Selamat Datang di Website Resmi Muhammad Akbar bin Zaid “Assalamu Alaikum Warahmtullahi Wabarakatu” Blog ini merupakan blog personal yg dibuat & dikembangkan oleh Muhammad Akbar bin Zaid, Deskripsinya adalah "Referensi Ilmu Agama, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan, Moralitas & Karya" merupakan kesimpulan dari sekian banyak kategori yang ada di dalam blog ini. Bagi pengunjung yang ingin memberikan saran, coretan & kritikan bisa di torehkan pada area komentar atau lewat e-mail ini & bisa juga berteman lewat Facebook. Terimah Kasih Telah Berkunjung – وَالسٌلام عَلَيْكُم

Ilmu Kepelatihan : Dasar-Dasar Pembinaan Kondisi Fisik



A. Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) Dalam Pembinaan Kondisi Fisik
Dalam rangka meningkatkan konstribusi olahraga sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia maka kegiatan olahraga yang dilakukan tidak hanya sekedar memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat agar masyarakat Indonesia memiliki jiwa dan raga yang sehat dan segar jasmani, tetapi lebih dari itu adalah untuk mencapai prestasi yang maksimal dalam kerja maupun olahraga. Prestasi olahraga bila ditinjau dari kepentingannya memberikan dampak positif baik terhadap pribadi, maupun kelompok, bahkan dapat mengharumkan nama bangsa dan negara.
Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, upaya untuk meningkatkan prestasi olahraga perlu pendekatan ilmiah (scientific approach). Kegiatan olahraga sekarang ini, tetapi juga ilmuan. Sehubungan dengan itu, Bompa (1990) memberikan ilustrasi tentang pendekatan dan sintesis dalam beberapa disiplin ilmu untuk mencapai prestasi olahraga, sesuai dengan bagan pada halaman berikut :
Bagan 1 : Ilmu-Ilmu penunjang yang memperkaya bidang ilmu pada teori dan metodologi latihan (Bompa, 1990; 12).
Kualitas latihan tidak tergantung dari satu faktor saja melainkan dari bermacam-macam faktor yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai prestasi. Selain kemampuan, bakat dan motivasi atlit itu sendiri, juga pengetahuan dan kepribadian pelatih, fasilitas dan peralatan, penemuan dari ilmu yang membantu dalam pertandingan (Bompa, 1990).
Latihan olahraga merupakan aktivitas yang sitematis dalam waktu yang lama, ditingkatkan secara progresif dan individual yang mengarah kepada cirri-ciri fungsi fisiologik dan psikologik manusia untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dari hal tersebut terungkap fakta bahwa proses mencapai jenjang prestasi puncak memerlukan waktu yang panjang dan perjuangan yang berat, sesuai dengan tuntunan cabang olahraga yang ditekuni untuk mencapai suatu standar yang telah ditentukan (Astrand dan Rodahl, 1986).
Morehause dan Miller (1971) yang dikutip oleh Bompa (1990) mengemukakan, melalui latihan seseorang mempersiapkan dirinya untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam istilah fisiologisnya, seseorang mengejar tujuan perbaikan system organisme dan fungsinya untuk mengoptimalkan tingkat kesegaran jasmani sehingga berdampak positif terhadap prestasi dan penampilan olahraganya.
Latihan fisik dapat memberikan perubahan pada semua fungsi system tubuh. Perubahan yang terjadi pada saat latihan berlangsung disebut Respons, sedangkan perubahan yang terjadi akibat latihan yang teratur dan terprogram sesuai dengan prinsip-prinsip latihan disebut Adaptasi. Terjadinya perubahan-perubahan fisiologis akibat latihan fisik, berkaitan dengan penggunaan energi oleh otot, bentuk dan metode serta prinsip-prinsip latihan yang dilaksanakan (Brooks dan Fahey, 1985).
Latihan fisik atau olahraga berpengaruh baik terhadap fungsi jantung. Akibat dari latihan, bahwa pada waktu istirahat jumlah denyut nadi dalam 1 menit (denyut nadi) pada orang yang terlatih lebih rendah dari pada yang tidak terlatih. Frekuensi nadi 40 – 60 pada olahragawan adalah suatu hal yang tidak jarang dijumpai Johnson dan Nelson (1986).
Latihan merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kekuatan otot, sedangkan kekuatan otot merupakan modal untuk mempermudah mempelajari teknik, mencegah terjadinya cedera dan dapat mencapai prestasi maksimal. Untuk mengetahui kemajuan suatu latihan fisik Johnson dan Nelson (1986) mengemukakan, perlu dilakukan tes dan pengukuran sebagai suatu parameter kemampuan fisik (parameter fisiologis).
B. Komponen Dasar Kondisi Fisik
Dalam membuat program latihan, seorang pelatih harus mempersiapkan faktor fisik, teknik, taktik dan kejiwaan, karena keempat faktor tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya (Bompa, 1990). Seperti bagan berikut :
Bagan 2 : Piramida Faktor-Faktor Latihan (Bompa, 1990 : 5)
Berdasarkan bagan di atas, kondisi fisik merupakan persiapan dasar yang paling dominan untuk dapat melakukan penampilan fisik secara maksimal. Komponen dasar kondisi fisik ditinjau dari konsep muskular meliputi ; daya tahan (Endurance), kekuatan (strength), daya ledak (power), kecepatan (velocity/speed), kelentukan (flexibility), kelincahan (agility), keseimbangan (balance), dan koordinasi (coordination). Ditinjau dari konsep metabolic terdiri dari aerobik (aerobic power) dan daya anaerobic (anaerobic power) (Bompa, 1977; Astrand dan Rodahl, 1986 ; Ruschall, 1980).
Dari komponen-komponen dasar kondisi fisik tersebut di atas, perlu mendapatkan latihan yang sesuai dengan porsinya, karena komponen tersebut mempunyai perbedaan dalam system enersi, bentuk gerakan, metode latihan, beban latihan dan lain sebagainya yang digunakan pada berbagai kegiatan olahraga (Fox, 1988). Sesuai dengan motto olimpiade modern “Citius-Fortius” (makin cepat-makin tinggi-makin kuat), sangat ditentukan dari kinerja kemampuan kondisi fisik.
C. Pembinaan Kondisi Fisik
Tujuan pembinaan kondisi fisik tergantung dari kondisi maupun keterampilan dari seseorang, seperti untuk pembinaan kesegaran atau kebugaran jasmani seseorang, meningkatkan kemampuan biomotorik yang dominan dibutuhkan terhadap peningkatan prestasi dari cabang olahraga yang digeluti. Dalam menentukan tujuan pembinaan kondisi fisik perlu diperhatikan dasar-dasar latihan antara lain adalah :
1. Untuk meningkatkan perkembangan fisik pada umumnya (multi lateral phsical development).
Kondisi fisik yang baik merupakan dasar utama bagi seseorang baik untuk kebugaran jasmani dan, apalagi bagi atlet untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya. Dari pengembangan komponen kondisi fisik sebagai yang telah dikemukakan, di samping itu diharapkan dalam pertumbuhan tubuh dapat mencapai perkembangan yang serasi.
2. Meningkatkan perkembangan fisik yang khas (specifik physical development) yang dituntut oleh kebutuhan olahraga tersebut. O’Shea (1976) membuat berbagai macam latihan beban untuk cabang olahraga yang memang memerlukan perkembangan otot-otot yang berbeda.
3. Untuk menyempurnakan teknik dari olahraga yang dipilih atau dibina
4. Untuk meningkatkan dan menyempurnakan strategi dan cara belajar teknik. Optimasi taktik dan strategi harus disesuaikan dengan kemampuan individu tersebut.
5. Untuk membentuk kepribadian dan prilaku sebagai sikap olahragawan yaitu sportif tahan terhadap penderitaan.
6. Untuk menjamin kesiapan tim. Dalam olahraga berkelompok maka kesiapan sebagai tim sangat penting. Perlu diciptakan keselarasan dari anggota tersebut dalam persiapan fisik, teknik maupun strategi. Kemanunggalan perlu dipupuk terus menerus, tim harus merupakan suatu unit bukan sebagai individu yang membentuk tim tersebut percaya pada diri sendiri, gotong royong dan lain-lain.
7. Untuk membangun kesehatan. Hal ini dapat dicapai dengan cara yaitu dalam latihan harus sering dilakukan pemeriksaan medik untuk dapat mengkorelasikan antara intensitas latihan dengan kapasitas atlet. Perlu diperhatikan pula pola bekerja atau berlatih dengan keras terhadap regenerasi. Kalau atlet itu cedera atau sakit maka latihan baru dapat dimulai lagi bila individu tersebut telah sembuh. Dalam olahraga ini yang dituju janganlah hanya prestasi saja tetapi juga derajat kesehatan dari atlet tersebut.
8. Untuk menghindari terjadinya cedera. Dengan mempersiapkan kondisi fisik yang baik seperti ; kelentukan, otot-otot, tendon maupun ligament yang kuat maka meskipun seseorang atau atlet sudah mencapai kemampuan atau prestasi yang tinggi kalau kondisi fisiknya tidak terpelihara kemungkinan terjadinya cedera pada waktu pertandingan cukup besar.
9. Untuk meningkatkan pengetahuan seseorang atau atlet mengenai dasar latihan ditinjau dari segi physiologis maupun psychologisnya. Perlu diketahui pula mengenai nutrisi, regenerasi maupun perencanaan. Beolahraga di samping meningkatkan kebugaran dan prestasi, kadang-kadang seorang berolahraga hanya untuk rekreasi saja dan ada juga yang bertujuan untuk meningkatkan pergaulan.
D. Pembinaan Kesegaran Jasmani
Pembinaan kesegaran jasmani merupakan bagian dari pembinaan kondisi fisik. Istilah kesegaran jasmani merupakan terjemahan dari physical fitness. Physical berarti jasmaniah dan fitness berarti kecocokan atau kemampuan (fitness = cocok, layak, patut atau mampu). Jadi physical fitness berarti kemampuan jasmaniah.
Menurut Sutarman (1975) “Kesegaran jasmani adalah suatu aspek, yaitu aspek fisik dari kesegaran yang menyeluruh (total fitness), yang memberikan kesanggupan kepada seseorang untuk menjalankan hidup yang produktif dan dapat menyesuaikan diri pada tiap-tiap pembebanan fisik (physical stress) yang layak”.
Berdasarkan kutipan yang dikemukakan, berarti kesegaran jasmani merupakan cermin dari kemampuan fungsi system-sistem dalam tubuh yang dapat mewujudkan suatu peningkatan kualitas hidup dalam setiap aktifitas fisik. Kesegaran jasmani merupakan kemampuan fisik yang dapat berupa kemampuan aerobik dan anaerobic. Kemampuan fisik tersebut dapat dilatih melalui program latihan. Kemampuan aerobik antara lain dapat diketahui dari kemampuan system kardiorespirasi untuk menyediakan kebutuhan oksigen sampai ke dalam mitokondria, sedangkan kemampuan anaerobic dapat diukur dengan kemampuan ambang anaerobic dan kekuatan kontraksi otot (Fox, 1988).
Kemampuan kerja seseorang yang mempunyai tingkat kebugaran yang tinggi tidak sama dengan orang yang memiliki tingkat kebugaran yang rendah. Pada orang yang memiliki tingkat kebugaran yang tinggi akan mampu bekerja selama 8 jam dengan kemampuan kerja 50 % dari kapasitas aeroik, sedangkan pada orang dengan tingkat kebugaran yang rendah hanya mampu menggunakan 25 % dar kapasitas aerobik. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa kebugaran jasmani yang tinggi dapat menunjang gairah kerja (Sharkey, 1984).
Kesegaran jasmani dan kebugaran juga tidak terlepas dari faktor makanan, karena bahan makanan diperlukan tubuh untuk sumber energi, pembangun sel-sel tubuh, komponen biokatalisator dan metabolisme. Makanan harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kuantitatif maksudnya adalah perbandingan jumlah karbohidrat, lemak dan protein yang dimakan harus disesuaikan dengan dengan aktifitas seseorang. Pada orang yang normal karbohidrat diberikan 55 – 60 %, lemak diberikan 25 – 30 % dari total kalori dan protein dibutuhkan 1 gram/kilogram berat badan, sedangkan pada atlet dapat diberikan 10 – 15 % dari total kalori. Selanjutnya secara kualitatif maksudnya bahan-bahan yang selalu ada dalam makanan (karbihidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air) dan jumlahnya dapat diberikan lebih banyak jika diperlukan (Lamb, 1984).
Ruang lingkup kesegaran jasmani, meliputi :
– Anatomical fitness
– Physiological fitness
– Psychological fitness
Seorang dikatakan mempunyai anatomical fitness untuk melakukan usaha/kegiatan, apabila ia memenuhi persyaratan kelengkapan anggota-anggota yang diperlukan untuk melakukan sesuau kegiatan (memiliki bentuk tubuh yang baik).
Jika seseorang dikatakan mempunyai physiological fitness adalah apabila ia dapat melakukan pekerjaan dengan efisien, tanpa timbul kelelahan yang berarti dan dapat pulih kembali (recovery) dengan cepat kalau timbul kelelahan sebagai akibat kegiatan tersebut. Semua kegiatan memerlukan kegiatan otot, dan daya tahan otot, walaupun tidak sama untuk bermacam-macam kegiatan. Secara singkat physiological fitness ialah kegiatan tubuh untuk berfungsi secara maksimal.
Seseorang dikatakan mempunyai psychological fitness adalah apabila ia memiliki kestabilan emosi, jika ia melakukan suatu kegiatan bila ia mempunyai sifat-sifat mental yang diperlukan, misalnya kemauan yang besar serta memungkinkan mengatasi atau tidak menghiraukan rasa yang tidak menyenangkan dan sebagainya.
Selanjutnya Sadoso (1984) mengemukakan, kesegaran jasmani lebih bertitik berat pada physiological fitness ; yaitu kemampuan tubuh untuk menyesuaikan fungsi alat-alat tubuhnya dalam batas fisiologis terhadap keadaan lingkungan (ketinggian, kelembaban, suhu dan sebagainya). Jika dikatakan hubungan antara kesegaran jasmani dengan pengertian kesehatan secara fisiologis akan saling mengisi, sehingga dapatlah kiranya secara mendasar dikatakan sama. Berdasarkan beberapa pengertian kesegaran jasmani yang dikemukakan dapat diungkapkan kaitan antara kesegaran jasmani dengan kesehatan dan aktivitas fisik sesuai denan gambar pada halam berikut : Gambar 1 : Hubungan antara kesegaran jasmani, kesehatan dan aktivitas fisik (Bouchard, 1990 ; 5).
Dari gambar di atas, dapat dikemukakan beberapa pengertian tentang pengaruh antara kesegaran jasmani dengan kesehatan yang meliputi kesehatan yang baik, tingkat sakit serta tingkat kematian. Untuk mendapatkan kesegaran jasmani yang baik dipengaruhi oleh kerja (aktivitas fisik) serta waktu istirahatnya seseorang. Di samping itu kesegaran jasmani juga dipengaruhi oleh keturunan, gaya hidup, keadaan lingkungan, serta kebiasaan seseorang.
Kesegaran jasmani harus dipandang sesuatu yang berlanjut dan bertingkat, mulai dari tingkat yang sangat rendah sampai ketingkat maksimal.
Kesegaran jasmani yang rendah adalah sanggup melakukan tugas sehari-hari tetapi dengan kesukaran, mengalami kelelahan dan kekurangan energi. Johnson (1977) antara lain mengemukakan bahwa tingkat kesegaran jasmani antara lain seperti ; (i) kemampuan fisik yang tidak efisien (physical inefficiency), (ii) emosi yang tidak stabil, (iii) mudah lelah, dan (iv) tidak sanggup mengatasi tantangan fisik dan emosi. Sedangkan tingkat kesegaran jasmani yang cukup adalah sanggup melakukan tugas sehari-hari tanpa lelah dan mempunyai cadangan energi.
Selanjutnya Cooper dan Brown (1985) mengemukakan, cirri-ciri dari tingkat kesegaran jasmani yang berada di bawah standar adalah :
1). Menguap di meja kerja
2). Perasaan malas dan mengantuk sepanjang hari
3). Cenderung bertingkah marah
4). Merasa lelah dengan kerja fisik yang minimal
5). Terlalu capek untuk melakukan aktivitas senggang
6) Penggugup dan mudah terkejut
7) Sukar rileks
8) Mudah cemas dan sedih
9) Mudah tersinggung
Moeloek (1984 ;3) mengemukakan, unsur-unsur kesegaran jasmani, yaitu :
1). Daya tahan Cardiovascular-respiratory
2). Kekuatan Otot (Muscle strength)
3). Daya otot (muscle explosive power)
4). Kelentukan (flexibility)
5). Kecepatan (speed)
6). Kelincahan (agility)
7). Keseimbangan (balance)
8). Koordinasi (coordination)
9). Ketepatan (accuracy).
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat unsur-unsur kesegaran jasmani meliputi kemampuan dari system jantung dan peredaran darah serta pernafasan. Di samping itu juga kemampuan dari system neoromuskular serta keterampilan gerak dasar. Berarti kesegaran jasmani tidak hanya dipusatkan kepada perkembangan otot yang hebat, menyenangkan karena memancarkan kekuatan yang terselubung di dalamnya tetapi semuanya itu tidaklah mutlak, karena tingkat kesegaran jasmani lebih ditentukan oleh kapasitas metabolic seseorang yang tergantung kepada kemampuannya untuk menyalurkan oksigen ke otot-otot. Sebagaimana telah diketahui bahwa kemampuan tersebut terletak pada efisiensi dari jantung, pernafasan, system peredaran darah dan otot.
Pengukuran tingkat kesegaran jasmani antara lain dapat dilakukan dengan tes 2,4 km atau 12 menit, tes langkah dari Brouha atau tes Harvard (Harvard Step Test) dan lainnya.
E. Persiapan Fisik
Dalam suatu program latihan persiapan fisik untuk mencapai kebugaran dan apalagi prestasi yang penting diketahui adalah :
1. Mempersiapkan fisik pada umumnya (General Physical Preparation = GPP)
Pada umumnya persiapan fisik memerlukan waktu yang lama bila dibandingkan dengan tahap penyempurnaan biomotorik. Lebih tinggi kapasitas kerja seseorang atlet, lebih mudah pula ia menyesuaikan pada peningkatan latihan yang diselenggarakan secara terus menerus. Selanjutnya untuk lebih dapat memahami tuntuna cabang olahraga yang bersangkutan maka perlu dilakukan persiapan fisik khusus.
2. Persiapan Fisik Khusus (Specific Physical Preparation = SPP)
Persiapan fisik khusus didasari oleh persiapan fisik umum. Atlet dituntut untuk mencapai prestasi yang tinggi sehingga dituntut untuk mengembangkan otot-otot maupun enersi yang khusus untuk berolahraga tersebut. Dalam setiap program latihan seharusnya harus ditentukan dulu system enersi predominannya (predominant energy system). Di samping itu, untuk dapat mengerti mengenai “predominant energy system” maka perlu diketahui bagaimana ebenarnya penyediaan enersi di dalam tubuh atau dikenal dengan istilah konsep enersi berlangsung (Energy Continum Concept).
3. Penyempurnaan Kemampuan Biomotor Khusus (Perfection of Specific BiomotorAbilitis).
Tujuan latihan di sini ialah untuk meningkatkan dan menyempurnakan gerakan-gerakan yang khusus serta potensi atlet untuk memenuhi tuntutan dari olahraga yang dipilihnya. Nosseck (1982) berpendapat bahwa akhirnya “sport technique” adalah sangat penting untuk dapat mencapai prestasi.
Pada olahraga yang dituntut untuk kemampuan tinggi maka apabila seorang atlet tekhnik olahraganya kurang sempurna maka diperlukan kompensasi dari kualitas yang lain, umpamanya dengan kekuatan yang lebih besar dari kualitasnya yang lain, umpamanya dengan kekuatan yang lebih besar.
Latihan
1. Jelaskan keterkaitan disiplin ilmu yang menunjang pembinaan kondisi fisik?.
2. Jelaskanlah peranan kondisi fisik dalam pembinaan kesegaran jasmani dan olahraga prestasi?.
3. Jelaskanlah tujuan pembinaan kondisi fisik?.
4. Jelaskanlah persiapan kondisi fisik dalam meningkatkan kemampuan fisik?.
Rangkuman
Pembinaan kondisi fisik dalam menunjang metode dan teori latihan perlu melalui pendekatan secara ilmiah. Komponen kondisi fisik dapat ditinjau dari konsep muscular meliputi ; daya tahan (endurance), kekuatan (strength), daya ledak (power), kecepatan (velocity/speed), kelentukan (flexibility), kelincahan (agility), keseimbangan (balance), dan koordinasi (coordination). Ditinjau dari konsep metabolic terdiri dari aerobik (aerobic power) dan daya anaerobic (anaerobic power).
Tujuan pembinaan kondisi fisik antara lain adalah untuk meningkatkan perkembangan fisik pada umumnya (multi lateral physical development), Meningkatkan perkembangan fisik yang khas (specifik physical development), menyempurnakan tekhnik dari olahraga yang dipilih atau dibina. Untuk meningkatkan dan menyempurnakan strategi dan cara belajar tekhnik. Persiapan fisik berarti mempersiapkan dan menyempurnakan strategi dan cara belajar tekhnik. Persiapan fisik berarti mempersiapkan fisik pada umumnya, persiapan fisik khusus dan penyempurnaan
            Semoga Bermamfaat, Shukran Jazakallah Khairan@

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ilmu Kepelatihan : Dasar-Dasar Pembinaan Kondisi Fisik"