terutama berkaitan dengan pembentukan kompetensi.
            Dalam mengembangan persiapan mengajar, terlebih dahulu harus menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar. Kemampuan membuat persiapan mengajar merupakan langkah awal yang harus dimiliki guru dan sebagai muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pembelajaran.
            Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang akan dikuasai peserta didik, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap persiapan mengajar sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik.
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan persiapan mengajar, diantaranya :
1.                  Kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas, makin konkrit kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.
2.                  Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
3.                  Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
4.                  Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh serta jelas pencapaiannya.
5.                  Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksakan secara tim (team teaching) atau moving class.
Mulyasa (2003) menyebutkan bahwa guru profesional harus mampu mengembangkan persiapan mengajar yang baik, logis dan sistematis, karena disamping untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran, persiapan mengajar merupakan bentuk dari “profesional accoutability”. Dengan mengutip pemikiran Cythia, E. Mulyasa (2003) mengemukakan bahwa persiapan mengajar akan membantu guru dalam mengorganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran. Sebaliknya, dengan mengutip dari Joseph dan Leonard, dikemukakan bahwa : “teaching without adequate written planning is sloppy and almost always ineffective, because the teacher has not thought out exactly what to do and how to do it.”

A.    Pengertian Persiapan Mengajar
            Kegiatan guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat menuntut kesabaran, ketekunan, kelincahan dan juga keterampilan pengetahuan dan pengalaman. Salah satu tugas guru yang berhubungan erat dengan tugas pokoknya sebagai pengajar adalah membuat persiapan mengajar, yaitu segala sesuatu yang disediakan guru dalam hubungannya dengan kegiatan interaksi belajar mengajar, baik yang dapat diamati maupun yang bersifat abstrak.
Sering didapati guru mengajar tanpa persiapan mengajar yang matang. Hal ini tampak pada penampilannya di depan kelas. Gejala-gejala yang tampak antara lain :
1.      Pembicaraan guru berputar-putar, tidak jelas ujung pangkalnya.
2.      Guru tampak gugup.
3.      Keterangan-keterangan guru sulit dipahami murid.
4.      Akibat gejala 1, 2 dan 3 kelas menjadi kacau, guru sering marah-marah dan tujuan pengajaran tidak dapat dicapai.
            Agar hal-hal seperti itu tidak terjadi, maka supervisor harus membantu guru-guru dalam membuat persiapan mengajar sehingga guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan tujuan tersebut dapat direalisasikan.
B.     Jenis-jenis Persiapan Mengajar
            Seorang guru dalam menjalankan tugasnya terutama tugas mengajar hendaknya bukan hanya sekedar mengajar, tetapi hendaknya sebelum menghadapi murid harus mengadakan persiapan secara mantap.
            Persiapan-persiapan yang seharusnya dipersiapkan guru dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu :
Persiapan lahir
            Persiapan lahir adalah suatu persiapan yang bis dilihat. Persiapan jenis ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a). Persiapan tak tertulis
            Persiapan tak tertulis adalah segala sesuatu diluar persiapan tertulis dalam rangka menyempurnakan persiapan tertulis.
Contoh :
1)     Persiapan alat peraga.
2)     Mencari sumber-sumber pengajaran.
3)     Mempersiapkan alat pelajaran misalnya : kapur / spidol, penghapus, tape recorder dan lain-lain.
            Dalam persiapan alat peraga, maka tugas supervisor adalah :
1)    Menunjukkan darimana alat-alat tersebut dapat diperoleh, dengan meminjam, membeli atau membuat sendiri.
2)     Memberi dorongan kepada guru agar bekerja lebih giat dalam mencari alat-alat tersebut.
3)     Memberi dorongan kepada guru untuk kreatif dalam membuat alat peraga.
4)     Membantu cara-cara memakai alat peraga sehingga benar-benar dapat membantu jalan pelajaran sehingga murid dapat menangkap pelajaran yang diberikan dengan bntuan alat peraga.
b)      Persiapan tertulis
            Persiapan tertulis adalah persiapan-persiapan yang harus dipersiapkan guru dalam bentuk tulisan. Suatu pekerjaan yang hendak kita lakukan harus kita rencanakan terlebih dahulu dengan seksama, supaya pada waktu mengerjakannya segalanya berjalan lancar. Inilah sebabnya seorang guru harus membuat persiapan pelajaran yang hendak diberikan. Persiapan itu harus dibuat tertulis supaya dapat diperiksa dan diperbaiki. Persiapan itu juga bisa sebagai alat control terhadap diri sendiri supaya dapat memperbaiki cara mengajarnya. Waktu menyiapkan persiapan tertulis ini tidak boleh terlalu singkat sebab segalanya harus dipertimbangkan secara seksama mukai dari merumuskan tujuan pengajaran sampai dengan menyiapkan alat evaluasi.
            “Model persiapan tertulis” Sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku sekarang penyampaian materi pelajaran menggunakan system PPSI yaitu system prosedur pengembangan system intruksional. Model intruksional yang banyak digunakan adalah model satuan pelajaran (SP) yang disusun berdasarkan PPSI.
            Dalam rangka pengembangan pengajaran diharapkan guru mampu mengajar dengan baik sehingga tujuan intruksional yang telah direncanakan dapat tercapai dengan baik pula. Salah satu system pencapaian yang efektif dan efisien adalah system penyampaian yang menggunakan model satuan pelajaran. Satuan pelajaran ini merupakan rencana kegiatan belajar megajar dalam usaha membahas suatu satuan bahasan dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan intruksional.

Langkah-langkah pembuatan satuan pelajaran :
1)      Merumuskan tujuan instruksional.
2)      Menentukan materi pelajaran.
3)      Menetukan metodealat dan sumber pelajaran.
4)      Evaluasi.
            Ditingkat SMA sebelum guru membuat satuan pelajaran, langkah langkah awal yang harus dilaksanakan guru sebagai dasar pembuatan satuan pelajaran adalah :
a).  Membuat program semester, formatnya berisi : mata pelajaran, kelas, tahun ajaran, pokok bahasan, sub pokok bahasan, alokasi waktu, bulan dan minggu pelaksanaan.
b). Membuat rancangan global, berisi : identitas, jatah waktu, pokok bahasan, sub pokok bahasan, waktu, metode, langkah-langkah untuk intrakurikuler, dan penilaian.
Persiapan Batin
            Persiapan batin yang dimaksud di sini adalah dengan persiapan mental. Persiapan mental ini penting artinya bagi guru, sebab hal ini sangat berpengaruh terhadap penampilan guru itu pada waktu memberikan pelajaran di depan siswa. Jika persiapan batin baik, maka ia akan memperlihatkan penampilan yang tenang, tidak ragu, dan menunjukkan sifat percaya diri, tidak kaku dan sebagainya. Sebaliknya, jika persiapan batin itu kurang, maka akan berakibat kurang baik dalam memberikan pelajaran di depan siswanya. Jika terjadi hal yang demikian, maka suoervisor harus memberikan bantuannya kepada guru yang mengalami kesulitan dalam persiapan batin. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah :
a) Guru mempunyai kecenderungan mengagumi atau menghargai supervisor sebab ia mempunyai sugestif di dalam pembentukan “The Emotional Adjusment to Teaching”.
b)  Pergaulan supervisor lebih akrab dengan guru disbanding dengan murid.
c)  Guru menyadari bahwa supervisor lebih banyak pengalaman.
            Pembentukan “Emotional Adjusment to Teaching” dapat dilaksanakan terus-menerus, sejak guru tiba di sekolah sampai selanjutnya. Pembentukan “Emotional Adjusment to Teaching” dapat dilaksanakan sebagai berikut :
a)  Tunjukkan suatu sikap bahwa kedatangan guru itu sungguh dinantikan dan diperlukan.
b)  Selalu menghargai pekerjaan guru.
c) Memberikan saran-saran kepada guru atau dorongan positif sehingga guru merasa dihargai.
d)  Jangan sekali-sekali menegur secara langsung pada waktu mengajar, tetapi harus ditunggu sampai waktu istirahat.
e)  Jangan menunjukkan kekurangan guru di depan anak-anak.
f)  Berikanlah pujian dan penghargaan terhadap guru yang berkreasi.
g) Bentuklah hubungan yang akrab, sehingga guru-guru tidak segan-segan untuk mengekspresikan pikirannya.
h) Perlihatkan kepada anak-anak bahwa guru itu sama dengan supervisor, sehingga jangan sampai menimbulkan kesan bahwa guru itu berada di bawah supervisor.
C.    Kesiapan Guru untuk Mengajar dengan Model Desain Pembelajaran
            Kesiapan guru untuk mengajar berkaitan erat dengan cara guru mempersiapkan peserta didik untuk belajar. Kesiapan mengajar ini seperti petani mempersiapkan tanah untuk ditanami benih, jika dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat. Demikian juga dalam mengajar, jika persiapan matang sesuai dengan karakteristik kebutuhan, materi, metode, pendekatan, lingkungan serta kemampuan guru, maka hasinya diasumsikan akan lebih optimal. (Susilana, et al. 2006: 96).
            Oleh sebab itu, guru yang baik untuk saat ini tidak cukup untuk sekedar bersikap hangat dan menyayangi anak-anak, atau sekadar menerapkan praktik-praktik mengajar yang semata-mata didasarkan pada intuisi, preferensi pribadi atau kearifan konvensional (Arend, 2007). Tetapi lebih jauh untuk professional yang dimulai dengan kesiapan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dengan berbagai kemampuan yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Karenanya, Nathaniel Gage, salah seorang peneliti pendiikan terkemuka di USA--sebagaimana dikutip Arend, 2007-mendefinisikan mengajar sebagai sebuah seni instrumental, yaitu mengajar adalah suatu yang berangkat dari “resep”, formula, atau algoritma. Ia membutuhkan improvisasi, spontanitas, penanganan sejumlah pertimbangan tentang bentuk, gaya, kecepatan, ritme, dan ketepatgunaan dengan cara yang begitu kompleks sehingga bahkan computer sekalipun tidak akan mampu melakukannya, seperti halnya mereka tidak mampu menyamai apa yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya yang berusia lima tahun arau apa yang setiap saat diucapkan seorang kekasih kepada orang yang dicintainya.
            Dalam hal kemampuan “kesiapan” guru untuk mengajar menjadi hal yang sangat penting, yaitu meliputi antara lain kemampuan:
a)      Penguasaan bidang keilmuan yang menjadi kewenangannya.
b)      Kemampuan merancang program pembelajaran .
c)      Menyusun desain pembelajaran, terdiri:
  Tujuan                  
  Materi
  Metode
  Media
  Sumber
  Kegiatan Belajar Siswa
  Evaluasi.
            Dalam menyusun model desain pembelajaran seorang guru harus mendasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem, atau teori-teori lain. Joyce & Weil (1980) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Di samping itu model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru dalam persiapan mengajar boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.
            Pada dasarnya, model desain pembelajaran merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-komponen pembelajaran. Adapun beberapa model desain pembelajaran antara lain: Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model Jerold E. Kemp, Model Gerlach and Ely, Model Glaser, Model Bella Banathy, Model Rogers, Model Pembelajaran Kontekstual (CTL), dll.
            Adapun Aspek Desain Pembelajaran sebagaimana yang di tulis Wahono (2006) adalah sebagai berikut:
  Kejelasan tujuan pembelajaran (rumusan, realistis).
  Relevansi tujuan pembelajaran dengan SK/KD/KurikuluM.
  Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran.
  Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran.
  Interaktivitas.
  Pemberian motivasi belajar.
  Kontekstualitas dan aktualitas.
  Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar.
  Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran.
  Kedalaman materi.
  Kemudahan untuk dipahami.
  Sistematis, runut, alur logika jelas.
  Kejelasan uraian, pembahasan, contoh, simulasi, latihan.
  Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran.
  Ketepatan dan ketetapan alat evaluasi.
  Pemberian umpan balik terhadap hasil evaluasi.
            Model-model dan aspek-aspek desain pembelajaran tersebut pada hakekatnya dapat digunakan dan dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh seorang guru. Hal yang terpenting di sini adalah bagaimana seorang guru dapat mengelola dan mengembangkan komponen-komponen pembelajaran itu dalam suatu desain yang terencana dengan memperhatikan kondisi actual dari unsure-unsur penunjang dalam implementasi pembelajaran yang akan dilakukan, misalnya: alokasi waktu yang tersedia, sarana dan prasarana pembelajaran, biaya, dan sebagainya.
            Dalam sistem dan proses pendidikan mana pun, guru tetap memegang peranan penting. Sebagai tenaga pengajar (guru), aktivitas kegiatannya tidak dapat dilepaskan dengan proses pengajaran. Sementara proses belajar mengajar m erupakan suatu proses yang sistematis, yang setiap komponennya menentukan hasil belajar siswa. Sebagai suatu sistem,  belajar itu saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian agar proses pengajaran dapat terlaksana dengan baik, sala satu yang perlu dibenahi adalah perbaikan kualitas tenaga pengajarnya. Dengan perbaikan ini guru peling tidak dapat mengorganisir pengajaran dengan baik.
            persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, terutama berkaitan dengan pembentukan kompetensi. Hal yang terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah bagaimana seorang guru dapat mengelola dan mengembangkan komponen-komponen pembelajaran itu dalam suatu desain yang terencana dengan memperhatikan kondisi actual dari unsure-unsur penunjang dalam implementasi pembelajaran yang akan dilakukan, misalnya: alokasi waktu yang tersedia, sarana dan prasarana pembelajaran, biaya, dan sebagainya.
            Semoga Bermamfaat, Shukran Jazakallah Khairan@

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Model Persiapan Mengajar"